Piring Gempil dan Omah Bubrah

Rabu, 01 Juni 2016 - 12:03 WIB | Dilihat : 1537
Piring Gempil dan Omah Bubrah Darurat Narkoba, salah satu persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Negeri bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) saat ini dilanda kemelut yang luar biasa dahsyat. Semula kemelut itu disimpulkan sebagai : Darurat Kebangsaan. 

 
Kondisi ini ditafsirkan sangat beragam : sebagai darurat kenegaraan, darurat politik, darurat ekonomi, darurat narkoba, darurat kriminalitas darurat kejahatan ekstrim pemerkosaan kepada anaka-anak hingga dibunuh, dan serenceng darurat yang akan panjang jika diteruskan daftarnya. 
 
Jika salah satu darurat itu diurai, misalnya darurat narkoba  angka statistiknya sungguh membuat ‘bergidik’ ngeri, karena korban narkoba di Indonesia sudah mencapai ratusan orang tewas setiap harinya. Perdagangan narkoba di Indonesia ternyata sudah menjadi lalu lintas perdagangan internasional terbesar di dunia. Pengguna narkoba kini sudah merambah dan mewabah di kalangan apa pun. Bupati dan pejabat tinggi, jaksa, hakim banyak ditangkap menggunakan narkoba, juga polisi dan anggota TNI, anggota DPR, bukan hanya kalangan artis memakai narkoba bahkan pelajar tingkat SMP dan SD pun diketahui menggunakan Narkoba. Pabrik sabu-sabu terbesar terbongkar di Indonesia.  Penjahat narkoba kakap ditangkapi namun tidakkunjung dihukum mati, malah di dalam penjara, penjahat narkoba  mengatur perdagangan narkoba dengan omzet milyaran rupiah.
 
Yang dirinci di atas, baru dari satu darurat narkoba saja, sudah amat panjang daftar masalahnya yang sungguh sangat serius dan mengancam kehancuran bangsa dan rakyat Indonesia dalam waktu yang sangat singkat. 
 
Jika kita mencoba merinci darurat yang lain misalnya kejahatan seksual yang kini secara massif melanda anak-anak  kita, membuat kita lebih ‘bergidik’ lagi. Satu kasus pemerkosaan kepada almarhumah Yuyun (14 tahun) di Rejanglebong  Bengkulu, terbongkar,  dan heboh menjadi berita di TV, bagaimana sadisnya korban setelah diperkosa belasan pria biadab diakhiri dengan dibantai tewas sangat mengerikan. 
 
Cerita ini ‘horor’ yang sangat menyeramkan, dan TV sangat tidak bertanggungjawab justru bagai mengumumkan dengan serial cerita ‘horor’ itu untuk mengejar rating, dan sungguh ironis sejak kasus pemerkosaan dan pembantaian Yuyun itu disiarkan TV, maka kejadian serupa yakni pemerkosaan kepada gadis-gadis bermunculan di mana-mana dari seluruh Indonesia. Semua cerita membuat kita geram, ada cerita gadis remaja 18 tahun diperkosa belasan orang di Manado, konon oknum polisi ikut memperkosa, ada lagi peristiwa di Tangerang bahkan diakhiri dimutilasi korbannya.
 
Ada peristiwa di Medan Sumatera Utara atau di Sidoardjo Jawa Timur bersamaan ditangkapnya seorang keturunan Cina dan pengusaha   bernama Soni Sandra (63 tahun), di Kediri Jawa Timur terbukti  mencabuli—tidak tanggung-tanggung 58 gadis-gadis kecil--, tapi di pengadilan hanya divonis hukuman 9 tahun penjara. Begitu juga pemerkosa Yuyun di Rejanglebong hanya divonis 10 tahun penjara. 
 
