Innalillahi, 27 Orang Hilang Tertimbun Bukit Longsor di Ponorogo

02 April 10:54 | Dilihat : 326
Innalillahi, 27 Orang Hilang Tertimbun Bukit Longsor di Ponorogo Ilustrasi: Longsor di Ponorogo (foto: Jawa Pos)

Ponorogo (SI Online) - “Kejadiannya sangat cepat. Kiranya kurang dari lima menit. Bukit tinggi yang ada di belakang perumahan kami, berderak dahsyat, longsor bergemuruh dan meluncur dengan cepat. Sejumlah  27 orang warga  hilang dan Tidak kurang dari 32 rumah di tiga Rukun Tetangga (RT) hacur, dan sebagian besar bahkan tertimbun.” 

Demikian diungkapkan seorang warga selamat, menggambarkan kejadian tebing tinggi longsor dahsyat berlangsung cepat;  di dusun Tangkil,  Desa Banaran,  Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kejadian Sabtu  (1 April 2017) pagi sekira Pk 08.00. Jumlah korban simpang siur. Semula disebut sejumlah 17 orang.  Kemudian data yang masuk ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melonjak menjadi 28 orang,  kemudian diralat menjadi 27 orang.

“Itu laporan terakhir dari Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni yang masuk hingga tadi malam; sebanyak 27 orang dinyatakan hilang. Sebelumnya memang disebutkan jumlah 17 orang dan 28 orang.  Namun  kemudian diralat lagi, menjadi 27 orang hilang setelah satu orang ditemukan masih hidup,” jelas Wakil Gubernur Jawa Timur Syaefullah Yusuf kepada wartawan.

Seharian Sabtu (1 April 2017) kemarin , Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat. Mengerahkan tidak kurang dari  450 personel, dengan menggunakan alat seadanya, melakukan evakuasi. “Lewat tengah hari,  evakuasi terpaksa dihentikan. Disamping karena mulai turun hujan, juga tanah tebing sangat labil dan terasa bergerak, dikhawatirkan justru terjadi  longsor susulan,” ungkap Setyo Budiono, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ponorogo.

Minggu hari ini (2 April 2017), relawan kembali bergerak mulai Pk 07.00 melanjutkan  evakuasi . Kali ini sudah didukung dua unit peralatan berat  (Backhoe).  Korban tertimbun material kelongsoran diperkirakan pada posisi yang cukup dalam antara tujuh hingga sepuluh meter. Perkiraan tersebut dengan memperhitungkan kondisi tebing yang longsor;   ketinggian lebih dari seratus meter, dengan panjang tidak kurang dari 300 meter. Tebing  dengan kemiringan lebih dari 75 persen ini, longsor dengan dahsyat. Bergerak  cepat menjangkau kawasan di bawahnya tidak kurang dari dua kilometer,  menghantam dan menimbun  32 rumah  di tiga RT dusun Tangkil, Desa Banaran, Kec,atan Pulung.   

Tar, panggilan Tarsipin, seorang warga yang selamat, ketika ditemui di Puskesmas Kecamatan Pulung mengungkap;  saat kejadian, tanah  bergerak dan meluncur  dengan cepat.  Ada  sebelas orang yang saat kejadian itu  tengah memanen jahe di ladang yang terletak di lereng bukit tersebut.  “Mereka  sudah berusaha berlalri. Namun tetap tidak dapat menyelamatkan diri.  Kami melihat, saudara-saudara kami itu lenyap tertimbun,  ditelan bumi,” ungkapnya dengan nada sedih.

Posko Pengungsian Sebelum Kejadian

Terpisah Setyo Budiono membenarkan kejadian yang berlasung demikian cepat.  Pihaknya  bersama sejumlah personel BPBD  sejak beberapa hari sebelum kejadian telah berada di sekitar lokasi. Sejak 20 hari silam telah diterima laporan adanya tanah retak. 

