Ustaz Abdul Shomad Dipersekusi Massa Intoleran, API Jabar Desak Kapolda Bali Dicopot

Sabtu, 09 Desember 2017 - 20:36 WIB | Dilihat : 2208
Ustaz Abdul Shomad Dipersekusi Massa Intoleran, API Jabar Desak Kapolda Bali Dicopot Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, Ustaz Asep Syaripudin.

Bandung (SI Online) - Apa yang menimpa mubaligh kondang asal Riau, Ustaz Abdul Shomad (UAS) di Bali kemarin adalah sebuah tindakan premanisme oleh sekelompok orang yang mengaku mewakili masyarakat Hindu Bali. Hal ini terlihat jelas lewat video yang beredar di media sosial dimana beberapa orang terlihat membawa senjata tajam (sajam).

Demikian disampaikan Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, Ustaz Asep Syaripudin di Bandung, Sabtu (9/12/2017). Ustadz Asep menambahkan jika maksud kelompok tersebut sekedar ingin menolak UAS berdakwah maka cukup dengan melayangkan surat dan dialog saja.

“Tapi kan tidak, dilihat dari video saja cukup miris. Ada sekelompok orang yang dengan vulgar membawa senjata tajam ditempat umum begitu. Menurut kami ini bukan sekedar penolakan atau terror mental namun sudah mengarah pada ancaman kekerasan fisik bahkan pembunuhan. Coba bayangkan buat apa aksi menolak orang mau berdakwah dengan membawa senjata tajam?,”tegasnya.

Untuk itu API Jabar mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku dan mengusut tuntas aksi tersebut serta memproses secara hukum atas tindakan yang mengancam nyawa seseorang tersebut. Sebab, sambung Ust.Asep, jika tidak diproses hukum maka sangat berpotensi menimbulkan konflik horizontal di masyarakat.

“Apalagi ini yang melakukan kelompok mengaku dari masyarakat Hindu terdap seorang ustaz yang notabene dari kalangan umat Islam sehingga unsur SARA sangat kental,”ungkapnya.

Selain itu API Jabar juga meminta Mabel Polri segera mengevaluasi kinerja jajaran Polda Bali dan Polres Denpasar. Jika abai dalam melaksanakan tugas khususnya memberikan perlindungan dan rasa aman kepada setiap warga negara khususnya UAS maka segera memberikan sanksi.

“Jika terbukti abai dalam melaksanakan tugasnya maka kita mendesak Kapolda Bali atau minimal Kapolres Depansar dicopot,” lanjutnya.

Apa yang dilakuan sekelompok orang tersebut terhadap UAS juga menunjukkan over acting yang berlebihan dimana UAS dianggap anti NKRI dan anti kebhinekaan. Menurut ustaz Asep justru yang umat Islam khususnya para ulama yang sangat cinta NKRI dan menghormati kebhinekaan.

“Orang-orang itu harus belajar dan membaca sejarah bagaimana peran umat Islam, para ulama, kyai dan santri dalam perjuangan untuk kemerdekaan bangsa ini. Jadi jangan berlaku paling cinta NKRI tapi tindakannya mengancam sesama anak bangsa. Jangan mengaku paling toleransi tapi tindakannya mengancam nyawa orang dari agama lain yang mau berdakwah,”tegasnya.

Aksi premanisme tersebut menurut ust. Asep juga dapat merusak citra Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional. Harusnya, sambung ust.Asep masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu menujukkan sikap ramah dan terbuka serta menghormati pendatang yang berbeda agama sehingga citra Bali sebagai tujuan wisata yang terbuka dapat terjaga.

“Bali sebagai kawasan wisata tentunya banyak juga orang yang datang membawa misi agama untuk disampaikan kepada sesamanya, misalnya seorang pendeta berceramah kepada orang Kristen, Biksu berceramah kepada orang Budha dan sebagainya. Lha, ini ada seorang ulama yang akan berdakwah kepada umat Islam mengapa di tolak?. Mengapa hanya kepada orang Islam saja yang diperlakukan demikian? Mengapa tidak dengan yang lain,”tanya.

Meski pada akhirnya UAS diperbolehkan berceramah namun API Jabar tetap meminta agar insiden tersebut diusut tuntas dan pelakunya dapat dikenai sanksi hukum. Sebab menurut ustadz Asep insiden tersebut bukan sekedar aksi penolakan biasa namun sudah mengarahkan pada upaya mengancam nyawa seseorang terbukti dengan adanya yang membawa sajam.

“Kita minta pelakunya segera ditangkap dan diproses hukum agar insiden ini tidak melebar kemana-mana,” pungkasnya. 

Rep: Suwandi   

0 Komentar