Hasut Perpecahan Muslim dan Buddha, Dua Biksu Ditangkap

14 Mei 13:29 | Dilihat : 1826
Hasut Perpecahan Muslim dan Buddha, Dua Biksu Ditangkap Biksu Radikal Myanmar Anti Islam (Apik Blog)

Yangoon (SI Online)  – Kepolisian Myanmar pada Sabtu (13/5) telah menahan dua orang biksu Buddha garis keras dan tengah mencari beberapa lainnya setelah mereka terlibat bentrokan dengan warga Muslim Myanmar.

Bentrokan tersebut berlangsung Selasa 9 Mei lalu semakin meningkatkan kekhawatiran pemerintah Myanmar terhadap potensi perpecahan yang disebabkan ketegangan antar agama.

"Kami telah menangkap dua orang sejak kemarin malam dan masih mencari sisanya," kata Mayor Polisi Khin Maung Oo, yang memimpin kantor polisi di distrik Mingalar Taung Nyunt di Yangon, di mana bentrokan terjadi, seperti dilaporkan laman Aljazeera, Sabtu (13/5).

Bentrokan pada Selasa lalu terjadi setelah sekelompok orang yang bernaung di bawah perkumpulan Persaudaraan Patriotik (PMU) menggerebek sebuah apartemen di distrik Yangon, yang notabene dihuni oleh populasi Muslim yang cukup besar. Mereka menuduh Muslim yang tingal di bangunan tersebut ilegal. Penggerebekan tersebut segera memicu bentrokan dan membuat personel kepolisian setempat harus melepaskan tembakan ke udara agar massa membubarkan diri.

Pascakejadian tersebut, pengadilan di Yangon mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap tujuh orang, termasuk dua biksu di dalamnya. Kedua biksu ditangkap karena dituduh menghasut kekerasan komunal dan berpotensi diganjar dengan hukuman dua tahun penjara.

Penangkapan dua orang biksu tersebut dinilai sebagai langkah signifikan yang diambil pemerintahan Myanmar di bawah Aung San Suu Kyi. Sebab sebelumnya, pemerintah Myanmar menyatakan akan menempuh upaya-upaya dan langkah sementara untuk melawan kelompok nasionalis garis keras.

Ketegangan dan friksi antara umat Buddha dan minoritas Muslim Myanmar telah terjadi beberapa tahun terakhir. Pertikaian antara keduanya bermula pada 2012-2013 lalu, tepatnya saat permulaan transisi demokrasi di Myanmar.

Kondisi semakin meruncing ketika gerilyawan Muslim Rohingya melakukan penyerangan di negara bagian Rakhine. Hal tersebut memantik serangan militer besar-besaran yang menyebabkan sekitar 75 ribu Muslim Rohingya harus mengungsi ke negara tetangga, yakni Bangladesh.

Brigadir Jenderal Mya Win, komandan komando keamanan polisi Yangon mengatakan saat ini ia mengerahkan pasukan ekstra agar bersiaga dan mampu mengantisipasi terjadinya bentrokan kembali. “Kami berpatroli di sekitar wilayah Muslim dan telah melakukan tindakan pengamanan di sekitar tempat ibadah,” ujarnya.

Pada 28 April lalu, kelompok PMU juga hampir memicu terjadinya kerusuhan setelah menutup dua sekolah Muslim di Myanmar. Namun hal itu dibiarkan terjadi. "Kami tidak ingin ada konfrontasi dengan (kelompok) nasionalis sehingga kami membiarkan mereka menutup sekolah kami," kata Tin Shwe, kepala sekolah Muslim yang ditutup oleh PMU.

Red : msa/rol

0 Komentar