Ahok Beringas, Bengis dan Rasis

Senin, 29 Agustus 2016 - 09:33 WIB | Dilihat : 13375
Ahok Beringas, Bengis dan Rasis Ilustrasi: Tolak Ahok harga mati!

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Imam Muslim)

Apakah Gubernur DKI Jakarta Ahok masuk dalam kritera pemimpin seperti yang disampaikan Rasulullah Saw dalam hadits di atas?. 
 
Kalau tolok ukurnya Alquran dan hadits, Ahok sama sekali tidak masuk kritera. Pertama, menurut Alquran dia termasuk orang yang diharamkan menjadi pemimpin karena kekafirannya. Kedua, jika dilihat dari sifat-sifatnya dengan merujuk hadits, selain kafir, Ahok terkatagori sebagai munafik. Klop, sudahlah kafir munafik pula. 
 
Ciri munafik adalah jika berkata dusta, dipercaya khianat, dan bila berjanji mengingkari. Keseluruhan sifat-sifat itu jika diikuti sejak Ahok menjadi Wagub DKI Jakarta hingga menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ada secara sempurna pada diri bekas Bupati Belitung Timur itu. Kata-katanya seperti dewa mabuk. Dulu dia mengritik keras Fauzi Bowo yang menolak cuti aaat kampanye, sekarang dia malah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk mementahkan undang-undang yang dibuat DPR bersama pemerintah tentang kewajiban cuti saat kampanye.
 
Terkait Pilgub DKI, menurut peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI R Siti Zuhro, klaim Ahok yang mengaku telah didukung Megawati Soekarnoputri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017 semakin menunjukkan cagub petahanan itu inkonsisten. "Ini semakin menunjukkan dia ngepot-ngepot nggak karuan, ugal-ugalan," ujar Siti Zuhro, Sabtu (20/08/2016) lalu, seperti dikutip Rmol.co.
 
Zuhro mencoba menurut sikap inkonsisten pada diri Ahok ini. Pada awalnya Ahok meminta dukungan kepada Megawati, bahkan memberikan tenggat waktu agar merestui dia kembali berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Karena tak juga ada sinyal positif dari Mega, Ahok memutuskan maju lewat jalur perseorangan dengan menggandeng Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah (BPKAD) DKI. Timnya yang tergabung dalam Teman Ahok pun gencar mengumpulkan KTP untuk mengejar persyaratan. Maka dengan pongahnya saat itu ia merasa tidak membutuhkan parpol. 
 
Seiring dengan perjalanan waktu, Ahok ternyata batal menggunakan jalur perseorangan. Pengumpulan KTP-nya tidak memenuhi syarat. Gembar-gembor klaim telah memiliki sejuta KTP warga DKI hanya untuk meningkatkan nilai jual dirinya. Nyatanya hal itu hanya bualan saja, omong kosong. 
 
Lalu, tanpa merasa berdosa, Ahok pun memutuskan maju lewat jalur partai politik. Tiga partai di menyokongnya: Partai NasDem, Hanura dan Golkar menyusul di belakang. Seperti diketahui NasDem dan Hanura adalah dua partai pecahan Golkar, jadi sejatinya pendukung Ahok hanya satu partai saja. 
 
"Jadi anti klimaks. Saat pengumuman satu juta KTP, dia malah mengenalkan diri akan maju lewat parpol," ungkap Zuhro, doktor ilmu politik dari Curtin University, Perth, Australia ini. 
 
Sekarang, Ahok kembali merapat ke PDIP. Ngemis-ngemis dukungan dan bahkan berani mengklaim sudah mendapat restu dari Megawati. Menurut Zuhro, itu sama saja Ahok berusaha menggiring opini dan memberikan semacam warning kepada Megawati. Namun, melihat manuver politik Ahok selama ini, orang mulai tidak percaya. "Karena omongan yang mana yang bisa dipercaya dari Ahok?," tandas peneliti asal Blitar itu. 
 
Beringas dan Bengis
 
Penilaian tajam dan menohok tentang Ahok juga dilontarkan politisi senior sekaligus pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Amien menyebut Ahok sebagai antek pemodal dan tidak boleh lagi menjadi gubernur. 
 
"Karena dia beringas, bengis dan hampir-hampir seperti bandit. Saya tahu ini akan dikutip, enggak apa-apa," kata Ketua Dewan Kehormatan PAN itu saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Kongres V Barisan Muda PAN di Jakarta, Sabtu (20/8/2016), seperti dikutip Tribunnews.com.
 
