Keluarga Muallaf Dhuafa Ini Butuh Bantuan Modal Usaha

06 Desember 12:02 | Dilihat : 518
Keluarga Muallaf Dhuafa Ini Butuh Bantuan Modal Usaha Keluarga muallaf dhuafa Yuhendra-Yuliani.

Bekasi (SI Online) - Yuliani, ibu rumah tangga berusia 44 tahun ini mengaku sangat bahagia dan khusyu’ setelah hidup baru sebagai seorang Muslimah. Perjalanan hidup dari penganut Kristen menjadi muallaf berhijab, dilalui penuh liku-liku dan ujian hidup.

Singkat cerita, setelah hijrah meninggalkan Kristen, ia dijauhi sanak saudaranya yang berbeda iman. Lalu harus berpisah sang suami yang meninggal dunia dalam keadaan masih Kristen. Yuli pun harus menanggung beban hidup ketiga anaknya yang berstatus yatim dengan bekerja sebagai buruh cuci pakaian dan pengamen. Wanita paruh baya ini ingin hidup mandiri merajut masa depan dengan membuka warung kopi. 

Ibu tiga anak yatim ini terlahir di Malang, Jawa Timur, 25 Juni 1973 silam dalam keluarga Kristen taat dan yang rajin dalam berbagai kegiatan gereja. Namanya tercatat sebagai jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bukit Zaitun, Sitiarjo, Malang, Jawa Timur.

Usia keislamannya baru berusia dua tahun. Ia mengikrarkan dua kalimat syahadat pada 17 Juni 2015 di Masjid Al-Ikhlas, Dukuh Bima Bekasi, Jawa Barat. Keputusan masuk Islam dilakukan setelah mengalami pergolakan iman selama sepuluh tahun.

Menuai Hidayah

Yuli mendapat hidayah Ilahi melalui cara yang unik. Allah memanggilnya ke jalan yang benar melalui panggilan azan yang berkumandang lima waktu dari masjid tak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap mendengar lantunan azan shalat fardu, hatinya tergetar dan ia kerap meneteskan air mata, meski ia belum mengenal Islam sama sekali.

“Setiap mendengar suara azan, hati saya menangis,” kata Yuliani sambil menyeka air mata, saat dikunjungi Relawan IDC di rumah kontrakannya, Selasa (28/11/2017) pekan lalu.

Saat itu, mungkin sekeping iman sudah mulai tertanam di hatinya yang paling dalam. Namun, masih berat baginya untuk menyempurnakan dengan dua kalimat syahadat.

Tahun demi tahun ia lewati dengan pertentangan batin yang dahsyat. Namun iman di dadanya terus bertumbuh dan makin tak bisa dibendung. Setelah sepuluh tahun bergumul dalam pergolakan iman, Yuliani pun pasrah kepada takdir Allah. Ia memberanikan diri berhijrah, siap dengan segala resikonya.

Alhamdulillah, saya bahagia dan senang semenjak saya menjadi muallaf. Semua jadi serba indah dibanding kehidupan saya yang dulu,” ujar Yuliani.

Diuji dengan Kekurangan

Setelah menjadi Muslimah, pertumbuhan iman Yuli terus diuji Allah dengan berbagai cobaan hidup. Ia terbuang dari keluarga besarnya karena sudah berbeda iman. Lalu bercerai dengan sang suami, Ronald Nainggolan yang bertahan dalam kekafirannya. Tak berselang lama, mantan suaminya itu meninggal dunia.

Lengkaplah beban hidup Yuliani. Dengan status janda, ia harus menafkahi kebutuhan hidup dan biaya sekolah ketiga anak yatimnya. Pantang menyerah..!!! Untuk bertahan hidup, “Kera Ngalam” ini mengais rezeki dengan berprofesi sebagai buruh cuci. Karena penghasilannya tak menentu, Yuli terpaksa menutupi kebutuhan hidupnya dengan mengamen di jalan.

“Saya bekerja setiap hari sebagai kuli cuci dan gosok setrika baju. Kalau ada waktu longgar, saya ngamen karena pendapatan kurang mencukupi,” ungkapnya.

Dalam kesulitan hidup itu, Yuli mendapat hadiah penghiburan Allah berupa pendamping hidup baru yang seiman. Ia menikah dengan Agus Yuhendra, tukang ojek berusia 47 tahun yang juga berstatus muallaf. Yuhendra berhijrah memeluk Islam pada 2001 silam.

