#Setahun Aksi 212

Makna Syukuran 212 Setelah Satu Tahun

29 November 11:16 | Dilihat : 785
Makna Syukuran 212 Setelah Satu Tahun	Aksi Super Damai 212

HM Aru Syeif Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Peristiwa unjuk rasa Super Damai pada 2 Desember 2016 (212) kini pada 2 Desember 2017 dikenang sebagai peristiwa kolosal dan spektakuler yang  diyakini sebagai peristiwa maha dahsyat terbesar di jagad raya ini. Betapa tidak, unjuk rasa itu diikuti peserta tujuh juta orang bahkan lebih. Walau pesertanya diyakini terbesar di dunia, tapi berlangsung super damai. Bahkan rumput taman pun tak disentuh, semua utuh, semua bisa bersih seperti sediakala dan semua orang orang pun takjub.

Itulah kenangan yang kini melekat pada ingatan semua orang. Semua orang Islam pun “bermimpi” agar sukses peristiwa 212 itu bisa menjadi  spirit dan energi bagi umat Islam. Bukan untuk kemenangan: menang-menangan, melainkan sesuai spirit Islam yang sejati agar memberkahi bangsa ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pasalnya dua tahun berlalu kondisi negeri ini khususnya umat Islam bertalu-talu dilanda depresi, dikuyo-kuyo dalam ancaman yang sangat menekan dan puncaknya bahkan Islampun di lecehkan dan diperhinakan oleh gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang sangat jumawa menghina ayat Quran Surat Al-Maidah 51. Sedangkan dia duduk sebagai gubernur—walau hanya sebagai pengganti Joko Widodo—pun sudah sangat menyakitkan apalagi dengan penampilan yang luar biasa sombong dengan tiap hari selalu memproduksi kata-kata kasar, jorok di muka publik. Semua orang yang berinteraksi dengan Ahok selalu menerima caci-maki dan hujatannya. Dan umat Islam pun tidak membiarkan dengan mendemonya tak henti-hentinya sepanjang dua tahun itu. 

Tapi semua itu, tidak menemukan hasil sama sekali. Sebaliknya malah membuat Ahok bersimaharajalela dalam kemenangan dan kesombongan. Semua itu terjadi justru dalam perlindungan penguasa yang berpihak di dalam “kegilaan” itu. 

Contoh paling membuat faktual, adalah KPK pun melindungi secara terang-terangan karena kasus-kasus korupsi yang sangat nyata dilakukan Ahok, tapi KPK justru melindungi dengan dalih: tidak terlihat tanda-tanda, atau tidak terlihat ia (Ahok) mempunyai niat jahat. Maka laporan lembaga resmi negara BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) pun di abaikan dan hal ini justru membuat Ahok semakin jumawa atau sombong. 

Sebaliknya umat Islam yang menentang semakin sakit hati dibuatnya. Tiba-tiba datanglah peristiwa 212 setelah diawali pada peristiwa 14 Oktober 2016 dan 4 November 2016 (414). Boom pun meledak tanpa melukai siapapun, tanpa ekses “jorok” sedikitpun bagaikan umat Islam ingin membuktikan umat Islam bisa berbuat yang terbaik dan itulah nafas Islam yang paripurna. 

Terjadilah!  Inilah nafas Islam yang sejati, persatuan Islam yang sebenarnya (kabarnya tak mungkin dilakukan), hampir tidak bisa dipercaya, tapi sudah terjadi. Sampai secara usai, spontan Alm KH Hasyim Muzadi berkomentar—kemudian menjadi viral—“Saya yakin peristiwa 212 terjadi karena turunnya Malaikat yang datang membantu,” ujarnya yakin. 

Memang menakjubkan jalanan di bekas area: Jumat Kubro 212 itu bagai disulap dalam waktu beberapa jam sudah bersih kembali bagaikan ada “tangan-tangan” dari “Langit” yang menolong membersihkan. Laporan Utama tabloid ini dengan banner: Kekuatan Langit Memberkahi Jumat Kubro 212, Laporan detail Suara Islam edisi 224 itu, dua minggu sesudah peristiwa 212 menggambarkan lokasi itu terbentang dari lapangan Monas menjulur ke Jalan Raya MH Thamrin membujur ke selatan sampai Bunderan HI, terus ke Semanggi terus ke selatan dan di jalan sebelah timurnya yakni di jalan Sabang Jalan Sutan Syahrir, Moh Yamin, Jalan Imam Bonjol dan di Jalan Kebon Sirih ke timur sampai Cempaka Putih setelah melewati Senen melingkar di Jalan Kramat Raya dan Jalan Salemba, Jalan Meteng Raya menyambung ke Jalan Gondangdia dan Cikini Raya. Dan belum jalan di seputar Monas yang menjadi pusat kegiatan yakni di Jalan Medan Merdeka Selatan, bergandengan Medan MerdekaTimur bersambung dengan Jalan Ridwan Rais yang menyatu dengan Lapangan Tugu Pak Tani yang berpadu dengan Jalan Kebon Sirih tadi. Bukan main jika mengenang peristiwa itu. 

Tujuh juta  lebih umat Islam tumpah di jalanan dan jika kita menyaksikan gambarnya dari udara jutaan manusia diabadikan momentum itu, sungguh membuat kita ‘giris’. Kelanjutannya Ahok betul dikalahkan dalam pengadilan dan masuk penjara dengan hukuman dua tahun,  sekalgus gubernur DKI Jakarta itu, berhasil dikalahkan oleh Anies dan Sandi dalam Pilkada dua putaran yang membuat gembira rakyat Jakarta. 

