PKI Mungkir tak Tahu Diri dan Dusta

25 September 06:53 | Dilihat : 1983
 PKI Mungkir tak Tahu Diri dan Dusta Ilustrasi: Diorama kekejaman PKI di Monumen Lubang Buaya, Pondok Gede, Jaktim.

HM Aru Syeif Assadullah 
Pemred Tabloid Suara Islam

Lebih dua tahun terakhir ini (2014 s/d 2017) masyarakat dihebohkan oleh fenomena bangkitnya KGB (Komunis Gaya Baru) alias PKI di Indonesia. Kehebohan ini bergulir sejak Joko Widodo menjabat sebagai presiden RI ke-7 akhir 2014. 

Mula-mula isu bangkitnya PKI ini terdengar sayup-sayup, lama kelamaan terdengar santer. Dimulai munculnya di mana-mana bendera PKI juga  graffiti palu godam bersilang dengan arit atau clurit, itulah lambang PKI di Indonesia yang resmi telah dibubarkan pada 1966 disusul diterbitkannya Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 sebagai dasar hukum pelarangan PKI di Indonesia. 

Tiba-tiba isu kebangkitan PKI itu muncul, isu itu bertahap makin nyaring. Bahkan tuduhan PKI pun dilancarkan berbagai pihak kepada presiden Joko Widodo.  Isu kebangkitan PKI pun makin meruyak sejalan hubungan pemerintan Presiden Joko makin akrab dengan pemerintahan China, yang bagai Poros Peking yang populer di era Erde Lama pun lahir kembali.

Keberpihakan pemerintah lebih dua tahun terakhir ini begitu kental dimulai dengan mentolerir Simposium Hotel Aryaduta Jakarta dengan tajuk "Membedah Tragedi 1965" pada 18 April 2016 yang terang-terangan menjadi indikasi bangkitnya PKI di Indonesia dan dengan terang-terangan pula mendesak pemerintahan Joko Widodo agar menghapuskan Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 larangan resmi ideologi PKI. 

Mereka dalam simposium itu juga menuntut agar pemerintah meminta maaf kepada PKI seraya menunjukkan bukti “awur-awuranan” bahwa PKI telah menjadi korban, fitnah, dan penganiayaan dan seterusnya, karena itu hendaknya pemerintah harus memberikan ganti rugi secara finansial kepada keluarga-keluarga PKI yang menjadi korban. Ditambah lagi dalam simposium itu juga memaksa pemerintah agar memprakarsai pembongkaran makam-makam massal yang diklaim sebagai korban PKI mencapai 500 ribu orang (bahkan disebut-sebut korban mencapai satu juta orang, red.).  

Taufiq Ismail, pakar PKI, saat itu tampil dalam symposium Aryaduta itu membacakan data melalui puisi kekejian PKI yang membantai 120 juta orang di berbagai negara dalam puisi dengan angka-angka, tapi penampilan Taufiq Ismail dilecehkan peserta simposium dengan mengejeknya. Sungguh aneh pemerintah melalui Lemhanas yang dipimpin Letjen (Purn) Agus Widjojo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) bagai “mendukung” simposium itu yang terang-terangan membela PKI. Figur Agus seolah-olah sengaja dipilih karena Agus adalah putra Pahlawan Revolusi Mayor Jendral Sutoyo Siswomihardjo yang menjadi korban di antara tujuh pahlawan revolusi, tapi Agus malah “membela” PKI. 

Dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) terakhir (19/9/17), Agus menyatakan dirinyalah yang paling pantas memiliki dendam kepada PKI karena ayahandanya menjadi korban kekejian PKI pada September 1965. Kenapa Agus Widjojo sangat pro PKI sebenarnya sejak Agus Wijoyo menjadi penasihat Ormas: Forum Silaturahmi Anak Bangsa, Korban Konflik 1965, sejak 2003, yang membawanya terseret perdamaian dengan anak-anak PKI dan tampaknya pendiriannya yang pro PKI itu menaikkan karier Agus yang didukung PDIP sehingga terakhir berhasil menjabat sebagai Gubernur Lemhanas dengan Dilantik Presiden Joko Widodo pada 15 April 2016. Dan hebatnya, tiga hari setelah dilantik menjadi Gubernur Lemhanas pada 18 April 2016,  ia “mensponsori”—bagai langsung tancap gas-- menggelar simposium: Membedah Tragedi 1965 yang bernuansa terang-terangan sebagai forum  penghapusan jejak kekejian PKI pada 1965 dengan melakukan Pemberontakan yang keji. Apakah pendirian Agus Widjojo ini bisa mewakili kebenaran ? 

