Fenomena Jokowi : Ketidakmampuannya Mulai Terbongkar

Minggu, 24 November 2013 - 15:43 WIB | Dilihat : 101940
Fenomena Jokowi : Ketidakmampuannya Mulai Terbongkar Joko Widodo (foto: bloomberg)

HM Aru Syeif Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Baru dua bulan yang silam, Agustus 2013, menyusul dilansirnya survei oleh Harian Kompas dan  sejumlah lembaga survei, nama Joko Widodo mencuat menduduki pilihan tertinggi dan dipastikan tak terbendung akan terpilih sebagai presiden pada Pilpres 2014. Puja-puji terhadap Jokowi pun makin tumpah ruah di media massa, bagai Jokowi tanpa cacat-cela. Bahkan bagi pengkritiknya, jika berani melontarkan kecaman akan berakibat bagai kepala  dibenturkan sendiri ke tembok, yang berakibat celaka.

Adalah Amien Rais, mantan Ketua MPR-RI yang melontarkan kritik jika Jokowi maju mencalonkan diri sebagai presiden hanya bermodalkan popularitas, tentu tidak bisa, nanti akan terjadi seperti yang dialami Presiden Filipina, Estrada yang hanya bermodalkan sebagai popularitas selebriti, ia terpilih menjadi presiden Philipina dan jatuh hanya dalam waktu 9 bulan saja. Amien dengan kritiknya itu “dihajar” ramai-ramai oleh pers nasional .

Inilah yang kemudian diyakini siapa saja yang berniat mengkritik Jokowi, niscaya bagai membenturkan kepala ke tembok dan akan mengalami celaka. Pendapat seperti ini yang mengentalkan opini bahwa Jokowi memang hebat dalam segala hal. Karena itu disimpulkan rakyat Indonesia bagai tidak sabar menunggu agar Jokowi segera menduduki kursi Presiden. Dan puja-puji kepada Jokowi pun makin santer “didendangkan” politisi Liberal, dan disebarluaskan oleh semua media nasional. Fenomena Jokowi seperti ini dipastikan sangat menyesatkan.

Puja-puji kepada Jokowi memang sangat berlebihan. Jokowi disebut-sebut bagai Nelson Mandelanya Indonesia. Di tengah karut-marut Indonesia hari ini, bagai dipastikan bisa diselesaikan Jokowi jika ia terpilih sebagai presiden RI 2014 mendatang. Setahun menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Jokowi dan wakilnya Ahok dipuji-puji  semua programnya dan diekspose media massa sebagai program yang sangat sukses dan telah mengatasi permasalahan ibukota.

Puja-puji ini seraya menyebut sejumlah proyek, misalnya  penggusuran dan pengerukan Waduk Pluit dan Waduk Ria-Rio, pembersihan Kaki Lima di Tanah Abang, Mester Jatinegara dan Pasar Minggu. Pencanangan dimulainya pembangunan MRT, semua ini dijadikan indikasi sukses Jokowi. Bahkan penghentian sementara proyek jalan layang non-tol Casablanka yang sesungguhnya sangat ditunggu-tunggu agar segera diresmikan, kini ditunda Jokowi pun, justru Jokowi dipuji karena dianggap Jokowi sebagai sangat teliti untuk memeriksa proyek tersebut karena dianggap ada penyelewengan/korupsi dan mark-up proyek jalan layang itu.

Pendek kata tidak ada yang bisa disalahkan pada diri Jokowi. Jokowi selalu hebat, selalu benar. Sebaliknya prestasi jeblog Jokowi, semenjak ia menjabat sebagai walikota Solo (dua kali) sampai setahun menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, tidak pernah dimunculkan dalam pemberitaan, bahkan ditutup-tutupi.

