Fadli Zon: Keris Benda Budaya Asli Indonesia Pertama yang Diakui UNESCO

26 November 01:50 | Dilihat : 752
Fadli Zon: Keris Benda Budaya Asli Indonesia Pertama yang Diakui UNESCO Fadli Zon memberikan sambutan saat membuka pameran (foto: SI/Muhammad Halwan)

Surakarta (SI Online)-Keris merupakan yang pertama diakui sebagai benda budaya asal Indonesia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa, UNESCO. Setelah itu, baru benda-benda budaya lain diantaranya seperti wayang, angklung serta yang lain, mendapat pengakuan sebagai benda budaya asal Indonesia.

“Bahasa pengakuan itu terhadap Keris; A Masterpice of the Oral and Intengible Heritage of Humanity yang diberikan pada 25 November 2005,” ungkap Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc., Sabtu, 25 November 2017 sore, saat membuka Pameran 1001 Keris dan Senjata Tradisional Nusantara, Keris Fest, di Kampus II Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. 

Rencaanya, pameran bertempat di gedung Galeri ini berlangsung hingga Selasa, 28 November 2017 mendatang. 

Hadir pada kesempatan itu di antaranya Rektor ISI Surakarta yang diwakili Pembantu Rektor III Dr. Pramutomo M.Hum, serta para rektor dari sejumlah Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di kota Surakarta dan kota-kota di sekitar Surakarta. Sedang dari kalangan kedinasan, hadir sejumlah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Dinas Pariwisata dari Kota Surakarta serta daerah-daerah Kabupaten di sekitar Surakarta.     

Lebih lanjut Fadli Zon menunjuk, bertepatan dengan itu tanggal penandatanganan pengakuan dari Unesco 25 November, kini 12 tahun dan diperingati dengan menyelenggarakan Pameran 1001 Keris dan Senjata Tradisional Nusantara. 

“Dalam hal jumlah keris dan senjata tradisional yang dipamerkan, menurut Bapak Jaya Suprana merupakan yang terbanyak dari semua pameran keris yang pernah terselenggara. Rekor ini, mendapatkan Piagam Rekor Muri, ” ungkap Fadli Zon seraya menambahkan, pameran-pameran yang pernah diselenggarakan diantaranya Pameran Keris Majapahit, Pameran Keris Bali dan Lombok. Sedang dari pameran sekarang ini, dapat disaksikan berbagai bentuk Kujang serta berbagai bentuk senjata tradisional dari banyak wilayah di nusantara ini. 

Penetapan Unesco, lanjut Wakil Ketua DPR ini, menuntut konskuensi. Perkerisan Nasional harus terus berkegiatan. Desember mendatang, SNKI mengutus dua orang ke UNESCO Korea Selatan; untuk  menyampaikan pertanggung jawaban dengan menyampaikan laporan semua bentuk kegiatan yang dilaksanakan terkait dengan penetapan tersebut; sehingga penetapan keris sebagai benda budaya Indonesia yang sudah berjalan selama 12 tahun ini, tidak dibatalkan.  

Disamping, terus berkegiatan dalam perkerisan nasional, keris kini juga mendapatkan apresiasi akademis. ISI Surakarta sebagai tempat penyelenggaraan Keris Fest Pameran 1001 Keris dan Senjata Tradisional Nusantara ini, memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap keris sebagai benda budaya Indonesia. Bahkan ISI Surakarta memiliki Program Studi Keris pada Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSDR). 

“Semula saya kira prodi Keris yang ada di ISI Surakarta ini,  merupakan yang pertama ada di Indonesia. Ternyata, menurut informasi, Program Studi Keris itu merupakan yang pertama ada di dunia,” ungkap Fadli.

Pulangkan Keris Pusaka Indonesia 

Fadli Zon saat berada di ruang pameran, Galeri ISI Surakarta. (foto: SI/Muhammad Halwan)
 

Bagian lain Fadli Zon mengungkap, dalam perkembangan perkerisan nasional, belum banyak ditunjang oleh karya tulis yang telah dibukukan. Sedang untuk lebih mengembangkan perkerisan sangat diperlukan edukasi kepada segenap masyarakat. Keris, merupakan  benda budaya dengan pencapaian artistik yang sangat tinggi serta filosofi yang sangat luas.

Fadli Zon yang baru saja mengakhiri perjalanan ke berbagai Negara di Eropa kemudian mengungkapkan betapa masyarakat internasional sangat mengagumi artistik keris dan berbagai bentuk senjata tradisional. Diantaranya seperti Polandia. Terdapat kolektor benda-benda budaya. Bahkan memiliki koleksi lebih seribu bilah keris. Namun, kolektor tersebut merasa kekurangan informasi tentang keris yang dikoleksi karena kurangnya leteratur tentang keris.  

Kemudian di Belanda, disebut terdapat dua museum yang menyimpan lebih dari 5.000 bilah keris, termasuk di dalamnya sejumlah keris dari para pejuang kemerdekaan. Seperti Teuku Umar dan Pangeran Diponegoro. Harus diupayakan dan dicarikan jalan, agar benda-benda budaya Indonesia peninggalan para leluhur tersebut dapat dibawa kembali ke tanah air.

Pada kesempatan sebelumnya, Sekjen SNKI Basuki Teguh Yuwono, selaku Ketua Panitia Keris Fest mengungkap, setelah pameran dibuka, segera dilanjutkan dengan Rapat Kerja ke III SNKI. Ahad besok, diselenggarakan Seminar Kuratorial Keris dan Senjata Tradisional. Dari seminar ini diharapkan dapat merumuskan standar kurator bagi keris, baik keris sepuh maupun yang baru dibuat oleh para empu.

Pada kesempatan tiga hari penyelenggaraan pameran tersebut, di bagian luar galeri juga diselenggarakan workshop tempa, dederan, mendak dan warangka yang dilakukan oleh sejumlah empu dan secara terbuka dapat diikuti umum dan para mahasiswa Program Studi Keris.

Terpenting lagi dari penyelenggaraan pameran ini,  juga terdapat pelaksanaan peluncuran Program Keris Goes to School maupun Keris Goes to Campus. Hadir pada kesempatan ini ratusan siswa-siswi dari sejumlah SMA maupun SMK. 

“Program ini dirancang, khusus sebagai upaya pewarisan budaya dari generasi ke generasi,” ungkap Basuki Teguh Yuwono yang juga dikenal sebagai staf pengajar di ISI Surakarta dan empu muda di Surakarta. 

Rep: Muhammad Halwan    

0 Komentar