Lalu bagaimana kabar pernyataan presiden yang  menyebut pemerkosaan terhadap anak-anak kecil dia tetapkan sebagai kejahatan luar biasa atau extra ordinary crime yang harus dihukum seberat-beratnya. Dikatakan karena darurat, maka diumumkan pemerintah akan menerbitkan segera Perrpu agar cepat diterapkan. Ditambah lagi bumbu wacana pemerintah akan menerapkan sanksi kebiri kepada para pelaku dan memasang chips di tubuh pelaku agar bisa dipantau pergerakannya juga upaya mempermalukan untuk memberi wefek jera. Namun pengumumam presdien itu hanya wacana belaka , karena tak pernah dilakukan, dan pemerkosaan di mana-mana pun terus terjadi tak henti-henti. Benar-benar darurat kondisinya dan pemerintah ternyata terbukti tidak bisa mengatasi.
 
Darurat yang lain di bidang ekonomi rakyat dibiarkan keok dijadikan sapi perah, dengan kenaikan harga melejit sejadi-jadinya, dilakukan para pedagang menjelang   memasuki Ramadhan dan Idul Fitri Juni 2016 ini. Padahal pemerintah sudah menerbitkan berbelas jilid seri perbaikan ekonomi agar ekonomi kebih efisien, dengan serenceng  pengumuman masuknya modal dari Cina, Jepang Rusia dan setiap kunjungan Presiden Joko yang gencar akhir-akhir ini ke luar negeri. Tapi hasilnya nol, bahkan kabar berbagai perusahaah multi nasional raksasa satu persatu bangkrut usahanya di Indonesia diikuti PHK di pusat-pusat industri di kota-kota besar Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan dan Bandung. 
 
Darurat berkaitan  soal politik niscaya munculnya isu  panas bangkitnya PKI yang gencar meminta rehabilitasi nama baik, ganti rugi Rp2 M/orang karena menjadi korban pembantaian 1965, padahal peristiwa G 30 S/PKI terang-benderang justru sebagai Kudeta PKI sendiri. Pembalikan fakta yang luar biasa. Kecenderungan ‘merapat’ ke ideologi komunis pun ditandai pemerintah yang makin mesra dengan Beijing dan Moskow dengan kunjungan Presiden Joko bertemu pemimpin Cina dan Putin pemimpin Rusia.
 
Kalangan militer dan Islam yang sangat gelisah dengan kondisi darurat kebangsaan ini, khususnya dengan semakin longgarnya kesempatan kepada golongan Cina  diberikan untuk memasuki dunia plolitik, ditandai pencapaian  Ahok menduduki kursi gubernur DKI dan akan maju kembali jabatannya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Diskusi-diskusi terbatas di kalangan purnawirawan pun tak terelakkan digelar di mana-mana dengan nada keprihatinan yang mendalam.
 
 Tatkala bertemu dengan para kyai dan habaib di kediaman KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii (13/5), Mantan Pangdam Jaya (1998) dan Wakil Menteri Pertahanan RI (2009-2014) Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, juga menyatakan ia banyak diajak berdiskusi soal darurat kebangsaaan yang sangat memprihatinkan itu. Sjafrie menanggapi kondisi darurat apa yang terjadi di NKRI bisa dikatakan seperti istilah Jawa : “Piring Gempil” atau piring yang pecah di sebagian sisinya. Untuk mengatasinya  menurut Sjafrie bisa dengan cara mengganti “Piring Gempil” itu. 
 
Pernyataan Sjafrie itu ditanggapi para kyai sebagai mengganti Gubernur DKI Jakarta Ahok. Sedangkan Sjafrie sendiri belakangan namanya gencar disebut-sebut akan dicalonkan Gerindra sebagai Cagub dari partai pimpinan Prabowo dipasangkan dengan Sandiaga Uno. 
 
Lebih jauh komentar Sjafrie itu juga dilanjutkan dengan komentar Sekjen FUI (Forum Umat Islam) KH. Al-Khaththath, yang  menyebut, lebih dari “Piring Gempil” negeri ini bahkan  mengalami “Omah Bubrah” –juga istilah Jawa—yang mengacu adanya rumah yang rusak dan hancur.
 
