Freddy Budiman, Raja Narkoba Indonesia

Sabtu, 05 Oktober 2013 - 06:23 WIB | Dilihat : 26383
Freddy Budiman, Raja Narkoba Indonesia Gembong narkoba Freddy Budiman. (IST)

Amran Nasution

Aneh, Vanny Rossyane yang membongkar hubungannya dengan gembong Narkoba Freddy Budiman, ditangkap Mabes Polri dengan sedikit Narkoba. Siapa menjebaknya?
 

Sudah lama para ahli mengingatkan bahwa Indonesia berada dalam bahaya Narkoba (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif berbahaya lainnya). Nyatanya peredaran bahan yang menyebabkan ketergantungan itu terus saja merebak.

Indonesia kini menjadi negara tujuan Narkoba utama dunia. Setiap hari diperkirakan 50 nyawa melayang karena Narkoba atau karena tertular penyakit mematikan HIV-AIDS, yang menjangkit melalui jarum suntik Narkoba. Diperkirakan setiap tahun Indonesia merugi Rp 50 trilyun, yaitu rupiah yang digunakan untuk membeli Narkoba dari luar negeri dan ongkos perawatan para korbannya di dalam negeri.

Mengapa semua ini terjadi? Terutama karena kelemahan aparatur keamanan kita. Bisnis Narkoba yang berlumuran duit membuat aparat dan para pejabat keamanan kita gampang ‘’diatur’’ oleh para bandar. Cerita di bawah ini akan menunjukkan pada pembaca betapa mengerikan ancaman Narkoba di Indonesia, terutama karena dengan duit semua orang bisa diatur.

Pada 16 September lalu, model Vanny Rossyane, 22 tahun, ditangkap di kamar 917 Hotel Mercure, Jakarta Barat, dengan barang bukti sabu seberat 0,27 gram di atas meja dan 0,58 gram di dalam laci meja. Menurut Windu Wijaya, pengacara Vanny, kamar hotel itu dipesan seorang pria keturunan India bernama Harun yang dikenal Vanny.

"Vanny menemui Harun di hotel itu untuk penyelesaian masalah pribadi," ujar Windu Wijaya kepada wartawan di Direktorat IV Narkotika Mabes Polri, Cawang, Jakarta Timur, 19 September lalu. Vanny tak menjelaskan apa masalah pribadi yang hendak dibahasnya dengan Harun di kamar hotel itu. Vanny hanya menyebut pertama kali berkenalan dengan Harun pertengahan Januari 2013.  "Vanny tak mengetahui alamat pasti Harun tapi dalam BAP dia sebutkan tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan,"  kata pengacara itu. Selain itu dalam pemeriksaan polisi, Vanny menyebut Harun adalah pria berusia sekitar 27 tahun dengan tinggi badan 1,75 meter, berbadan kurus, warna kulit hitam, rambut pendek, dan tak berkaca mata.

"Senin malam, Vanny diajak Harun bertemu di hotel. Vanny datang dengan taksi. Di lobi hotel, Harun menjemput dan membayar taksi tersebut," kata Windu kepada wartawan. Setelah itu Harun mengajak Vanny ke kamar 917. Di sana, menurut Windu, keduanya sempat   ngobrol. Harun kemudian minta izin ke Vanny pergi ke lobi hotel untuk suatu keperluan, meninggalkan Vanny seorang diri di dalam kamar.

 ‘’Beberapa waktu kemudian terjadilah aksi penggerebekan itu," kata pengacara itu. Windu menambahkan, Vanny  mengaku tak tahu tentang paket narkoba seberat 0,27 gram di atas meja dan 0,58 gram di dalam laci meja. Maka dari situ pengacara ini meyakini bahwa Vanny adalah korban dari sebuah perencanaan. "Saya bisa memastikan itu," katanya.

Direktur IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Arman Depari mengaku belum tahu siapa Harun yang disebut-sebut Vanny itu. Pada saat ditangkap Vanny sendirian di dalam kamar. "Silakan nanti dijelaskan dalam pemeriksaan, dijebaknya seperti apa, yang menjebak itu siapa," kata Arman Depari. Polisi bisa pula memeriksa pejabat hotel untuk memperjelas siapa sebenarnya yang memesan kamar hotel itu?