Dipastikan tidak! Karena mewakili putra-putri pahlawan Revolusi belakangan juga ditampilkan wawancara oleh media massa mainstream dan disebarluaskan oleh  media social misalnya kesaksian anak Mayjen DI Panjaitan yang mengutarakan kesaksiannya saat ayahandanya dibantai dengan “telengas” kepalanya ditembak dan darah serta ceceran otak ayahadanya yang tumpah di halaman rumah itu diraup dan dibasuhkan ke mukanya dengan histeris. Komentar Anak-anak Jendral Ahmad Yani juga dilontarkan akhir-akhir ini mewakili perasaan pedih ayah mereka dibantai saat mereka masih usia kanak-kanak, sebagaian malah sudah remaja. ”Tiap melintas bulan September perasaan trauma kekejaman PKI itu muncul secara mengerikan,” ujar putra laki-laki jendral Ahmad Yani.

Kenyataan pemberontakan  yang sangat terang-benderang dilakukan PKI itu-- bukan hanya dilakukan pada 30 September 1965 tapi juga pada 1926-1927 dan berserakan pembantaian oleh kader PKI dalam era puluhan tahun di berbagai kota di Indonesia seperti di Tegal, Pekalongan, Sumatera Utara, Banyuwangi, dan di sekitar Madiun, dan karenanya sudah berjilid-jilid buku diterbitkan, juga didirikan monumen kekejaman PKI selain kubur yang berserakan di berbagai makam Taman Pahlawan. 

Fakta ini memberikan kesaksian luar biasa—namun semua itu diingkari kader PKI dengan dusta yang luar biasa “nekad dan tidak tidak tahu diri” dengan mengemukakan dalih-dalih yang luar biasa keji sekeji perbuatannya. Akibat forum dusta mereka di simposium Aryaduta 18 April 2016 secara spontan menyadarkan kalangan anti PKI yakni umat Islam dan jajaran perwira angkatan darat bahkan sejarahwan pun ikut dan segera menggelar simposium tandingan pada 1-2 Juni 2016 di Balai Kartini Jakarta yang diprakarsai Forum Umat Islam (FUI), Gerakan Bela Negara (GBN) dan PPAD (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat) dengan Simposium dan Apel Siaga dengan tajuk "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan  PKI dan Ideologi Lain."

Tabloid Suara Islam melaporkan forum di di Balai Kartini dengan judul "Kemarahan Pun Meledak di Balai Kartini." (Baca Tabloid SI Nomor  217).  Acara di Balai Kartini itu menghadirkan sedikitnya 100 orang perwira tinggi AD, AL, AU dan Polri, sejumlah ormas kepemudaan dan ormas Islam yang anti PKI, seperti FKPPI, FPI, FUI, Dewan Dakwah, HMI, PII dan ormas Islam lainnya juga Pemuda Pancasila yang dipimpin Japto Soerjosoemarno yang hadir berorasi. 

Tampak tokoh-tokoh militer, pakar sejarah dan ulama hadir menggelar pemikirannya seperti Habib Rizieq Syihab, KH. Abdul Rasyid AS, juga KH. M. Al Khaththath yang ikut memberi sambutan bersama Letjen Purn Kiky Syahnakri sebagai ketua panitia dan kini menjadi Ketua PPAD. Tampil sebagai keynote speech mantan Wakil Presiden: Jendral Purn Try Sutrisno, tampil juga Menteri Pertahanan Ryamizar Ryacudu dan Panglima TNI  Jendral Gatot Nurmantyo yang ikut memberi sambutan dukungan melawan kebangkitan PKI.

Dalam sessi diskusi dalam beberapa gelombang selama dua hari itu menampilkan pembicara yang sangat handal antara lain: Sessi PKI dari Aspek ideologi dengan pembicara Letjen (Purn) Sayidiman Soerjohadiprodjo (87 th), yang tampil sangat fasih, Habib Rizieq Syihab sangat dikagumi para pakar yang selama ini tidak pernah mendengar pidato/orasinya.

Ada Prof Dr. Sri Edi Swasosno yang ayah kandungnya dibunuh PKI di Ngawi, Madiun pada 1948. Sebagai pembicara pada aspek sejaran   ntara lain: Letjen Sintong Panjaitan, Prof Dr. Ahmad Mansur Suryanegara dan Prof Dr Aminudin Kasdi. 

Pada simposium hari kedua digelar 2 Juni 2016, tampil pembicara pada sessi Ideologi PKI pada Aspek agama: Prof Dr. Yunahar Ilyas (Muhammadiyah), Dr. Marsudi Syuhud (NU), Ir Dewa Puthu Sukandi (Hindu), Ignatius Suharyo (Ketua KWI), dan pada sessi Aspek Konstitusi dibedah diskusi bertajuk : Komunisme, Marxisme, Leninisme Perspektif Konstituasi NKRI dengan pembicaca Ahli Komunis dan Russia: Dr. Fadli Zon SS.M.Sc, yang duduk sebagai Wakil Ketua DPR-RI, Brigjen (Purn) Saafroeddin Bahar, dan Letjen (Purn) Ahmad Rustandi SH, dan sebagai penutup tampil pembicara  Jendral (Purn)) Widjojo Suyono. 

