Partai Anti-Islam Pimpinan Wilders Kalah dalam Pemilu Belanda

16 Maret 13:21 | Dilihat : 2426
Partai Anti-Islam Pimpinan Wilders Kalah dalam Pemilu Belanda Pimpinan PVV Belanda, Geert Wilders. [foto: bnr.nl/]

Amsterdam (SI Online) - Politisi anti-Islam Belanda dari Partai Kebebasan (PVV), Geert Wilders, dikalahkan kubu Perdana Menteri Mark Rutte dari Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) dalam pemilu parlemen Belanda. Wilders yang mengakui kekalahannya bersumpah menjadi oposisi pemerintah.

Pemilu Belanda digelar hari Rabu waktu setempat dan hasilnya telah diketahui pada Kamis (16/3/2017). Partai VVD merebut 31 dari total 150 kursi parlemen.

Hasil awal mengukuhkan exit polls, yang menunjukkan PM Mark Rutte dengan partai kanan tengahnya, VVD, akan memenangkan 31 dari 150 kursi.

Tiga partai diproyeksikan sama-sama meraup 19 kursi: Partai Kebebasan (PVV) yang anti imigrasi pimpinan Wilders, Partai Kristen Demokrat dan D66.

Padahal sebelumnya, partai pimpinan Wilders unggul jauh dalam jajak pendapat, namun dukungan untuk mereka memudar dalam beberapa hari terakhir.

"Hari ini adalah pesta demokrasi," kata PM Rutte. "Rakyat Belanda telah mengatakan tidak untuk populisme yang salah," tambahnya merujuk pada partai populis PVV Geert Wilders.

Partai VVD pimpinan PM Rutte telah kehilangan beberapa kursi sejak pemilu terakhir, dan dalam Pemilu ini mereka awalnya diperkirakan akan makin terpuruk akibat dukungan beralih kepada Partai Kebebasan Geert Wilders. Namun hasil awal ternyata menunjukkan sebaliknya.

Sementara itu, Wilders yang sejak awal bersumpah akan melarang pembangunan masjid dan Alquran telah mengucapkan selamat kepada PM Rutte. Dia berjanji bahwa partainya akan menjadi oposisi yang tegas di parlemen.

”Saya lebih suka menjadi partai terbesar,” katanya kepada wartawan di luar kantornya di parlemen, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/3/2017). ”(Tapi) kami telah memperoleh kursi. Itu hasil yang bisa dibanggakan,” lanjut Wilders yang berambisi menggantikan Rutte sebagai PM Belanda.

Meski menjadi oposisi atau kubu di luar pemerintahan, Wilders mengklaim partainya menjadi partai politik Belanda yang besar.

Wilders mengaku tidak mengerti dengan komentar PM Rutte yang menyebut para pemilih Belanda tidak menggunakan suaranya untuk memilih tokoh “populis yang salah”.

”Saya tidak tahu apa yang dia maksud. Dia menyiratkan ada (tokoh) populis baik dan buruk. Saya tidak melihat diri saya sebagai populis, tapi dia menganggap saya seorang populis yang buruk dan beberapa jenis (seperti) Nazi,” katanya. 

red: abu faza
sumber: Sindonews.com/BBC Indonesia

0 Komentar