Polisi telah menetapkan Vanny sebagai tersangka. Berdasarkan hasil pemeriksaan tes urine, Vanny positif menggunakan sabu. Barang bukti yang disita berupa narkoba jenis sabu sebanyak dua paket yang ditemukan di kamar itu. Selain itu, polisi juga menyita satu buah alat isap atau bong dari botol air mineral beserta cangklong dan sebungkus korek api.  Sesuai undang-undang tentang narkotika Vanny diancam hukuman pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 12 tahun.

SIAPA VANNY?

Katakanlah keterangan Vanny sulit dipercaya. Tapi dari mengamati peristiwa ini saja sudah begitu banyak pertanyaan yang muncul. Sabu yang ditemukan polisi di kamar hotel (0,27 gram di atas meja, 0,58 gram di laci meja) adalah jumlah yang kecil untuk penggerebekan yang dilakukan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri. Sekali lagi: Ini operasi yang dilakukan Mabes Polri.

Brigadir Jenderal (Pol) Arman Depari harus menjelaskan kepada publik mengapa mereka melakukan operasi untuk barang bukti secuil seperti itu, yang mestinya cukup dilakukan polisi dari Polsek setempat.

Pertanyaan selanjutnya: siapakah Vanny? Dia adalah seorang model yang pernah menjadi pacar gembong Narkoba terbesar Indonesia, Freddy Budiman. Lelaki asal Jawa Timur itu adalah penjahat Narkoba kambuhan. Dia kemudian dimasukkan ke dalam LP Cipinang khusus untuk narapidana Narkoba.

Tapi dari dalam LP Cipinang, pada tahun 2012, Freddy bisa mengimpor 1,4 juta butir ekstasi dari China. Peristiwa ini luar biasa. Soalnya, perencanaan dan pusat operasional penyelundupan ekstasi itu betul-betul diatur oleh Freddy dari dalam LP Cipinang,  dengan melibatkan orang-orang di luar tahanan, termasuk di antaranya seorang anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Sersan Mayor Supriyadi.
 
Dari dalam sel tahanannya Freddy mengendalikan operasional penyelundupan Narkoba itu dengan telepon genggam. Sementara orang-orangnya yang berada di luar penjara, di Jakarta dan Hongkong, melakukan aksi operasional penyelundupan itu. Dan memang penyelundupan 1,4 juta butir ekstasi dari China itu nyaris berhasil.

Untunglah penyelundupan itu tercium BNN (Badan Narkotika Nasional) yang segera menggelar operasi gabungan mulai 15 Mei 2012. Narkoba itu dengan rapi disembunyikan di dalam kontainer yang diparkir di Jakarta International Container Terminal (JICT) atau Terminal Kontainer di kawasan Tanjung Priok. Barang-barang haram itu disembunyikan di salah satu karton di dalam kontainer.
 
Petugas BNN menunggu barang selundupan itu dibawa keluar dari pelabuhan. Ternyata sore harinya kontainer itu dibawa menuju sebuah alamat di Jalan Kayu Besar Dalam, Cengkareng, Jakarta.  Kira-kira lepas Maghrib, kontainer tersebut keluar dari JICT dan memasuki kawasan Kamal, BNN melakukan penggerebekan dan berhasil. Penyelundupan ekstasi dari China ini merupakan kasus terbesar dalam 10 tahun terakhir di Indonesia. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Juli lalu, menjatuhkan hukuman mati kepada Freddy, otak penyelundupan.

Vonis itu masih ditambah hukuman larangan bagi Freddy menggunakan alat komunikasi apa pun selama berada dalam penjara. Petugas telah menyita sekitar 40 handphone yang kerap digunakannya untuk menjalankan bisnis narkoba dari balik jeruji besi. Tapi seperti sama diketahui, terbukti tetap saja Freddy bisa menggunakan telepon genggam dari dalam selnya.