Seminggu terakhir intensitas hujan meningkat, menyusul kemudian terjadi longsoran tebing sepanjang  sekitar 15 meter. Sejak saat itu, dilakukan sosialisasi tanggap bencana kepada warga. Bahkan telah pula didirikan tenda-tenda besar untuk pengungsian warga.  Sejak tenda didirikan beberapa hari yang lalu, sudah sangat banyak warga yang pada malam hari, memilih mengungsi ke tenda di tiga lokasi, dan siang hari kembali  untuk bekerja di ladang.

Tragis. musibah ini terjadi justru di pagi hari yang terang benderang. Sebagian besar warga tidak berada di tenda pengungsian. Karena cuaca dirasa cerah, warga kembali ke rumah bahkan ke ladang  untuk bekerja.  Diantaranya  sekitar sebelas orang tengah memanen tanaman jahe.

Selain 27 orang yang sudah dinyatakan hilang, terdapat empat orang warga dilarikan ke Puskesmas Kecamatan Pulung. Dokter Indah Parwati, membenarkan di Puskesmas, tengah dirawat empat orang korban. Dua orang dengan luka lecet-lecet dan memar-memar, sedang dua orang lagi menderita trauma psikis---berkali-kali pingsan. Trauma yang dialami cukup berat, karena beberapa anggota keluarganya  dinyatakan hilang dan belum ditemukan.

Dari ukuran jumlah korban dan kerusakan yang diakibatkan bencana tanah lonsor ini, Suara Islam Online mencatat, kali ini tanah longsor yang terjadi di ujung selatan pegunungan Wilis di Timur Kota Kabupaten Ponorogo ini, merupakan bencana tanah longsor  terbesar yang pernah terjadi di wilayah Kabupaten Ponorogo  bahkan di wilayah Jawa Timur.  

Tercatat sebelum ini bencana tanah longsor di Jawa Timur,  hingga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar terjadi di lereng pegunungan Anjasmoro, di selatan Kota Kabupaten Jombang  pada  28 Januari 2014.  Saat itu menelan korban jiwa 14 orang tewas. Tujuh orang korban, pada hari pertama setelah kejadian dapat ditemukan. Keesokkan hari, lma orang korban ditemukan.  Pada hari ke empat pencarian, dapat ditemukan dua orang korban tersisa.

Bukit longsor di Dusun  Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, di lihat dari bukit yang tersisa, sebenarnya bukan merupakan bukit gersang dan gundul. Melinkan perbukitan ini cukup rimbun dengan berbagai jenis tanaman penghijauan. Pengerjaan tanah dalam perladangan dilakukan warga,  dengan terasering lahan berbentuk bangku cukup sempurna, dilengkapi pula saluran-saluran untuk membuang air dari atas ke bawah, teratur dengan cukup rapih.

Kelongsoran yang terjadi, disamping membawa jutaan meter kubik tanah berwarna merah kekuningan (jenis tanah Potsolit merah-kuning) yang cenderung gembur, juga membawa ribuan pepohonan penghijauan  yang rata-rata sudah berumur di atas sepuluh tahun.    

Hingga Minggu pagi tadi, sebuah surat kabar terbitan Jawa Timur, masih memberitakan jumlah korban hilang; 28 orang; mereka sembilan orang wanita yaitu;  Mujirah, Suyati, Pita, Prapti, Misri, Cikrak, Menit, Situn dan Siam.  Sedang  19 korban lelaki yaitu; Purnomo, Ardan, Bibit, Poniran, Litkhusnin, Arpin, Nadi, Kateni, Iwan, Kateno, Jadi, Puji, Suroso, Mukhlas, Suherman, Maryono, Suyono, Tolu dan  Katemun.

Tragis dialami korban Suyono. Menurut keterangan Sumari kakaknya, Suyono sebenarnya berpeluang menyelamatkan diri. Saat kejadian Suyono berada di tepi jalan desa. Mendengar tanah bergemuruh, tidak segera menyelamatkan diri, melainkan justru ingin melihat bergeraknya tanah longsor dan tidak mengira luncuran tanah tersebut mencapai posisinya berdiri.

Rep; muhammad halwan/dbs 

0 Komentar