Tahniah: Menghayubagyo Anies-Sandi

01 November 01:22 | Dilihat : 1013
Tahniah: Menghayubagyo Anies-Sandi Pemred Tabloid Suara Islam HM Aru Syeiff Assadullah bersama kakek Gubernur DKI Jakarta, almarhum AR Baswedan . [Foto: Dok. Pribadi/Istimewa]

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Hari yang ditunggu-tunggu masyarakat Jakarta, khususnya umat Islam sejak tiga tahun sebelumnya, akhirnya tiba. Inilah hari pelantikan gubernur Muslim Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang berhasil mengalahkan gubernur petahana non-Muslim Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersama wakilnya Djarot Saiful Hidayat. 

Senin 16 Oktober 2017/26 Muharam 1430 H, Gubernur terpilih Anies Rasyid Baswedan dan wakilnya Sandiaga Salahuddin Uno akan dilantik sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2017-1022 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Pelantikan ini mendebarkan banyak orang.

Rencana pelantikan oleh Presiden di Istana Negara jam 16.00 WIB, tapi beberapa jam sebelumnya sebuah stasion televisi swasta sudah menyiarkan (langsung) kegiatan Anies-Sandi menjelang pelantikan itu dari rumah Anies di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan rumah Sandi Kebayoran juga di Jakarta Selatan. 

Usai shalat Zuhur keduanya disiarkan secara langsung oleh TV menuju Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Penulis menyertai KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i yang diminta H. Aksa Mahmud, Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng untuk memberikan doa, tahniah atas pelantikan Anies-Sandi sekaligus bersama para pendukung Anies-Sandi: Menghayubagyo pelantikan ini. 

Dengan tidak sabar pendukung Anies-Sandi mengikuti perjalanan Anies-Sandi yang disiarkan langsung tvOne dilengkapi wawancara di atas mobil. Rupanya sambutan bukan hanya pendukung Anies- Sandi di Jakarta tapi bahkan dari seluruh Indonesia karena Pilkada DKI Jakarta memang menjadi perhatian nasional. Sandi datang lebih dulu di Masjid Sunda Kelapa disusul Anies dan dielu-elukan bahkan dengan semangat pekikan takbir: Allahu Akbar. Pelukan selamat dan salam hampir sulit dibendung karena ratusan jamaah dan pendukung Anies-Sandi, sangat emosionil dan larut dalam kegembiraan bersama.

Kyai Abdul Rasyid, pimpinan Perguruan Islam As-Syafi'iyah mempimpin doa dan tahniah Anies-Sandi ini dengan tekanan suara yang mendalam karena terharu dan gembira. Sebelumnya ulama Betawi ini menyebut jamaah Masjid Sunda Kelapa sejak awal memang mendukung Anies-Sandi, termasuk jamaah As-Syafi'iyah sampai membangun posko pemenangan Anies-Sandi. 

“Hari-hari yang melelahkan dan menegangkan umat Islam itu paripurna, inilah puncak perjuangan umat Islam beberapa tahun terakhir ini: Menginginkan gubernur Muslim di DKI Jaya, insyaallah tuntas sudah warga ibu kota kini mendapatkan gubernur dan wakil gubernur Muslim yang sangat didambakan. Insyaallah sebentar lagi akan dilantik, mari kita hantarkan pelantikan keduanya dan kita doakan bisa segera bekerja menyejahterakan rakyat dan umat Islam ibu kota," tutur Kyai Rasyid penuh semangat sekaligus nada haru. 

Anies-Sandi pun segera diiring menuju Istana Negara dan pemandangan berikutnya sangat membanggakan sama-sama diketahui seluruh bangsa Indonesia melalui siaran langsung TV. Presiden Joko Widodo sampai menjemput ke halaman Istana dan mengawal menaiki tangga Istana menuju mimbar pelantikan disaksikan para pejabat termasuk dihadiri Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum Partai Gerindra, tokoh vital yang mengusung pencalonan Anies-Sandi bersama PKS melawan partai-partai yang mengusung Ahok-Djarot: PDIP, Nasdem, Hanura, PPP dan PKB dan berhasil mengalahkan mereka secara telak. 

