Anies Baswedan pun Menyerang Prabowo

Senin, 02 Juni 2014 - 16:28 WIB | Dilihat : 25521
Anies Baswedan pun Menyerang Prabowo Anis Baswedan

Aktivis mahasiswa UGM ini dulu adalah pengagum Prabowo. Dia gagal menjadi Capres Partai Demokrat, lalu jadi pendukung Jokowi
 


Boleh saja Anies Baswedan keturunan pejuang. Titelnya segepok, termasuk doktor dari sebuah universitas terkenal di Amerika Serikat. Tapi begitu tampil sebagai politisi kelihatan betapa konyolnya dia. Betapa tidak?

Dulu ketika tampil sebagai calon presiden di konvensi Partai Demokrat, Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu menyerang Jokowi, calon presiden dari koalisi PDIP. Anies mengecam blusukan yang jadi isu andalan Jokowi. ‘’Saya tak mau pencitraan dengan blusukan. Saya memang akan datang dan mendengarkan rakyat,’’ kata Anis  (lihat Inilah.com, 19 Desember 2013).

Sekarang dia berbalik jadi ‘’pemuja’’ Jokowi. Dengan ngotot dia membantah pernah mengejek blusukan Jokowi. Belum cukup, Anies malah secara berlebihan mengampanyekan Jokowi seolah seorang Muslim yang taat. Ini yang fatal. Tak perlu ia sekolah jauh ke Amerika kalau hanya mau jadi ‘’juru bual’’ Jokowi yang bekas pedagang mebel dari Solo. Pasti lebih banyak lagi orang kecewa pada sikap Anies, begitu tahu dia adalah cucu kandung A.R.Baswedan, tokoh Partai Masyumi yang terkenal itu.

Anies  bilang bahwa Jokowi ternyata bisa menjadi imam shalat berjamaah. "Nggak usah ngomong, orang lihat Jokowi jadi imam shalat. Dengar dia baca doa, baca iftitah itu lancar kok. Malah yang nuduh itu yang saya ragu bisa baca iftitah sebagus Jokowi," kata Anies.

Nah, di sinilah masalah Anies. Mungkin karena terlalu lama tinggal di Amerika dia lupa kalau membaca doa iftitah  dalam shalat dilakukan dengan berbisik sehingga nyaris tak terdengar. ‘’Dalam shalat apa pun,’’ kata Ridwan Saidi, budayawan yang bekas tokoh PPP itu, ‘’Iftitah dibaca sir, nyaris tanpa suara.’’ Jadi kalau Anies Baswedan tak berbohong bahwa benar dia mendengar Jokowi membaca doa iftitah, kata Ridwan, ‘’berarti Anies tempelkan telinganya di ketiak Jokowi.’’

Selain mengeluarkan pernyataan ‘’menjilat-jilat’’ Jokowi, Anies pun menyerang Prabowo Subianto dengan mengejeknya sekian lama menghambur-hamburkan uang mengiklankan diri di televisi. Dia lupa bahwa Prabowo bukan pejabat yang hidup dari gaji pemerintah. Prabowo memeras keringat sendiri sebagai pengusaha.

Oleh karena itu dia tentu bebas mau gunakan duitnya untuk apa saja selagi patut dan tak melanggar hukum. Mengapa Anies dengan nyinyir mau mengatur Prabowo menggunakan duitnya sendiri? Mengapa Prabowo harus minta izin Anies untuk membelanjakan hasil keringatnya sendiri?

Anies tak mempersoalkan Jokowi yang sejak 2012 sudah sibuk menggalang wartawan antara lain melalui kelompok sosial media Jasmev, untuk membangun pencitraan demi pencitraan sehingga di mata publik dia menjelma menjadi seorang pejabat sederhana yang merakyat,  yang jujur dan anti-korupsi, dan sejumlah bla, bla, bla lainnya.
 