Pendukung Ahok diteruskan Djarot (sebagai Plt Gubernur) yang biasa dipanggil sebagai Ahoker dan Kecebong sejatinya—menurut gubernur Anies—hanya berjumlah 4% saja tapi kendati kecil ributnya bukan Alang-kepalang. Dan sangat mengganggu karena sikap Ahoker dan Kecebong itu yang tidak  rela dengan kekalahannya. Sementara mereka dibayar oleh “pemilik Ahok” terdiri penguasaha-pengusaha Cina yang terus berusaha membalik kekalahan itu agar gubernur Anies bisa dihentikan di tengah jalan. Mereka tidak perduli diistilahkan tidak pernah move on dengan kekalahannya itu. Mereka nekad dan tidak tahu malu dikatakan tidak perwira dan tidak demokratis. Proyek mereka seperti reklamasi dan pembangunan kota satelit Meikarta kendati melanggar aturan tetap dipertahankan. Semua berlangsung karena dukungan penguasa.

Pasca even 212 2016, yang jelas, umat Islam berhasil mewujudkan: pertama, kekalahan gubernur Ahok. Kedua, pemenjaraan penista agama itu, dan ketiga, kemenangan dunia maya (Medsos dan Cyber Army). 

Tapi demikian upaya ingin membalik kekalahan itu terus digencarkan oleh 4% pendukung Ahok terdiri Kecebong dan Ahoker bahkan Jokower yang bahkan ingin menghabisi Pilkada Juni 2018  (171 Pilkada di seluruh Indonesia) dan Pemilu/Pilpres  2019 untuk memenangkan Jokowi menjadi presiden kedua kalinya. Pasca 212 itu juga menyisakan kelanjutan “pertarungan” yang panjang. Habib Rizieq terpaksa hijriah ke Saudi sampai hari ini, tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Khaththath masuk ke penjara sejak 31 Maret 2017 dan dikeluarkan setelah tiga bulan lebih dipenjara, kriminalisasi terhadap ulama makin menjadi-jadi dengan catatan yang panjang. 

Satu hal yang tak bisa dipungkiri nama  Habih Rizieq pun menjulang dan dinobatkan sebagai Imam Besar umat Islam se Indonesia. Hanya sedikit sekali yang selalu digaungkan bahwa Imam Besar itu ditentang oleh golongan NU. Hal ini  disebabkan karena tokoh-tokoh NU banyak yang mendukungnya seperti Kyai Syukron Makmun, Kyai Maulana Kamal Yusuf, Kyai Mahfudz Asirun, dan Kyai Ma’sum Bondowoso dan lain-lain. 

Tidak semua anggota dan tokoh NU mendukung kepemimpinan Kyai Aqil Siradj karena jajaran NU di Jawa Timur pimpinan Kyai Salahuddin Wahid pimpinan PP Tebu Ireng pun sangat keras menentangnya bahkan menolak kepemimpinan Aqil dalam muktamar NU terakhir di Jombang. Bahkan cendekiawan NU mantan menteri pertahanan di era Presiden Gus Dur yakni AS Hikam menobatkan Habib Rizieq Syihab sebagai pemimpin Indonesia. Katanya “Suka atau tidak suka HRS (Habib Rizieq Syihab) adalah pemimpin yang tidak bisa diragukan lagi (undisputed leader) dari kekuatan  Islam politik di Indonesia, dan presiden Jokowi adalah salah satu pihak yang ikut mengukuhkan posisi tersebut.” 

Di bagian lain AS Hikam menegaskan: “Sebuah fenomena politik baru paska reformasi di Indonesia sedang bergulir, yakni muncul dan berkembangnya kekuatan Islam politik dalam panggung demokrasi, bukan melalui pintu politik elektoral (electoral politics), tetapi melalui pintu politik massa (mass politics). Apakah presiden Jokowi menyadari sepenuhnya bahwa kini kepemimpinan HRS dan Islam politik kian mantap kehadiran dan pengaruhnya dalam panggung perpolitikan di negeri ini? Silakan dicermati” ujar AS Hikam tandas berkomentar tanpa tedeng aling-aling  ihwal HRS pasca even 212 yang lalu.

Adalah mantan wartawan Tempo Amran Nasution yang selevel wartawan Karni Ilyas dan Dahlan Iskan berkali-kali dalam rapat redaksi Tabloid Suara Islam (Amran Nasution kini bergabung di jajaran redaksi Suara Islam) ia tegaskan, ”Habib Rizieq posisinya bisa jadi mengikuti takdir Imam Komeini yang tersingkir dari negerinya di Iran sewaktu kembali ke Teheran dari Paris, Komeini merebut Iran dalam genggamannya dan terkenal sebagai puncak Revolusi Islam Iran pada 1980." 

Sementara KH Misbahul Anam, Ketua Panitia Syukuran Setahun Aksi 212 di Monas 2 Desember 2017 kepada penulis, ia acapkali menceritakan bahwa HRS di Makkah Mukaramah selalu diyakinkah banyak orang yang mengunjunginya agar HRS tampil memimpin Indonesia melalui Parpol yang insyaallah akan mendukungnya. 

Namun Kyai Misbchul Anam mendengar sendiri HRS selalu menolak usulan itu. Padahal katanya bukan mustahil usulan itu justru akan menjadi jalan keluar bagi negeri yang kini tengah dilanda karut-marut tiada ujung penyelesaiannya itu. Wallahu a’lam bisshawab.

0 Komentar