Prabowo merasa exited hadir dalam pelantikan Anies-Sandi ini dan ia hadir ingin memberi support kepada keduanya sekaligus Gerindra ingin memberi tekanan bahwa apa yang dicalonkan (Anies-Sandi) ini menjadi jawaban dari apa yang diharapkan masyarakat, mudah-mudahan bisa konsisten. 

Usai pelantikan di Istana Negara yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Utara, Anies-Sandi segera meninggalkan Istana Negara menuju Balaikota yang terletak hanya 1000 meter di Jalan Medan Merdeka Selatan. Ribuan massa sudah membeludak tidak sabar menunggunya di halaman Balai Kota juga Balai Agung tempat dilangsungkannya serah terima jabatan (Sertijab) dari gubernur lama Djarot Saiful Hidayat yang ternyata tidak hadir dan diwakili Sekda Saefullah yang menjabat Plh Gubernur DKI sepanjang 40 jam terakhir. 

Dikabarkan Djarot ternyata sudah berlibur di kawasan Pulau Komodo NTT dan berdalih tidak diundang acara sertijab itu, namun kata Saefullah, sebenarnya Djarot sudah diundang kalau tidak diundang seharusnya ia hadir. Acara sertijab yang singkat diikuti pidato Gubernur Anies Baswedan yang ia akhiri pidatonya karena waktu shalat Maghrib sudah tiba, dan ia menjanjikan pidatonya yang pertama akan ia gelar panjang-lebar usai shalat Maghrib di hadapan rakyat banyak di halaman Balai Kota. 

Dan rupanya pidato Anies dengan menyebut kata pribumi (hanya satu kali saja ia sebutkan) spontan menjadi kontroversi yang membuat gaduh politik di negeri ini sampai beberapa hari, juga serenceng laporan pihak yang secara curang terus-menerus berlaku move on (tidak ‘legowo’ dengan kekalahan) misalnya sebuah stasion TV swasta pendukung Ahok melakukan berita fitnah dengan memanipulasi data gambar. Misalnya mengabarkan berita faktual kini kondisi Pasar Tanah Abang semrawut sejak dipimpin Anies-Sandi dengan menampilkan gambar amburadul. Seorang pun membantah di Medsos sambil mengunggah kasus yang pernah dimuat TV yang bersangkutan ternyata terjadi di saat Djarot yang justru menjabat, bukan di era Anies-Sandi yang baru menjabat beberapa hari saja. Manipulasi ini tentu saja sangat un-fair bahkan ‘jahat’ dan membuat mereka kehilangan kredibilitas. 

Tantangan Anies-Sandi memang luar biasa seperti isu reklamasi yang ia janjikan akan ditolak tentu menjadi wacana panas yang bisa dipakai untuk mendiskreditkan jika Anies-Sandi tidak bisa menghentikannya. Belum janji-janji kampanye Anies-Sandi lainnya, misalnya: Rumah Dengan DP 0, memperluas Kartu Jakarta Pintar Plus, memperluas Moda transprtasi yang terintegrasi, meningkatkan bantuan sosial untuk rumah ibadah dan seterusnya. 

Padahal untuk merealisasikan program yang dijanjikan DPRD DKI memperlihatkan keengganannya bekerjasama dengan Anies-Sandi. Pembahasan RAPBD sengaja dibuat terburu-buru dengan gubernur sebelumnya sehingga anggaran senilai 70 T itu bagai tak bisa digunakan program-program Anies-Sandi. APBD kiranya masih bisa di revisi melalui APBD Perubahan, dan sikap tenang Anies yang menunjukkan ciri yang cerdas itu selalu bisa mengatasi persoalan pelik. Pidato awal Anies sampai dikomentari sebagai pidato kelas pidato kenegarawanan seorang presiden. 