Di tengah puja-puji kepada Jokowi ini muncul pula lembaga-lembaga, mulai LSM, ormas, bahkan parpol yang tampil secara Spartan mengagul-agulkan kelebihan dan kehebatan Jokowi secara terbuka. Bagai Jokowi layak didewakan dan disembah. Ironisnya tokoh-tokoh pemuja seperti itu justru dikenal sebagai intelektual muda, seperti Boni Hargen dari UI, Ade Armando yang juga dari UI yang mengklaim bahkan mempertaruhkan lehernya jika Jokowi tidak terpilih sebagai presiden RI 2014 mendatang, ”Potong leher saya kalau Jokowi kalah jika maju saat ini,” kata Ade Armando (Baca Suara Islam 166 hal. 20).

Mengapa Jokowi sangat dipuja begitu serentak. Dalam laporan-laporan tabloid ini beberapa kali diungkapkan di balik penampilan Jokowi ternyata di-back up konglomerat bahkan asing, antara lain James Riady (Group Lippo), bahkan didukung pula mantan Menteri Perdagangan Luhut Panjaitan yang kini dikenal sebagai penguasaha batu bara. Sebelumnya pun telah beredar rumor di balik pendanaan Jokowi juga berdiri  Menteri Perumahan  Dzan Farid, dan sejumlah konglomerat lainnya. Dari sini rupanya asal muasal berbagai rekayasa usaha yang amat  gigih untuk memaksakan Jokowi agar naik menduduki RI 1 pada 2014 mendatang. Tentu di balik rencana ini niscaya ada udang di balik batunya.

Jauh Panggang dari Api


Sayang puja-puji berlebihan kepada Jokowi ini, belakangan terbongkar sebaliknya. Kemampuan dan prestasi Jokowi yang didongkrak habis-habisan dalam proyek pencitraan dan merebut opini masyarakat ini, terlalu berlebihan, dan justru kontra-produktif, ketika terbongkar kenyataan kemampuan dan prestasi Jokowi yang sesungguhnya adalah nihil, jauh panggang dari api. Mulai terbongkar ketidakmampuan Jokowi.

Keraguan masyarakat, khususnya warga ibukota mencuat ketika terbongkar Jokowi melansir berbagai kebijakan strategis dengan sembrono. Hal itu muncul tatkala Jokowi mulai menerapkan kebijakan sterilisasi jalur bus-way mulai 5 November 2013. Bagi penyerobot jalur bus-way tidak ada ampun akan didenda sangat berat. Bagi penyerobot mobil ditetapkan denda Rp 1 juta, dan bagi pengendara sepeda motor didenda Rp 500 ribu. Akibat kebijakan ini ibukota Jakarta menjadi lumpuh total dalam kemacetan, bahkan kemacetan ibukota berlangsung sampai jam 1 dinihari. Kemacetan ini juga diperparah dengan pembuatan sumur-sumur resapan di pinggir-pinggir jalan yang dikerjakan bagai tanpa program yang tepat-guna.

Warga Jakarta pun gempar, Bahkan presiden SBY pun tampil mengkritik kebijakan Jokowi. SBY dalam pidato resmi, meminta agar Jokowi mengatasi masalah kemacetan itu karena sudah menjadi tanggungjawab Pemda DKI. Tapi Jokowi ganti menentang kritik itu dan menyatakan masalah kemacetan Jakarta juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Jadilah polemik SBY versus Jokowi di tengah masyarakat. Jokowi nekat mempertahankan kebijakan sterilisasi bus-way ini, kendati masyarakat sudah mulai mencak-mencak tidak bisa menerima kebijakan yang sepihak dan otoritar serta sok benar ini. Semua warga ibukota hakikatnya setuju sejak awal hadirnya bus-way namun bus-way dibangun dengan memakan jalan yang sudah ada sehingga menyempitkan jalur di sampingnya. Karena itu di berbagai jalur bus-way seperti di Jalan Raya Bogor niscaya tidak dibuat jalur bus-way secara mutlak, karena sempitnya jalan yang ada. Di sini pasti tidak bisa diterapkan sterilisasi bus-way, dan selama ini bus-way dan kendaraan umum lainnya menggunakan jalur bersama-sama. Kini tiba-tiba dengan paksa Jokowi memperlakukan aturan denda yang berat  itu, seolah-olah busway “bermodal” sendiri membuat jalan khusus buat dirinya. Padahal bus-way dibangun dengan memakan jalur atau jalan umum yang kini menjadi sempit karena dipakai bus-way.