Anies Sebagai Tokoh Antikorupsi

Ternyata sewaktu menjadi Walikota Solo saja dia sudah terlibat macam-macam. Di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, ada laporan keterlibatan Jokowi dalam menjual lahan Pemda kepada PT Sritex, perusahaan tekstil dan pakaian jadi terkenal di Solo. Ada lagi laporan keterlibatan Sang Walikota Solo itu dalam masalah anggaran pendidikan puluhan juta rupiah.

Sayang KPK tak pernah sekali pun memanggil Jokowi untuk laporan-laporan itu. Kuat dugaan ada pejabat KPK yang berusaha memanfaatkan kasus itu untuk ‘’dibarterkan’’ dengan kesempatan menjadi ‘’calon presiden’’ dari Jokowi. Yang pasti, Ketua KPK Abraham Samad memang kelihatan amat bersemangat menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi. Nama Samad baru menghilang setelah Megawati menetapkan Jusuf Kalla sebagai calon Wakil Presiden untuk Jokowi.

Demikian pula Kejaksaan Agung RI yang sekarang sedang memeriksa korupsi pengadaan 600-an bus kota Transjakarta senilai Rp 1,5 trilyun. Kasus impor bus dari China ini menyangkut soal penggelembungan harga. Setidaknya 2 pejabat rendahan yang terlibat telah ditahan. Lalu, Udar Pristono, bekas Kepala Dinas Perhubungan Jakarta telah dinyatakan sebagai tersangka beserta 2 stafnya. Maka sekarang publik mempertanyakan keterlibatan dan tanggung jawab Gubernur Jokowi (sebagai atasan langsung Udar Pristono) dalam korupsi bernilai trilyunan rupiah ini. Sorotan keterlibatan Sang Gubernur terutama karena peran dominan Michael Bimo Putranto dalam impor bus China ini.

Bimo, teman Jokowi sesama pedagang mebel dulu di Solo. Kini  Bimo merupakan salah seorang Wakil Ketua DPD PDI Jawa Tengah, selain menjadi ‘’orang penting’’ yang disegani para staf di lingkungan Pemda DKI Jakarta, selaku teman dekat gubernur.

Dengan berbagai kasus korupsi yang menyenggol Jokowi, memang puja dan puji Anies Baswedan kepadanya menjadi pertanyaan. Soalnya Anies selama ini membangun citra sebagai tokoh anti-korupsi. Ketika KPK dilanda isu korupsi, Anies memimpin komite etik untuk menghukum orang-orang KPK yang terlibat. Lalu mengapa sekarang Anies jadi pendukung Jokowi yang tersenggol beberapa kasus korupsi?

Tampaknya ini masalah politik dan kekuasaan. Anies Baswedan, sebagaimana Dahlan Iskan (pemimpin Group Jawa Pos), adalah para calon presiden peserta konvensi yang diadakan Partai Demokrat.

Ternyata para Capres yang direkrut lewat konvensi itu tak satu pun yang dicalonkan Partai Demokrat menjadi presiden. Alasannya, menurut Presiden SBY, suara yang diperoleh partai itu dalam Pemilu legislatif, tak memadai. Sebagai dua tokoh paling menonjol dalam konvensi itu wajar kalau Anies dan Dahlan menjadi orang yang paling kecewa kepada keputusan itu. Maka tak aneh keduanya kemudian menggabungkan diri sebagai pendukung Capres Jokowi, bukan Capres Prabowo yang mereka anggap teman dekat Presiden SBY.

Paling tidak kalau Jokowi terpilih jadi Presiden, Anies dan Dahlan bisa diangkat menjadi menteri, atau pejabat penting lainnya. Untuk itu semua bisa ditabrak, termasuk menyerang Prabowo, yang di tahun 1990-an pernah sangat dikagumi oleh Anies Baswedan. Sebagai seorang aktivis kampus pada waktu itu berakali-kali Anies harus datang dari Yogyakarta ke Jakarta, hanya untuk mendengarkan Mayor Jenderal Prabowo Subianto, Danjen Kopassus pada waktu itu berbicara.  (AN)

0 Komentar