1111 Ibu-Ibu dari 75 Nagari Kabupaten Tanah Datar Catat Rekor MURI

01 Desember 17:49 | Dilihat : 460
1111 Ibu-Ibu dari 75 Nagari Kabupaten Tanah Datar Catat Rekor MURI Ilustrasi

Tanah Datar (SI Online)-Ada yang menarik dalam Festival Pesona Budaya Minangkabau (FPBM) yang berlangsung dari Rabu (29 November 2017) hingga Ahad (3 Desember 2017). Bukan saja karena saat pembukaan dihadiri istri Wakil Presiden, Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan Wakil Ketua DPR Dr. H. Fadli Zon. Melainkan ada pemandangan khas, ketika 1.111 ibu-ibu dari 75 Nagari datang dengan membawa jambua untuk disuguhkan dalam kesempatan bajamba bagi seluruh tamu yang hadir.

Jumlah ibu-ibu mencapai 1.111 dengan dengan membawa jambua dalam jumlah sama, datang dari 75 Nagari (setingkat desa), merupakan yang terbesar dalam bajamba (makan bersama) dari yang selama ini terlaksana di berbagai bentuk perhelatan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.  Jumlah jambua  dan bajamba yang demikian besar, dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai rekor baru.

Jambua, merupakan aneka masakan khas Sumatera Barat, yang ditempatkan dalam suatu wadah untuk disajikan dalam kesempatan  bajamba.  Masakan khas tersebut diantaranya terdiri dari rendang daging (daging dengan serat pilihan; baik daging sapi atau kerbau,red), ayam dengan bumbu sambel hijau karena dari cabai hijau, balado tanak disebut pula lado tanak---yaitu ikan dan jengkol yang diolah dalam sambal. Kemudian ada lauk (gorengan) diantaranya ada perkedel terbuat dari kentang berbalut telur. Disertakan pula buah segar maupun yang sudah dalam bentuk pudding. Sedang nasinya, agar ketika disajika tetap hangat  dibawa terpisah dalam termos, yang ditenteng.

Paling menarik lagi, ibu-ibu yang membawa jambua; datang dari 75 Nagari ini, rata-rata mengenakan pakaian adat yang cukup gemerlap. Kain penutup kepala dibentuk khas dilengkapi dengan hiasan tingkuluak sunting berbentuk runcing. Jambua, membawanya disunggi di atas kepala,  dalam suatu wadah berpenutup kain gemerlap kemerahan yang dihias songket dengan benang keemasan.

Ibu-ibu pembawa jambua  ini, rata-rata mengenakan baju kurung dengan warna senada dengan kain penutup jambua. Sedang  kain untuk bawahan, yang dikenakan berupa kain songket. Pakaian bergemerlap ada warna keemasan benang songket. Tampak demikian ketat, namun ibu-ibu tetap leluasa bergerak;  baik ketika berjalan maupun naik tangga dan kemudian duduk bersimpuh di sepanjang teras  rumah gadang Istano Basa Pagaruyung. Ketika bajamba dilaksanakan, masing-masing ibu-ibu berhadapan dengan empat atau lima orang; yang dilayani untuk makan bersama (bajamba).

Kepada sejumlah wartawan, Bupati Tanah Datar, Irdiansyah Tarmizi menyebut, pembuatan hidangan terhimpun dalam jambua  sepenuhnya merupakan prakarsa masing-masing nagari yang ada di Kabupaten Tanah Datar, yang berjumlah 75 Nagari. “Setidaknya, masing-masing nagari ada yang membawa 15 jambua,  ada pula yang kurang dari 15 jambua. Demikian  diatur sehingga berjumlah 1.111 jambua” ungkapnya. 

Jumlah jambua  yang disajikan untuk bajamba dalam kesempatan pembukaan festival, cukup berlebih. Karena keseluruhan jambua cukup untuk disajikan bagi 4.000 – 4.500 orang tamu yang hadir dalam pembukaan festival. Satu jambua, bukan untuk satu orang. Melainkan cukup untuk makan empat atau lima orang tamu----dan dimakan dengan cara beramai-ramai atau bersama.

