Daarul Quran Resmikan Jembatan Kehidupan Parung Panjang

14 Januari 14:21 | Dilihat : 456
Daarul Quran Resmikan Jembatan Kehidupan Parung Panjang Persmian Pembangunan Jembatan PPPA Daarul Quran, di desa Jagabita, Parung Panjang, Bogor, Ahad (14/1/2018). Foto: Shodiq Ramadhan

Bogor (SI Online) - PPPA Daarul Qur’an meresmikan pembangunan jembatan beton yang terletak di sungai Cimanceuri, Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, pada Ahad (14/1/2018). 

Pembangunan jembatan yang dimulai pada Agustus 2017 tersebut, saat ini sudah seratus persen dapat digunakan oleh warga setempat. 

Hadir dalam peresmian itu para pegiat media sosial, donatur, wartawan dari berbagai media massa dan pimpinan Paytren sebagai mitra donor dalam pembangunan jembatan kehidupan bagi desa Jagabita. 

“Melalui program Jembatan Kehidupan, PPPA berupaya membantu kesulitan masyarakat yang daerahnya belum tersentuh tangan-tangan pemerintah, wilayah terisolir dan mengalami ketimpangan ekonomi, sosial serta pendidikan, sehingga desa tersebut tumbuh mandiri,” ujar Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur’an Tarmizi As Sidiq.

Penantian 100 Tahun

Di Desa Jagabita sendiri, sudah hampir 100 tahun warganya menanti jembatan tua tersebut berubah menjadi jembatan yang akan berdiri kokoh. Sebab, jembatan Cimanceuri adalah satu-satunya akses utama keluar kampung. 

Sebelum akhirnya dibangun, jembatan itu masih berupa bambu seadanya dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki dan kendaraan bermotor. Itu pun harus bergantian. Tak heran warga yang lewat bisa saja jatuh tercebur sewaktu-waktu dikarenakan rapuhnya kondisi jembatan.

Setiap tahun mereka harus membangun kembali jembatan dengan iuran seikhlasnya, lantaran belum ada sama sekali bantuan dari pemerintah. 

Jika musim hujan tiba, warga kesulitan melewati jembatan. Jalan kampung yang masih tanah merah, membuat jembatan yang dibangun dengan bambu, licin untuk dilalui. Akses pendidikan, ekonomi dan aktivitas masyarakat Jagabita pun terhambat jika musim penghujan tiba, sebab air sungai meluap melahap jembatan bambu mereka. Upah yang tak seberapa membuat mereka tak mampu membangun jembatan dengan beton-beton yang kuat,

“Ada sekitar 270 KK di sini. Kebanyakan memang lulusan SD saja, hanya jadi petani, buruh, ya kerjanya serabutan saja,” ujar Yadi Setiadi, Ketua RT 03 Desa Jagabita. 

HIngga akhirnya, penantian 100 tahun itu pun berakhir. Warga yang telah menanti untuk memiliki jembatan kokoh sudah tak sabar ingin menggunakan jembatan baru. 

Rasa khawatir bila musim penghujan tiba pun sirna, sebab jembatan mereka kini benar-benar kokoh. Bambu-bambu tua telah berganti tiang-tiang beton. Selama proses pembangunan pun, warga terlibat secara langsung. 

“Kearifan lokal yang dibangun oleh PPPA Daarul Qur’an bertujuan agar warga turut menjaga keberadaan dan kelestarian jembatan baru ini” ujar Tarmizi. 

Usai jembatan dibangun, PPPA Daarul Qur'an akan menata dakwah masyarakat setempat dengan nilai-nilai Alquran dengan mendirikan Kampung Quran atau Rumah Tahfizh. 

Dakwah menjadi sangat penting dan pokok agar masyarakat dan anak-anak tumbuh menjadi religius dan berakhlak mulia.

Hal itu selaras dengan program “Jembatan Kehidupan” yang tak lepas dari tema besar “Membangun Indonesia dan Dunia dengan Alquran”. 

Red: Shodiq Ramadhan

0 Komentar