100 Tahun Warga Jagabita Menanti Jembatan

12 Agustus 14:01 | Dilihat : 394
 100 Tahun Warga Jagabita Menanti Jembatan Berdoa usai peletakan batu pertama Jembatan Ar-Rahman di Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Sabtu pagi (12/08)

Bogor (SI Online) -Hidup di desa dengan kondisi perekonomian yang terbatas, tentu bukan menjadi pilihan hidup sebagian besar masyarakat Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Meski tinggal di desa, mereka inginnya hidup secara makmur dan berkecukupan. Apalagi jika akses transportasi, ekonomi, pendidikan dan lainnya juga mudah, tentu hal itu menjadi dambaan mereka semua. 

Tetapi, kenyataan tidak selamanya sesuai dengan keinginan. Berada di perbatasan, menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Akses transportasi mereka sangat terbatas. Secara pendidikan, dari sekitar 270 Kepala Keluarga di Desa Jagabita, sebagian besar warga hanya menamatkan Sekolah Dasar. Sebagian masyarakat bertani, kuli bangunan dan buruh pabrik. “Kerjanya serabutan saja,” kata Ketua RT 03 Desa Jagabita, Yadi Setiadi. 

Seorang nenek melintasi jembatan bambu sementara di atas Sungai Cimanceuri, Desa Jagabita, Kabupaten Bogor. 

Untuk mengakses ke wilayah Bogor, jaraknya teramat jauh. Mau tidak mau, mereka harus menyeberang ke desa tetangga, Desa Ciangir yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Sebab akses ke pekerjaan yang lebih layak, sebagai buruh pabrik atau yang lainnya, jauh lebih muda ke wilayah Tangerang. 

Kedua desa ini dipisahkan oleh sebuah sungai Cimanceuri yang cukup curam. Pada hari-hari biasa, air di sungai ini memang kecil. Tetapi tak jarang terjadi banjir jika sudah turun hujan. 

Untuk keluar dari keterisoliran, warga berinisiatif membangun jembatan yang dibuat dari bambu. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tak mampu membuat jembatan beton permanen. “Tiap tahun kami urunan seadanya membangun jembatan bambu ini,” kata Yadi. 

Jangan dibayangkan, jembatan itu lebar dan besar. Panjangnya sekitar 20 meter dengan lebar satu meter. Dengan ukuran itu, hanya pejalan kaki dan motor yang bisa melaluinya. Itupun harus bergantian. 

Yadi mengakui, selama ini belum ada bantuan dari pemerintah untuk membangun jembatan ini. Selama 100 tahun warga Jagabita menanti jembatan yang lebih kokoh. Sebab, saat musim hujan tiba mereka pasti kesulitan melewati jembatan bambu itu. Jalanan desa yang masih berupa tanah merah membuat jembatan mabu itu licin dan sulit dilalui. Akibatnya akses pendidikan, ekonomi dan aktivista warga masyarakat terhambat. 

Jembatan yang mudah rapuh ini juga pernah memakan korban. “Tiap tahun ada yang jatuh saat melintasi jembatan,” tambah Yadi. 

Jangankan jembatan, saat Suara Islam Online berkunjung ke dsa ini, salah satu tempat ibadah, sebuah mushola, yang berdiri di dekat rencana pendirian jembatan, juga jauh dari kata layak. Dinding bangunan, atap, karpet dan tempat wudhu sama sekali tidak memadai. 

Ustaz Tarmizi bersama komunitas PayTren di lokasi pembangunan jembatan Jagabita. 

Karena itulah Daarul Qur’an bersama dengan perusahaan yang dimiliki Ustaz Yusuf Mansur, PayTren, hadir ke desa ini untuk membangun jembatan yang diidamkan masyarakat Jagabita. 

Daarul Qur’an sendi memiliki program membangun 100 jembatan kehidupan. Jembatan di Jagabita ini merupakan yang kedua dibangun. 

“Kami berharap dengan membuka akses jalan seperti pembangunan jembatan ini masyarakat terbebas dari ketimpangan dan Jagabita tumbuh menjadi desa mandiri,” kata Direktur Eksekutif PPPA Daarul Quran Tarmizi As Sidiq, di lokasi pembangunan jembatan, Desa Jagabita, Kabupaten Bogor, Sabtu pagi (12/08/2017).

Tarmizi berharap, selain perekonomian, dengan dibangunnya jembatan ini akan menjadi wasilah bagi warga untuk meningkatkan amal ibadah mereka. “Nanti harus  dibentuk Kampung Quran, ibadahnya harus dikencengin,” kata orang dekat Yusuf Mansur itu. 

Red: shodiq ramadhan

0 Komentar