Beking Gua Sekarang Presiden

Rabu, 20 April 2016 - 19:51 WIB | Dilihat : 8450
Beking Gua Sekarang Presiden Ahok bersama Jokowi

 

Gubernur Ahok jadi pusaran berita karena membeli lahan milik Rumah Sakit Sumber Waras. Dia pun mereklamasi  Teluk Jakarta. Semuanya  dilakukan dengan seenak perutnya sendiri.
 
Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok punya kebiasaan yang sulit ditiru orang lain. Setiap kali punya masalah di luaran dia pun pergi menemui Presiden. Padahal siapa pun tahu, menemui Presiden bukan pekerjaan gampang di Republik ini. Soalnya, Presiden itu orang  yang sibuk dengan beban pekerjaan yang berat. Nasib ratusan juta rakyat berada di pundaknya.
 
Ternyata bagi Ahok soal itu jadi gampang.  Entah bagaimana caranya. Mungkin karena dulu dia dan Jokowi pernah satu perahu dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Jokowi terpilih jadi gubernur dan Ahok jadi wakilnya.  Belakangan  setelah Jokowi terpilih jadi Presiden, Ahok naik jadi Gubernur.
 
Maka  Jumat, 8 April lalu,  Ahok  terlihat menjumpai Presiden Jokowi di Istana Negara. Ahok lagi punya masalah. Gubernur Jakarta itu telah menerima surat panggilan dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), bahwa dia akan diperiksa Selasa, 12 April 2016  sebagai saksi dalam perkara korupsi  pembelian Rumah Sakit Sumber Waras oleh Pemprov DKI Jakarta. Jadi, sebelum diperiksa KPK, Ahok cepat-cepat lapor ke Presiden.
 
Pemeriksaan KPK  itu ada  hubungannya dengan hasil audit investigasi BPK  (Badan Pemeriksa Keuangan)  --- tentang pembelian  lahan sekitar 3,6 hektar milik Rumah Sakit Sumber Waras oleh Pemda DKI --- yang telah diserahkan badan auditor negara tersebut ke KPK.
 
Ternyata setelah kasus Rumah Sakit Sumber Waras  diperiksa BPK ditemukan sejumlah keanehan  dalam pembelian lahan milik rumah sakit  yang berlokasi di kawasan Jakarta Barat itu. BPK pun menemukan  kerugian keuangan negara sebesar Rp173  Milyar, dari harga lahan yang dibeli seharga Rp755 milyar. Dengan kata  lain pembelian lahan itu berbau korupsi, dan Gubernur Ahok terlibat langsung di dalamnya.  
 
Singkat cerita, BPK  selaku auditor negara sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945,  menyerahkan hasil audit itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena itulah Gubernur Ahok diperiksa KPK.
 
Seusai bertemu Presiden Jokowi  seperti disebut di atas, Gubernur Ahok pun  bicarakepada wartawan.  “Beliau tanya juga, ya saya laporinlah kasus Sumber Waras, gimana saya dipanggil jadi saksi di KPK,” kata Ahok.
 
Anda tak usah jadi  orang yang terlalu pintar untuk bisa memahami bahwa sebenarnya tujuan Ahok menemui Presiden pada hari itu. Tak lain untuk melaporkan bahwa dia akan diperiksa KPK  karena pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Apalagi dalam  pembelian itu Ahok turun langsung menemui Nyonya Kartini Muljadi, Ketua Yayasan Rumah Sakit Sumber Waras, pemilik lahan. Wajar semua itu jadi kecurigaan BPK.
 
Sungguh aneh seorang Gubernur  turun tangan langsung membeli lahan yang konon akan digunakan Pemda DKI sebagai lokasi pembangunan rumah sakit kanker. Alangkah repotnya seorang Gubernur harus menemui pemilik lahan ke sana-ke mari, setiap kali Pemda ingin membeli lahan.

Beking Gua Sekarang Presiden
 
Dari keterlibatan Gubernur Ahok seperti itu, dengan mudah dapat ditafsirkan bahwa kunjungan Ahok ke Presiden Jokowi  tadi  tak lain tak bukan untuk menakut-nakuti pimpinan KPK, sehingga pemeriksaannya  bisa berlangsung ‘’mulus’’. Jangan sampai terjadi ramalan sejumlah orang bahwa sekeluarnya dari kantor KPK di Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan, setelah menjalani pemeriksaan,  Ahok akan  mengenakan seragam oranye (sebagaimana tersangka KPK lainnya), dan langsung dikirim ke rumah tahanan KPK.
 
Tapi rupanya nasib Ahok beda. Masyarakat tentu belum lupa pernyataan Ahok kepada wartawan sebagai menanggapi  terpilihnya Jokowi sebagai Presiden melalui pemilihan Presiden (Pilpres) di tahun  2014. Pada waktu itu kepada wartawan Ahok berkata dengan nada berkelakar, ‘’Beking Gua sekarang Presiden.’’
 
Jadi bisa dipahami kedatangan Ahok ke Istana menemui Jokowi, tak lain, tak bukan, untuk menarik  perhatian para komisioner KPK yang terpilih berkat usulan Presiden. Selain itu Ahok tentu bermaksud  melaporkan perkaranya kepada Presiden untuk mengharapkan bantuan konkret bila ternyata dia bermasalah di KPK.
 
Oleh karena itu tak aneh kalau di tengah masyarakat beredar berita bahwa Gubernur  Ahok tak ditangkap dan ditahan KPK dalam kasus korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, karena perlindungan Presiden Jokowi. Atau, meminjam pernyataan Ahok tadi: Presiden Jokowi adalah bekingnya.
 
Wakil Ketua DPR-RI Fadli  Zon sempat mengutip kabar yang beredar di masyarakat itu dalam berbagai kesempatan. Tapi Fadli meminta Presiden Jokowi untuk segera mengklarifikasi kabar itu, bila memang  tak benar.
 
Bantahan datang dari Menko Polhukam Luhut  Pandjaitan. ‘’Saya kita nggak ada begiitu.Tak ada itu,” kata Luhut kepada wartawan, Senin, 17 April lalu, di lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, Jakarta.  Menurut Luhut masyarakat tak perlu menghebohkan kasus itu. Serahkan saja ke KPK, institusi hukum yang sekarang  menangani perkara korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras.
 
Tapi banyak orang meragukan pernyataan Menko Polhukam itu. Pertanyaan terpenting: Apakah benar Presiden Jokowi tak akan melindungi Gubernur Ahok? Soalnya, yang terjadi selama ini seolah-olah Ahok bisa melakukan apa saja tanpa ada tindakan terhadapnya.
 
Lihatlah apa yang terjadi di Teluk Jakarta, ketika Gubernur Ahok memberikan izin kepada sejumlah pengusaha kakap untuk melakukan reklamasi sehingga membentuk belasan pulau baru. Pulau-pulau itu pun sekarang sudah mulai dibangun gedung-gedung jangkung, jalan raya, dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Padahal perizinannya tak beres. Gubernur Ahok tak berhak mengeluarkan izin reklamasi pulau-pulau itu.
 
Tapi ulau-pulau ini sekarang sudah diiklankan ke dunia internasional, terutama ke Singapore, Hongkong, dan China. Para pengusaha bermata sipit di sana diundang Ahok untuk  ramai-ramai datang berinvestasi ke Teluk Jakarta. Sementara itu para nelayan Teluk Jakarta menjerit karena tangkapan mereka anjlok setelah proyek reklamasi Gubernur Ahok. Tapi siapa peduli nasib mereka?. 

[AMRAN NASUTION]
0 Komentar