Dalam keimanan, rumah tangga muallaf ini sangat klop, sakinah mawaddah warahmah. Namun dalam hal ekonomi, pasangan pengamen dan tukang ojek ini sama-sama dhuafa yang memprihatinkan.

Yuhendra, sang suami, bila kondisi fisiknya sehat, ia bekerja sebagai tukang ojek pangkalan (opang) dengan penghasilan tak menentu. Motor yang digunakan untuk ojek pun harus ia sewa Rp20 ribu setiap harinya.

“Ya penghasilan tidak tentu, biasanya 50 ribu rupiah. Itu pun harus bayar sewa motor Rp20 ribu setiap hari,” ujar Yuhendra.

Bila kondisi fisiknya melemah, mau tidak mau ia harus absen mencari nafkah. Hal itu karena penyakit diabetes yang terus menggerogoti tubuhnya sejak 2007. Meski begitu, Agus sebagai kepala keluarga tetap bertanggung jawab. Ia berusaha mencari nafkah semampunya, demi keluarga tercinta.

Di balik kesulitan ada kemudahan, di balik penderitaan muncul kebahagiaan. Alhamdulillah, beberapa bulan lalu jejak muallaf Yuli kini diikuti kedua anak yatimnya. Diky Valentino Hamonangan Nainggolan (11) dan Grace Oktaviani Nainggolan (8) yang sebelumnya beragama Kristen, mendapat hidayah dan masuk Islam pada Februari 2017 lalu.

“Alhamdulillah, anak-anak saya menjadi muallaf. Saya senang, saya bahagia. Semenjak jadi muallaf, semuanya jadi indah,” ucapnya.

Kini tersisa satu anak Yuliani yang belum hidup seiman. Putri sulungnya, Devy Risky Lucyzia Nainggolan (18), yang masih beragama Kristen. Meski saat ini tinggal bersama, Yuliani tak memaksakan putri sulungnya itu untuk memeluk Islam. Ia hanya berdoa, semoga kelak Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada putri sulungnya itu.
 
Butuh Modal Usaha

Dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan, keluarga muallaf yang di dalamnya ada tiga anak yatim ini tetap berpegang teguh pada akidah tauhid dan akhlak Islami.

Satu-satu sumber kekuatan tempat bergantung adalah Allah Ta’ala. Yuli menjadi kuat, tegar dan sabar dengan shalat, doa dan tawakkal.

“Tanpa campur tangan Allah, saya lemah, saya tidak kuat. Ibadah dan shalat itu yang memberi kekuatan buat saya dalam menghadapi kehidupan,” tuturnya sambil meneteskan air mata.

Mereka sangat ingin sekali bangkit dari keterpurukan ekonomi, hidup mandiri dan sejahtera bersama keluarga, tapi terbentur modal usaha.

Yuli ingin mengais rezeki yang lebih baik agar berhenti mengamen di jalan. Ia ingin pekerjaan yang lebih baik lagi, agar bisa membayar kontrakan rumah, membiayai kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak yatimnya.

Obsesinya, Yuli ingin membuka kedai warung kopi, indomie dan aneka panganan gorengan. Ia hanya butuh modal usaha sebesar Rp2,5 juta. 

“Saya ingin dagang gorengan, kopi dan mie rebus, supaya tidak ngamen lagi. Saya membutuhkan modal sekitar dua juta lima ratus ribu untuk usaha. Semoga Allah mendengar doa dan saya kaum muslimin bisa membantu saya,” harapnya.

Sedangkan Yuhendra, sebagai tulang punggung keluarga, ia berharap ada bantuan sepeda motor yang layak untuk sumber mata pencahariannya. Dengan motor milik sendiri, ia lebih nyaman bekerja dan tidak dikejar-kejar setoran sewa motor lagi.

“Saya masih mengasuh anak-anak yatim yang sekolah dan mereka butuh biaya. Inginnya ke depan ada perubahan, syukur kalau tadinya motor boleh sewa, bisa dapat motor sendiri. Walaupun bekas, yang penting layak pakai,” harapnya.

Infaq untuk membantu keluarga yatim muallaf ini bisa disalurkan dalam program Peduli Kasih Muallaf:
Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605  a.n: Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006  a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497  a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)

Informasi: 08122.700020.

0 Komentar