Wabah Kolera Mengganas, Houthi Umumkan Keadaan Darurat

15 Mei 11:09 | Dilihat : 700
Wabah Kolera Mengganas, Houthi Umumkan Keadaan Darurat Direktur International Committee of the Red Cross (ICRC) Dominik Stillhart mengunjungi pasin Kolera di Rumah Sakit Sana'a (Reuter/Al-Arabiya)

Sana'a (SI Online) -- Milisi Houthi di ibu kota Yaman, Sanaa, mengumumkan keadaan darurat pada hari Minggu (14/5) setelah wabah Kolera mengganas,  telah menewaskan puluhan orang, demikian dilansir dari Al-Arabiya.

Kementerian kesehatan Yaman meminta organisasi kemanusiaan dan negara donor  lainnya untuk membantu menangani epidemi ini dan mencegah sebuah "bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Pengumuman tersebut disampaikan beberapa jam setelah laporan sebelumnya menunjukkan bahwa milisi Huthiah mencegah pasien kolera menerima perawatan medis di Rumah Sakit Republik di Sanaa.

Kementerian Kesehatan yang berbicara atas nama pemerintah tidak sah yang dijalankan oleh pasukan Houthi dan mantan Presiden Abdullah Saleh mengatakan pada hari Minggu bahwa rumah sakit tersebut akan berhenti menerima kasus kolera untuk mengobati gerilyawan di garis depan terlebih dahulu,  demikian penjelasan sebuah sumber setelah  dikonfirmasi.

Sebuah wabah kolera di Yaman yang dilanda perang telah menewaskan 115 orang dan menyebabkan 8.500 orang sakit karena rumah sakit berjuang untuk mengatasi masuknya pasien, Komite Internasional Palang Merah mengatakan pada hari Minggu.

"Kami sekarang menghadapi wabah kolera yang serius," kata direktur operasi ICRC Dominik Stillhart dalam sebuah konferensi pers di ibukota Sanaa.

Mengutip angka yang dikumpulkan oleh kementerian kesehatan Yaman, Stillhart mengatakan 115 orang meninggal karena kolera antara 27 April dan Sabtu.

Lebih dari 8.500 kasus penyakit yang ditularkan melalui air dilaporkan pada periode yang sama di 14 gubernur di seluruh Yaman, kata Stillhart, dari 2.300 kasus di 10 gubernur pekan lalu.

"Sistem kesehatan, yang sangat terdegradasi oleh lebih dari dua tahun perang yang juga membuat jutaan orang mengungsi, tidak dapat mengatasinya," kata seperti dikutip Reuters dari kantor berita negara, Saba, Senin (15/5/2017).

Yaman terjebak dalam konflik antara pemberontak Houthi, selaras dengan Iran, dan sebuah koalisi yang didukung oleh Barat, yang dipimpin oleh Arab Saudi. Lebih dari 10.000 orang terbunuh, kebanyakan akibat serangan udara yang hampir setiap hari terjadi sejak pertempuran dimulai.

"Hanya beberapa fasilitas medis yang masih berfungsi dan dua pertiga penduduknya tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman," kata PBB. Sebuah epidemi akhir tahun lalu telah berakhir namun wabah kolera menjadi lebih sering.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Penyakit diare telah menewaskan 51 orang sejak 27 April, dan 2.752 orang menjadi suspect kasus. Lima puluh delapan kasus lagi telah dikonfirmasi.

Data WHO menunjukkan Sanaa adalah lokasi terparah dari wabah tersebut, diikuti oleh Provinsi Amanat al-Semah. Kasus juga telah dilaporkan di kota-kota besar lainnya termasuk Hodeidah, Taiz dan Aden.

WHO mengatakan bahwa 7,6 juta orang tinggal di wilayah yang berisiko tinggi tertular kolera.

"Sekitar 17 juta dari 26 juta orang di Yaman kekurangan makanan dan setidaknya tiga juta anak-anak yang kekurangan gizi berada dalam bahaya berat", kata PBB.

red : msa/dbs

0 Komentar