VANNY YANG BIKIN GEGER

Freddy boleh dibilang sudah menjadi bandar narkotika tulen. Berkali-kali terjerat kasus narkoba tak membuatnya jera, bahkan sampai ia divonis mati. Namanya tambah terkenal setelah Juli lalu terungkap kasus bilik asmara di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang. Adalah Vanny Rossyane, yang mengaku pacar Freddy, mengungkap adanya bilik asmara yang sering  ia gunakan bersama Freddy untuk menikmati narkoba dan berhubungan seks. Dari pengakuan Vanny ini tak aneh kalau di dalam urinenya ada Narkoba.

Pada mulanya Kalapas Cipinang Thurman Hutapea terus-menerus membantah keterangan Vanny. Ia tampil di acara televisi untuk meyakinkan publik. Tapi masyarakat tampaknya lebih mempercayai keterangan Vanny. Apalagi Kementerian Kehakiman yang turun tangan kemudian mencopot Thurman Hutapea dari jabatannya.

Dari penyelidikan yang dilakukan Kementerian Hukum dan HAM Freddy Budiman diketahui menyewa ruangan Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta, Abner Jolando, seharga Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000 per penggunaan. Ruangan itulah yang dipakainya untuk memadu kasih dan menikmati Narkoba bersama Vanny Rossyane. Dia juga dikabarkan menerima foto model Anggita Sari (21 tahun) di ruangan itu.

Tapi Anggita Sari membantah pernah berhubungan badan dengan Freddy di ruangan itu sebagaimana diakui Vanny. Anggita yang kabarnya akan menikah siri dengan Freddy konon membuat dongkol Vanny, dan menyebabkan wanita ini nekad membongkar rahasianya bersama gembong penyelundup Narkoba itu.

"Dia menggunakan ruang kerja Kepala Seksi Kegiatan sebagai tempat menerima kunjungan teman, keluarga, dan kerabatnya, dengan membayar," ujar Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin di Jakarta 15 Agustus lalu, ketika mengumumkan hasil penyelidikan yang dilakukan Kementeriannya atas kasus yang memalukan ini.

Kasus ini juga melibatkan Kepala Sub Bimbingan Kerja Lapas Cipinang, Irwan Syahputra. Narapidana lain yang punya duit pun ternyata bisa mendapat fasilitas ruangan khusus seperti yang dinikmati Freddy. Termasuk yang bisa disewa adalah ruang kerja Kepala Seksi Administrasi Kamtib Bambang Mardi Susilo.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhuk dan HAM), Kepala Lapas Narkoba Cipinang Thurman Hutapea terbukti mengetahui terjadinya penyalahgunaan ruang kerja Lapas.

Dia pernah diberitahu oleh mantan Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Fajar Nur Cahyono dan KPLP baru, Sohibur Rachman tentang penyewaan ruang pejabat Lapas itu. Sebagai Kalapas, Thurman tak melakukan tindak pencegahan dan penertiban sehingga penyalahgunaan ruang kerja pejabat Lapas itu berlangsung aman. "Thurman, Abner, Irwan, dan Bambang, segera diproses hukuman disiplin sesuai PP Nomor 53 Tahun 2010," ujar Menteri Amir Syamsuddin.

Atas kasus "bilik asmara" itu, Freddy Budiman dikenakan hukuman disiplin isolasi di Lapas Nusakambangan, Cilacap. Artinya, dia dipindahkan ke Nusa Kambangan. Selain kasus itu, Itjen Kemenhuk dan HAM mengungkapkan keterlibatan Freddy pada "pabrik sabu" di dalam Lapas Cipinang.

Lantas bagaimana dengan penangkapan Vanny oleh Mabes Polsi? Dari cerita di atas jelas yang marah atas tindakan Vanny membongkar penyewaan kamar di LP Cipinang tentulah para pejabat LP Cipinang, selain Freddy Budiman sendiri.

Kalau itu betul artinya, merekalah yang berkepentingan untuk memberi ‘’pelajaran’’ kepada Vanny Rossyane melalui aksi penangkapan oleh Mabes Polri itu. Ada lagi informasi yang perlu diketahui pembaca: Freddy Budiman yang mestinya berada di LP Nusa Kambangan ternyata kini berada di rumah tahanan Mabes Polri. Ada apa? Kabarnya ia diperiksa untuk sebuah kasus Narkoba. Tak jelas adakah hubungan penggerebekan Vanny oleh Mabes Polri dengan kedatangan Freddy ke Mabes Polri.

0 Komentar