Laporan ESCWA tentang Tindakan Apartheid Israel Ditarik, Ini Kata Palestina

19 Maret 17:34 | Dilihat : 477
Laporan ESCWA tentang Tindakan Apartheid Israel Ditarik, Ini Kata Palestina Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi.

Ramallah (SI Online) - Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi mengaku kecewa dengan sikap PBB yang menarik laporan tindakan apartheid Israel. Ashrawi mengatakan, PBB harus mengembangkan laporan itu menjadi tindakan nyata, bukan menariknya. 

"Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Barat (ESCWA) dalam laporannya yang menyimpulkan Israel bersalah atas kebijakan dan praktek yang merupakan kejahatan yang didefinisikan sebagai apartheid dalam instrumen hukum internasional," kata Ashrawi.

"Daripada menyerah pada pemerasan politik atau membiarkan dirinya dikecam atau diintimidasi oleh pihak eksternal, PBB harus mengutuk tindakan yang dijelaskan dalam laporan dan membuat Israel bertanggung jawab atas tindakannya," sambungnya, seperti dilansir MEMO pada Ahad (19/3).

Dia kemudian mengatakan,  laporan tersebut merupakan langkah ke arah yang benar, dan merupakan gambaran yang tepat dari apa yang terjadi di lapangan, yang merupakan tindakan apartheid, upaya pembersihan etnis dan pendudukan militer.

Ashrawi meminta Sekretaris Jenderal PBB António Guterres untuk melakukan apa yang benar, mengembalikan laporan ESCWA dan mengambil langkah-langkah serius dan konkret untuk membuat Israel bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.

"Kami juga menyampaikan penghargaan yang mendalam untuk Dr. Rima Khalaf yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekretaris Eksekutif ESCWA PBB. Kami akan terus tetap berterima kasih kepada Dr. Rima untuk prinsip dan tindakan berani atas nama rakyat Palestina," tukasnya.

Seperti diketahui, mundurnya Rima disebabkan oleh rasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh PBB, khususnya oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gueteres terhadap munculnya laporan itu.  

red: farah abdillah
sumber: sindonews.com

0 Komentar