Untuk membaca  kondisi yang separah itu, tapi toh kalangan yang paling berwenang tidak peduli, hal ini dengan melihat sikap dan respons pemerintah seperti digambarkan di atas sebagai ayal-ayalan. Seolah-olah  berlaku tanggap cepat dengan hendak menerbitkan Perppu kejahatan seksual pada anak-anak, ternyata hal itu hanyalah wacana belaka. Kalangan politik yang hanya mengurus dirinya sendiri dengan membiarkan rakyat Indonesia apapun kondisinya, terlihat pada diri pemimpin Golkar yang sibuk pada Munas Luar biasa di Bali. Munas Golkar tengah Mei lalu di Bali, justru mempertontonkan kebiasaan lama politisi Golkar yang selalu mempertontonkan dekadensi moral bahkan hedonisme yang sangat kelam dan memalukan. Wacana pencalonan Ketua Umum Golkar bukanlah berlomba  gagasan bersifat terobosan inovatif di tengah kemelut kebangsaan yang kini berlaku darurat, dan hal itu seharusnya terserap pada tokoh-tokoh yang  inovatif yang dicalonkannya, juga bersih dari catatan hukum dan kental senantiasa berpihak kepada kepentingan rakyat yang sejati. Yang terjadi sebaliknya atau diagonal dengan kepentingana rakyat.
 
Dekadensi Moral para pemimpin Golkar itu tidak peduli terhadap suasana bangsa hari ini yang sungguh sangat darurat—mereka tidak sedikitpun menyinggung darurat kebangsaan itu—tapi cakar-cakaran di forum Munas Golkar seperti kebiasaan Golkar yang Hedonis itu. Tulisan Koran Rakyat Merdeka (14/4) berjudul: Munaslub Golkad dan Dekadensi Moral berpendapat peserta Munas Golkar mengidap dekadensi moral dan mengomentari Munas Golkar itu di antaranya :  

“Dekadensi moral seperti yang kita dengar di berita, di mana Balita 2,5 tahun diperkosa dan dibunuh mayatnya disimpan di lemari sebelum  dibuang, siswi SMP 14 tahun (Yuyun) di Bengkulu diperkosa kemudian dibunuh mayatnya dicampakkan di hutan, dosen perempuan 63 tahun ditikam mahasiswanya sampai mati, mahasiswi di bunuh di kampus, bandar narkoba jadi Raja Narkoba di Lapas dengan tabungan Rp3 trilyun lebih. Pornografi merajalela—situs porno konon baru diblokir Kominfo 760 ribu situs, entah benar entah bohong sudah diblokir—bersama putau, shabu-shabu, ekstasi dan puluhan anak bangsa mampus setiap hari karenanya narapidana di lapas-lapas ngamuk membakar LP, tapi korupsi terus menjadi hasrat dari pola hidup yang semakin greedy, dan di sisi lain eilt Golkar mencontohkan hedonisme itu………Kalau dulu para empu, para orang-orang bijak yang menjadi penjaga moral bangsa hidupnya di atas awan karena menjaga jarak dengan hal-hal bersifat duniawi, maka para elit partai Golkar kini hidup ibarat di dalam kandang kotor, di mana sesama mereka saling mengembik dan saling menyepak, berebut makan dan kuasa, semata-mata untuk mereka sendiri dan konco-konco mereka. Para elt Golkar adalah kumpulan kambing-kambing itu. Bagaimana mungkin nasib bangsa dan negeri ini masih mau dipercayakan kepada partai politik yang telah gagal 32 tahun berkuasa tidak memberikan legacy moral kepada  bangsa  dan negeri ini kecuali selain KKN dan Hedonisme itu… “
 
Kondisi negeri ini memang seperti “Piring Gempil” dan “Omah Bubrah” itu. Menyedihkan. 
 
(Aru Syeif Assadullah)
0 Komentar