Sudirman: Kepemimpinan tidak Bisa Disubkontrakan

16 Oktober 15:43 | Dilihat : 542
Sudirman: Kepemimpinan tidak Bisa Disubkontrakan Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) Sudirman Said dalam Focus Discussion Group (FGD) di Semarang, Senin (16/10)

Semarang (SI Online) - Kepemimpinan tidak bisa disubkontrakan (outsource), karena kepemimpinan menyangkut keteladanan, visi dan misi, kerja keras, serta kejujuran.

"Kalau bikin program gampang, menyusun anggaran mudah banyak ahlinya. Bisa dioutsource. Tapi yang paling penting adalah bagaimana cara mengelola itu semua," kata Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) Sudirman Said dalam Focus Discussion Group (FGD) di Semarang, Senin (16/10)

FGD bertajuk "Membangun Jawa Tengah" itu juga dihadiri para bakal calon gubernur Jateng untuk Pilkada 2018 mendatang.

Kepemimpinan, lanjut Sudirman, menjadi kunci jalan tidaknya program yang disusun. Jika pemimpinnya baik, jujur, lurus, tidak memiliki kepentingan pribadi maka banyak hal sulit bisa diselesaikan. Jalan keluarpun selalu ada.

Menurut dia, seringkali pemimpin sulit mencari jalan keluar karena berbenturan dengan kepentingan pribadi atau kelompoknya. "Kalau semata-mata bekerja untuk kepentingan rakyat maka mencari jalan keluar relatif lebih mudah," ujar dia.

Sudirman mencontohkan, dalam perjalanan karirnya dia banyak menyelesaikan persoalan-persoalan pelik. Misalnya, dia pernah ditugasi membenahi bisnis TNI, kemudian membangun kembali Aceh dan Nias melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, membereskan sistem pengadaan barang di Pertamina, juga membereskan bisnis PT Pindad.

Saat menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman juga memangkas mafia migas dengan menutup PT Petral, perusahaan yang menjadi perantara  impor bahan bakar minyak. Triliunan rupiah uang negara dapat dihemat dari pembubaran Petral. "Setiap tahun ada Rp12 triliun yang bisa dihemat dari pembubaran Petral," terang Sudirman.

Dan kerja beres-beres ala Sudirman yang paling fenomenal adalah saat ia membongkar kongkalingkong dalam perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia. Dalam upaya, yang kemudian dikenal dengan kasus Papa Minta Saham ini, Sudirman mengaku berhadapan dengan kekuatan besar, yang kemudian membuatnya "lulus lebih cepat" dari Kabinet Kerja. 

Pekerjaan beres-beres berikutnya yang ditangani pria kelahiran Brebes ini adalah saat ditunjuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjadi Ketua Tim Sinkronisasi. Di sini Sudirman menjadi jembatan untuk menyelaraskan program dan janji kampanye Anies-Sandi dengan program kerja yang telah dibuat gubernur sebelumnya. Tugas ini pun diselesaikan dengan baik. Bahkan baik Anies maupun Sandi menyatakan puas atas kinerja Tim Sinkronisasi yang dipimpin Sudirman Said. 

"Intinya, kalau pemimpin bekerja semata untuk perbaikan dan kesejahteraan rakyat maka akan selalu mudah mencari jalan keluar bagi tiap persoalan yang ada," imbuh dia.

Untuk itu Sudirman mengajak orang-orang baik terjun mewarnai dunia politik agar makin banyak pemimpin yang bisa dijadikan teladan.  

"Dengan begitu keprihatinan masyarakat dengan makin banyaknya kepala daerah yang terkena OTT bisa dihindarkan," pungkas Sudirman.

red: shodiq ramadhan

0 Komentar