Bupati Gagal dari Purwakarta

Minggu, 20 Desember 2015 - 10:21 WIB | Dilihat : 27805
 Bupati Gagal dari Purwakarta Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama harimau putih.

 

Rakyat Purwakarta kesulitan air bersih. Sementara bupatinya hanya sibuk mengurusi aliran kepercayaan yang mencemarkan Islam
 
Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampaknya adalah satu-satunya bupati di Indonesia yang aktif menyebarkan sebuah aliran kepercayaan yang bertentangan dengan Islam, agama yang dianut mayoritas penduduk kabupaten itu.
 
Akibatnya, 30 November lalu, Muhamad Sahid Kalja (26 tahun), warga Purwakarta, melaporkan bupati itu ke Polda Jawa Barat. Menurut Sahid Kalja dalam laporannya, Bupati itu telah menyebarkan permusuhan atau penodaan terhadap Islam, dan itu adalah perbuatan kriminal yang melawan hukum.
 
Tindak penistaan terhadap Islam dilakukan Bupati Dedi Mulyadi melalui ceramah atau pidato, buku, dan rekaman audio visual, yang isinya berupa permusuhan atau pelecehan terhadap Islam selaku agama yang diakui dan dianut mayoritas rakyat.
 
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Sulistyo Pudjo Hartono membenarkan bahwa Bupati Purwakarta itu memang sudah dilaporkan warganya ke Polda karena tuduhan menyebarkan permusuhan dan menistakan Islam.
 
Beberapa barang bukti telah disampaikan pelapor, seperti buku dan rekaman audio visual yang berisi kompilasi tayangan pidato orang nomor satu di Kabupaten Purwakarta itu.
 
Pada pidatonya, Bupati Dedi kerap kali melontarkan kata-kata yang bisa menyulut amarah penganut Islam. Polisi masih menyelidiki dan mendalami laporan tersebut. "Kami masih dalami kasus ini dan akan memeriksa saksi," tukas Komisaris Besar (Pol) Sulistyo.
 
Karena yang dilaporkan adalah seorang Bupati maka ummat Islam Purwakarta harus mengawal terus perkara ini. Soalnya, jabatan bupati bisa membuat perkara ini menguap tak karuan sebagaimana yang sering terjadi di sini.
 
Oleh karena itulah Senin, 7 November lalu, ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Muslim Sunda sengaja menggelar unjuk rasa di depan Gedung Sate alias kantor Gubernur Jawa Barat di  Bandung. Mereka menuntut Polda harus segera memproses hukum Bupati Dedi Mulyadi atas tindak penistaan agama yang dilakukannya sebagaimana telah dilaporkan Masyarakat Muslim Sunda Purwakarta ke Polda Jawa Barat.
 
"Pelaporan ini harus segera diproses," ujar koordinator Aliansi Pergerakan Jawa Barat yang juga tergabung dalam Aliansi Masyarakat Muslim Sunda Asep Syaripudin, kepada wartawan.
 
Asep khawatir kalau tak segera ditangani aparat hukum kasus ini akan menjadi konflik horizontal. Asep menilai, Sunda sangat identik dengan ajaran Islam. Maka masyarakat Muslim Sunda, berkumpul di depan Kantor Gubernur Jabar untuk menyuarakan bahwa adat istiadat Sunda sejalan dengan syariat Islam.
 
Namun, dia menambahkan, apa yang dilakukan Bupati Purwakarta malah sebaliknya. Sunda, disimbolkan dengan patung-patung dan simbol-simbol mistik lainnya yang bertentangan dengan syariat Islam dan mencederai ummat Islam Purwakarta yang identik dengan ‘’kota pesantren’’ itu..  "Maka wajar jika umat Islam di Purwakarta melaporkan Dedi Mulyadi ke Polda Jabar," kata Asep..
 
Asep  pun mendesak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk melestarikan adat dan budaya Sunda yang sejalan dengan syariat Islam, serta menjaga kerukunan sesama orang Sunda, khususnya masyarakat Jawa Barat.
 
HABIB RIZIEQ PUN DITUDUH
 
Merasa terpojok, Bupati Purwakarta dan para pendukungnya tak kehilangan akal. Terbukti dari gencarnya serangan terhadap tokoh puncak Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, seolah-olah telah melecehkan salam Sunda ‘’Sampurasun’’.
 
Dalam sebuah ceramahnya di Purwakarta beberapa waktu lalu, Habib Rizieq dituduh memplesetkan salam dalam bahasa Sunda, ‘’sampurasun’’ dengan ‘’campur racun’’. Inilah yang dijadikan alasan bagi para pendukung Bupati Purwakarta untuk menyerang Habib Rizieq, muballig terkemuka dari Jakarta itu. Sampurasun yang dalam bahasa Sunda bermakna ucapan selamat itu, mereka tuduh dibikin main-main oleh Habib Rizieq.
 
Tak kepalang tanggung, tokoh-tokoh Jawa Barat pun mereka kompori, termasuk Acil Bimbo, pemusik beken di tahun 1970-an yang kini sudah tua dan kehilangan pamor. Tapi nyatanya, sekali pun sudah melibatkan Acil Bimbo dan tokoh lainnya, rakyat Jawa Barat tak terprovokasi kasus ini. Semua adem-adem saja.
 
Ketua Paguyuban Sundawani Robby Maulana Zulkarnaen, misalnya, mengatakan, merasa tersinggung dan marah dengan pelecehan ini. Tapi dia tak mau sampai lengah karena dikhawatirkan di balik peristiwa ini ada rencana pemecahan NKRI. "Ujungnya untuk menghancurkan bangsa, yakni membuat benrok masalah budaya dan agama," katanya. 
 
Sebaliknya, kalangan ulama dari Front Pembela Islam (FPI) dan Manhajus Solihin, Purwakarta, Jawa Barat terus menyerang kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi. Kalangan ini, menuding kota itu sudah darurat akidah. 
 
Mereka menuding Bupati Dedi telah menyimpangkan keyakinan dan mengubah "Assalamualaikum" menjadi salam Sunda, Sampurasun. Tudingan ini, terposting dalam akun resmi majelis Manhajus Solihin, pimpinan Muhammad Syahid Joban. 
 
Menanggapi hal itu, Bupati Dedi Mulyadi, mengatakan, Purwakarta saat ini bukan darurat akidah. Melainkan, darurat air bersih saat musim kemarau. "Darurat akidah dari sebelah mana? Yang riil itu, kami darurat air bersih," kata Dedi, kepada wartawam, Jumat.
 
Menurut Dedi, ketimbang menanggapi permasalahan yang tak mendasar, ia lebih berpikir bagaimana caranya untuk bisa melayani masyarakat. Terutama, dalam dua tahun sisa kepemimpinannya. 
 
Salah satu yang mengganjal hatinya, yakni soal air bersih. Pasalnya, 12 dari 17 kecamatan yang ada, setiap musim kemarau selalu darurat air bersih. Mayoritas warganya, mengeluhkan soal tak adanya air.
 
Apa yang terjadi ini hanya membuktikan bahwa bupati ini hanya berhasil mengadu domba rakyatnya, tapi gagal menyejahterakan mereka. Bahkan rakyatnya kesulitan hanya untuk mencari air bersih. []
0 Komentar