Dua hari simposium ini dihadirkan pula saksi-saksi tokoh-tokoh sepuh anti PKI yang berusia dari 80 th sampai 90 th yang datang dari daerah berbagai daerah lokasi kekejaman PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga ditampilkan testimoni saksi-saksi hidup kekejaman PKI 1965 dan 1948 terdiri kakek-kakek dan nenek-nenek yang tampil di podium dengan wajah gugup dan isak tangis mengenang kebiadaban PKI di masa lalu. 

Alhasil diskusi Balai Kartini ini berhasil menangkal tekad kebangkitan PKI melalui simposium sebelumnya di Hotel Aryaduta. Apalagi beberapa hari  kemudian disusul Aksi Siaga dengan demonstrasi massa umat Islam di Monas yang dipungkasi dialog dengan Menkopulhukam Luhut Binsar Panjaitan yang menjanjikan PKI tidak mungkin bisa  bangkit karena adanya TAP MPRS No. XXV Tahun 1966 itu. Permintaan maaf kepada PKI oleh pemerintah pun dijamin tidak mungkin dilakukan apalagi membongkar kuburan massal PKI yang tidak pernah ada.

Geger dan isu kebangkitan PKI pun sementara menjadi reda sejak Juni 2016 itu. Tapi menjelang 30 September 2017 sekarang heboh kebangkitan PKI pun marak kembali menyusul beberapa bulan sebelumnya Presiden Joko Widodo “mengancam” akan “menggebuk” PKI dan ia minta ditujukkan keberadaan PKI. Ancaman itu tidak terbukt—bahwa pemerintah anti PKI-- tatkala rakyat memprotes diskusi kader PKI di Gedung LBH Jakarta pada 16-17 September 2017. Terjadi bentrok sampai dan tindak kekerasan aparat kepolisian dengan menembakkan gas air mata, peluru karet dan water canon bahkan beberapa orang ditangkap dan digelandang ke Polres Jakarta Pusat sebagian luka-luka dan konon dihalang-halangi berobat oleh berbagai rumah sakit untuk dirawat. 

Tuduhan bahwa polisi justru melindungi kader PKI yang tengah berdiskusi di dalam gedung LBH pun muncul di media sosial. Polisi berdalih tidak ada acara diskusi tapi Mayjen (Pur) Kivlan Zen  mengaku memiliki intel yang ikut berada di dalam gedung LBH menyatakan diskusi PKI itu memang ada.  Dari ranah media pun muncul perdebatan sengit dipicu pula dengan rencana Panglima TNI  Jendral Gatot Nurmantyo akan menggelar nonton bareng Film Pengkhianatan G.30 S. PKI yang sejak 1998 dihentikan tayangannya oleh televisi.

Saat tulisan ini disiapkan tebaran dusta kalangan pro PKI semakin marak. Dusta itu dikomentari Taufiq Ismail sungguh luar biasa. Ia memuji Kamboja yang telah membuat monumen kebiadaban Ladang Pembantaian Partai Komunis Kamboja Khmer Merah pimpinan Pol Pot yang membantai rakyat dua juta rakyat Kamboja. Dari ladang pembantaian itu kini diperagakan puluhan ribu tengkorak korban keganasan PKI. 

Taufiq Ismail mengaku pernah mengunjungi ruang-ruang pembantaian di Kamboja yang sampai sekarang “aneh” masih menebarkan bau anyir darah manusia. Sungguh, kata Taufiq Ismail, sampai istrinya Atie Taufiq Ismail keluar ruangan mual perutnya dan hampir muntah-muntah. Tapi dengan peragaan kebiadaban itu kini kekejaman komunis di Kamboja sulit dihapuskan jejaknya, dengan cara-cara tipu-tipu ala kader PKI di Indonesia, yang berdebat film Pengkhianatan PKI dengan dalih sok manusiawi dan menegakkan HAM mencegak menebarkan kekejaman, padahal film itu justru menangkal kekejaman PKI di masa yang akan datang. Sebab, kata Fadli Zon, bagai Rukun Islam harus diyakini dan diamalkan oleh seorang Muslim maka “rukun Komunisme” adalah revolusi dan revulusi bisa dilakukan dengan membantai dan “menjagal” sesama manusia. Manusia sebangsa dan setanah air tidak peduli akan dibantainya kata Fadli Zon tandas. []

0 Komentar