Ustaz Zulkifli dan Perang Akhir Zaman

28 Januari 21:11 | Dilihat : 1273
Ustaz Zulkifli dan Perang Akhir Zaman Pengajian bertema Perang Akhir Zaman di Aula Masjid Al Furqan, DDII, Jakarta, Jumat 19 Januari 2018.

Shodiq Ramadhan
Redpel Suara Islam Online

Jumat, 19 Januari 2018 ba’da shalat Jumat, Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) menggelar pengajian umum bertema “Perang Akhir Zaman”. Ustaz yang dihadirkan adalah seorang ustaz “spesialis akhir zaman” yang didatangkan dari Payakumbuh, Sumatera Barat, Ustaz Zulkifli Muhammad Ali, Lc. Kebetulan, acara ini didukung oleh Forum Jurnalis Muslim (Forjim), sehingga saya sebagai salah satu pengurus Forjim, diminta oleh panitia untuk memoderatori pengajian tersebut. 

H-2 sebelum pengajian, beredar di media sosial surat panggilan dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri kepada Ustaz Zulkifli sebagai tersangka dalam kasus penyebaran ujaran kebencian. Dalam surat tersebut disebutkan, Ustaz Zul diminta untuk menghadap penyidik Dittipidsiber di Jakarta pada Kamis, 18 Januari 2018 pukul 09.00 pagi. Agak ketar-ketir, karena ternyata pemeriksaan terhadap Ustaz Zul diundur menjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Namun pada Kamis sore hari, panitia memastikan Ustaz Zul akan menghadiri pengajian di Aula Masjid Al Furqan, DDII, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Itu artinya Ustaz Zul tidak ditahan. Alhamdulillah.

Penetapan Ustaz Zulkifli sebagai tersangka, yang dilaporkan karena video ceramahnya yang tersebar di YouTube, sungguh menggemparkan umat Islam, terutama mereka yang aktif di media sosial. Tak sedikit yang menyimpulkan, Ustaz Zul sedang dikriminalisasi sebagaimana tokoh-tokoh Islam sebelumnya seperti Habib Rizieq, Ustaz Al Khaththath, Alfian Tanjung, dan lainnya. Bahkan, setelah Ustaz Zul, beredar lagi di medsos surat panggilan kepada Ustaz Fathuddin Ja’far oleh Polresta Depok dan juga panggilan kepada Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahniel Anzar Simanjuntak sebagai saksi dalam kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, penyidik KPK, oleh Polda Metro Jaya. 

Mengenai topik akhir zaman, jika kita menonton pengajian-pengajian Ustaz Zul yang disebarkan melalui YouTube, beliau hanyalah menyampaikan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits yang cukup panjang itu berisi tentang fase-fase kehidupan umat Islam. Fase pertama adalah masa kenabian (nubuwwah), fase kedua khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, fase ketiga masa kerajaan yang menggigit (mulkan 'adhan), fase keempat masa kediktaktoran (mulkan jabariyyan) dan fase kelima masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. 

Dan bicara tentang perang akhir zaman, adalah bicara pada fase kehidupan umat Islam keempat yang diyakini telah dimulai sejak runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani pada 1924 silam. Menyimak pengajian Ustaz Zul, beragam fitnah dan pemicu terjadinya perang akhir zaman yang terjadi pada masa sekarang ini. Beliau menyebut, start-nya sejak meletusnya Arab Spring yang dimulai dari Tunisia akhir Desember 2010 lalu.

Sensitifnya pengajian Ustaz Zul, bicara tentang perang akhir zaman, harus bicara pula terkait dengan konstelasi politik dan keamanan, baik yang terjadi di Timur Tengah, terutama wilayah Syam, dan juga kondisi umat Islam di Indonesia. Bicara tentang akhir zaman mau tidak mau juga harus bicara tentang khilafah, istilah yang belakangan ini makin populer di kalangan umat tetapi sangat ditakuti oleh rezim berkuasa. 

Di dalam negeri, pada fase akhir zaman ini juga nampak fitnah dilontarkan terus menerus kepada umat Islam dan tokoh-tokohnya. Akhir-akhir ini terasa benar, kebenaran dianggap sebagai kesalahan dan kesalahan dianggap sebagai kebenaran. Ulama dihina dina dan dicaci maki, umat Islam dituduh anti-Pancasila dan anti-NKRI, sementara para pelaku dan pendukung LGBT, pendukung pelaku penistaan agama, pengasong liberalisme dan komunisme mengklaim dirinya sebagai Pancasilais sejati dan pecinta NKRI. Semua serba terbalik dan ahistoris. 

Isu-isu ini belakangan juga berkelindan dengan soal politik dan ekonomi. Sebab, pasca Aksi 212, kebangkitan umat Islam dan ukhuwah Islamiyyah demikian terasa kuat. Kondisi inilah sepertinya yang tidak diinginkan oleh segelintir oknum, aseng dan asong di negeri ini. Mereka maunya umat Islam terus berpecah belah dan bertengkar. Sehingga kekuatan umat Islam yang sangat besar ini tidak bisa menyatu. Jika umat Islam berpecah belah, maka agenda-agenda politik dan juga ekonomi mereka dapat berjalan mulus. Nah, salah satu cara untuk menghambat terjadinya persatuan dan kebangkitan Islam ini adalah dengan membungkam para ulamanya. Dalam posisi ini umat Islam harus melek, sadar sesadar-sadarnya. Wallahu a’lam bisshawwab.

0 Komentar