Amien menegaskan, sebagai pemimpin Ahok tidak pro terhadap rakyat kecil. Ia memastikan Ahok harus dilawan karena sudah kelewatan menjalankan tugasnya.
 
"Saya enggak tahu dia maunya apa. Jangan lupa dia antek pemodal. Jadi tolong besok kalau ada calon penantang yang masuk akal, BM PAN harus datang dengan massa banyak. Kita tunjukkan rakyat itu mesti menang kalau bersatu," seru mantan Ketua MPR itu.
 
Bukan kali ini saja Amien berkomentar pedas dan keras tentang Ahok. Sebelumnya, pada April lalu,  Amien sudah menyebut Ahok sebagai orang yang sangat arogan.
 
Amien melihat Ahok sebagai sosok yang senang menantang berbagai pihak, bahkan terkesan meremehkan lembaga negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan terkait kasus RS Sumber Waras.
 
"Ini bukan masalah SARA, tetapi dia memang tidak layak menjadi pimpinan. Jangankan presiden, gubernur saja bagi saya kurang pantas," kata Amien di Temanggung, Ahad (24/4/2016) lalu.
 
Menurut dia, tidak hanya sikap Ahok yang dinilai keras kepala. Ahok, menurut Amien, adalah satu-satunya pemimpin yang merasa paling benar dan ingin memboyong kebenaran menurut kacamatanya sendiri. "Kalau saya orang Jakarta, pasti akan turun gunung. Sayang, saya orang Yogyakarta," kata dia.
 
Bukan hanya beringas dan bengis, sejatinya Ahok juga orang yang sangat rasis. Tengoklah saat ia masih menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar, 2010 lalu. Saat itu Walikota Tangerang Wahidin Halim dipanggil DPR RI karena hendak melakukan penggusuran terhadap warga Cina Benteng, Kampung Sewan, Tangerang.
 
Saat itu, Ahok yang merupakan anggota Komisi II DPR, mempertanyakan sikap Wahidin yang tidak bersedia memberikan ganti rugi kepada warga yang terkena gusuran. Ahok memaksa bahkan memaki-maki Wahidin agar menggunakan APBD untuk memberi ganti rugi warga. 
 
Penggusuran warga keturunan etnis Cina ini dikarenakan akan diadakannya normalisasi Kali Cisadane, dan Pemkot beralasan jika soal tidak diberikannya ganti rugi dikarenakan bantaran kali yang ditempati tidak memiliki IMB. Selain itu mata anggaran ganti rugi juga tidak ada dalam APBD 2010 Tangerang. Sementara Ahok beralasan, orang-orang China yang tinggal di daerah tersebut sudah menempati turun temurun, dan membangun dengan hasil jerih payah.
 
Sikap yang sama juga perlihatkan Ahok, ketika Wali Kota Jakarta Barat hendak melakukan penggusuran Mangga Besar. Karena ternyata mayoritas warga di RW 02 Kelurahan Mangga Besar, Taman Sari itu adalah keturunan China, Ahok pun berbalik memarahi Wali Kota Anas Effendi dan membatalkan rencana penggusuran itu. 
 
Sikap ini jelas sangat berbeda bila dibandingkan dengan penggusuran yang dia lakukan terhadap warga pribumi yang justru tidak satupun yang diberikan ganti rugi. Penggusuran di Kalijodo, Pasar Ikan, Akuarium dan Luar Batang adalah contohnya. 
 
Atas sikapnya yang beringas, bengis, dan rasis inilah kini Ahok menuai hasilnya. Sepanjang perjalanan negara ini, sangat jarang penolakan kedatangan pemimpin oleh warganya. Tetapi itu tidak berlaku pada Ahok, saat ini, setiap dia berencana mengunjungi atau meresmikan sesuatu di masyarakat, badai penentanganpun datang. Jika ia memaksa datang, ratusan personel kepolisian dan Satpol PP –yang tentu saja dengan biaya operasional besar—diturunkan. 
 
Lucu dan menyedihkan, saking takutnya diserang warga, setelah secara singkat meresmikan Rruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Penjaringan Indah, pada Jumat (24/06) lalu, Ahok pulang terbirit-birit melewati kebon warga karena jalan utama sudah dipenuhi warga dengan batu-batu di tangan. 
 
Sosok seperti Ahok bukanlah tipologi pemimpin yang dicintai rakyat. Sebaliknya, pemimpin model ini tiap hari akan mendapatkan umpatan, makian dan laknat dari rakyatnya. Rakyat membencinya dan dia pun membenci rakyatnya. Inilah gambaran pemimpin yang buruk. Wallahu a’lam bissawab.
0 Komentar