Dari kasus bus way ini masyarakat bagai mulai menyadari bahwa kebijakan Jokowi tidak selalu benar, selalu hebat, selalu unggul seperti digambarkan sejak ia menjabat sebagai gubernur DKI. Kini masyarakat pun mulai menyadari gebrakan-gebrakan Jokowi ---seperti melarang topeng monyet---hakikatnya kurang ada kaitannya dengan usaha membenahi ibukota, khususnya mengatasi banjir, dan kemacetan. Kebijakan topeng monyet hanyalah proyek pencitraan. Pers audio visual pun kini mulai kritis dan melihat Jokowi ternyata tidak konsisten membersihkan endapan lumpur di berbagai waduk, padahal hujan besar sudah mulai turun di Jakarta dan kawasan hulu yang niscaya akan berakibat banjir besar di Jakarta. Wartawan TV pun meliput kondisi waduk-waduk di Jakarta yang ternyata tidak disentuh pengerukan lumpurnya, sehingga terbayang akan berakibat banjir pada bulan Januari 2014 seperti Januari 2013 di mana banjir menyerbu Jalan Soedirman-Thamrin Bunderan HI, Istana Negara bahkan kantor Pemda DKI di Medan Merdeka Selatan. Mata warga mulai melek melihat fakta ini.

Jika masyarakat luas mulai fair melihat fakta prestasi Jokowi--yang ternyata nihil-- niscaya Jokowi dianggap bukanlah tokoh seperti digambarkan dalam opini yang memuja-muji berlebihan seperti itu. Bahkan sebaliknya Jokowi hakikatnya tokoh yang sarat kegagalan sebagai pejabat. Ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo Jokowi  gagal dalam proyek pemindahan pedagang kaki lima di Pasar Banjarsari ke Pasar Ngarsopuro, Semanggi. Proyek ini gagal karena para pedagangnya kini kembali lagi ke Banjarsari. Proyek mobil SMK yang menghebohkan itu juga proyek gagal-total bahkan tidak lulus uji kelayakan berkendara.

Jokowi juga mengidap isu kasus korupsi dana pendidikan, penjualan Hotel Mulyawan, 11 kasus korupsi yang dilaporkan tokoh Solo, juga suap bos Sritex. Kini di Jakarta proyek-proyeknya yang digambarkan sebagai mengubah dan mengatasi ibukota mulai terbukti hanya omong kosong, seperti proyek pemindahan pedagang kaki lima di Tanah Abang ke Blok G Pasar Tanah Abang ternyata kini barang dagangannya tidak laku sama sekali.

Tiba saatnya masayarakat melek melihat fenomena Jokowi yang spektakuler, hakikatnya hanya omong kosong, dan sengaja ditiup kalangan tertentu. Misalnya mendorong Jokowi menjadi presiden RI pada 2014, dan konsekuensinya akan menaikkan Ahok, yang warga keturunan Cina menduduki jabatan sebagai gubernur DKI. Jika terjadi, ini pertama kali dalam sejarah Jakarta dipimpin oleh warga keturunan Cina yang minoritas dan selama menjabat sebagai Wakil Gubernur saja, Ahok sudah “mentang-mentang” dan arogan, hendak menggusur masjid seenaknya  sendiri, bahkan menuduh umat Islam sering menyerobot tanah milik pemerintah dengan cara membangun masjid.

Segalanya memang terserah rakyat ibu kota dan rakyat Indonesia pada umumnya. Apakah mereka mau dibohongi dan dibodohi oleh opini penyesatan seperti itu! Wallahu a’lam bissawab.

0 Komentar