Tamu dari Negeri Jiran

Seorang ibu asal Nagari Lintau yang duduknya agak terpisah dengan ibu-ibu lainnya mengungkap, telah  mempersiapkan jambua  yang dibawanya diantaranya  menggunakan daging sapi terbaik dan pilihan, untuk masakan rendang istimewa. “Karena jambua  ini untuk acara yang sangat spesial, disiapkan untuk sajian bagi tamu-tamu istimewa yang masuk dalam rombongan ibu Wakil Presiden,” ungkapnya dengan tanpa menyebut, pihaknya dipercaya oleh panitia untuk menyiapkan jambua yang hendak disajikan bagi para tamu VIP. 

Makan bersama yang disebut dengan bajamba, di wilayah Kabupaten Tanah Datar masih dipertahankan sebagai tradisi yang dalam perjamuan istimewa, diantaranya dalam sebuah pesta pernikahan.  Kali ini bajamba terasa jauh lebih istimewa, karena terselenggara di rumah tradisional (gadang) Istano Basa Pagaruyung. Dinding-dinding (papan) rumah di beri penutup kain-kain songket dengan warna-warni mencolok----sekaligus sebagai hiasan yang sangat megah dan gemerlap.

Makan bersama, sembari ngobrol---walaupun diantaranya masing-masing sebelumnya saling tidak kenal. Di tengah berlangsung bajamba yang diikuti oleh istri Wakil Presiden ini, terasa lebih meriah lagi ketika para datuk (sesepuh) dari sejumlah Nagari, saling berbalas pantun berbahasa Minang.

Hadir, sebagai tamu spesial pula,  dalam pembukaan FPBM ini; Tan Sri Rais Yatim, Menteri Penasihat Kebudayaan Malaysia, bersama beberapa orang dalam rombongan cukup besar dengan mengenakan pakaian adat warna biru. “Kami datang atas imbauan dunsanak (sanak saudara, red) di Minang,” sebutnya ketika memberikan sambutan.

Bagian lain diungkapkan sangat mendukung terlaksananya sebuah festival budaya. “Sebab sangat berarti  untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda, sekaligus sebagai upaya melestarikan. Tidak hanya untuk keperluan pengembangan pariwisata. Melainkan harus dapat merasuk ke dalam diri,” katanya.

Pulang Kampung

Festival Pesona Budaya Minang (FPBM), dihajadkan sebagai kesempatan berkumpulnya warga Minang terutama yang tengah merantau. Warga masyarakat Tanah Datar menyebutnya sebagai Orang Kampuang Pulang Kampuang----Orang Kampung Pulang Kampung.

Menteri Tan Sri Rais Yatim dan rombongan di tengah-tengah bajamba, sama sekali tidak tampak canggung. Bahkan tampak tidak asing dengan bajamba, karena memang memiliki kekerabatan dengan warga Minangkabau. Demikian juga dengan Hj. Mufidah Jusuf Kalla. Selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), ikut duduk dalam bajamba. Mengenakan baju kurung merah tua, tampak tidak canggung kendati harus makan dengan tidak bersendok dan garpu. “Festival ini harus dilestarikan. Hendaknya dapat terlaksana setiap tahun,” kata Hj Mufidah memberikan dorongan. “Lambat laun, festival ini tentu akan menjadi terkenal,” tambahnya setelah menabuh bedug tanda festival dimulai.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengungkap hal senada. Festival, untuk merawat dan melestarikan budaya lokal. Karenanya kemudian dijadikan agenda tahunan. Terselenggara menjelang akhir tahun. Seperti halnya kali ini, berlangsung hingga Ahad, 3 Desember. 

Rep: Muhammad Halwan / dari berbagai sumber

0 Komentar