Penulis yang mengenal kakek Anies, AR Baswedan, dan pada 1980-an acapkali berdiskusi dengannya meyakini Anies mewarisi kecerdasan kakeknya sekaligus jiwa nasionalis yang kental menjadi pendiriannya. Penulis acapkali berkunjung ke rumah AR Baswedan pada 1980-an di Taman Yuwono 19 di belakang Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Di pagi hari penulis acapkali diajak jalan-jalan menyambangi berbagai tokoh yang dikenalnya maka mampirlah ke rumah Romo Mangun di pinggir Kali Code atau mampir ke rumah Dick Hartoko tokoh Katolik di kantornya. Dan ngobrol yang panjang kalau berhenti mampir ke rumah Ketua Muhammadiyah AR Fachruddin di Jalan Cik Ditiro, depan Kampus UGM Bulaksumur (Kini rumah Pak AR itu sudah menjadi kantor Pusat PP Muhammadiyah). 

Sambil ngobrol dengan Pak Baswedan itu AR Fachruddin sambil masih mengenakan kain sarung ia terus meladeni para mahasiswa yang mampir membeli bensin (Pak AR memang menjual bensin botolan/eceran), dan terpaksa karena kedua orang tua itu sibuk ngobrol maka penulispun membantu melayani mahasiswa yang membeli bensin. Penulis memang acapkali di sore hari di telepon Pak AR Baswedan agar keesokan harinya penulis menjemput Pak Baswedan di Stasion Gambir. Penulis yang tinggal di Jalan Jawa 62 (kini dikenal sebagai Jl. HOS Tjokroaminoto) Menteng, menjemput Pak Baswedan dengan naik becak. Hari itu rupanya ia hendak berkunjung ke rumah Bapak M. Natsir yang kebetulan bertetangga dengan penulis di Jalan Jawa nomor 46. 

Di kali lain Pak Baswedan meminta diantarkan ke rumah Wakil Presiden Adam Malik di Jalan Diponegoro Menteng. Karena lokasinya agak jauh dari stasion KA Gambir maka kami berdua menyewa Helicak yang sopirnya duduk di belakang penumpang. Di tengah perjalanan Pak Baswedan bercerita ia ditelepon Adam Malik agar menerima hadiah dari pemerintah. ”Nanti kalau hadiahnya besar tolong dibantu bawanya ya?” Dan penulis pun menyanggupi. Dan ketika penyerahan hadiah dilakukan di depan rumah Adam Malik,  diumumkan hadiah itu diberikan ke Pak Baswedan karena jasanya ikut mendirikan Kantor Berita ANTARA. Dan tatkala hadiah itu diberikan ternyata memang besar sekali yakni berupa mobil merk Impala buatan USA tahun 1961, tapi kondisinya baru. 

Penulis pun mengenang Pak Baswedan tatkala ia sakit dan fisiknya makin ringkih pada 1986, penulis acapkali menengoknya di RS Islam Cempaka Putih, dan akhirnya wafat dan jenazahnya dibawa ke rumah putranya dr. Samhari di Kalimalang, Jakarta Timur dan esok harinya di shalatkan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru dan dimakamkan di Tanah Kusir.

Mengenang Pak Baswedan, kakek Anies teringat tak bosan-bosan ia bercerita ia memprakarsai pendirian Partai Arab Indonesia yang mendukung Sumpah Pemuda pada 1928, dan mendukung cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan surprised tepat pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017, usai shalat Subuh handphone penulis berbunyi, rupanya WA (WhatsApp) dari Anies Baswedan, pak Gubernur, rupanya ia mengirim artikel yang banyak membicarakan peranan kakeknya yang berjudul: "Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934 Puncak Pencarian Identitas" yang dimuat BBC News.

WA dari Pak Gubernur Anies ini penulis balas dengan mengirimkan foto kenangan saat penulis bersama pak Baswedan ngobrol di kursi panjang pada 1980-an sambil menceritakan riwayat pernah acapkali mendengar Pak Baswedan bercerita pada momentum Sumpah Pemuda. Seperti ditulis oleh Jaya Suprana, ia meyakini Gubernur Anies jiwa nasionalnya sangat kental sebagaimana kakeknya. 

Buat penulis yang mengenal kakek Anies Baswedan, kini cucunya mengemban tugas berat sebagai gubernur ibukota negeri raksasa Indonesia, dan penulis yakin haqqul yakin Anies mampu mengembannya dengan baik. Dengan tahniah dan ungkapan ‘Menghayubagyo’ ini kami berdoa Anies-Sandi: bisa bukan sekadar ungkapan bisa namun ternyata tidak bisa! Semoga!

0 Komentar