Ancaman Bagi Para Kanzul Mal (Penimbun Harta)

Tumpukan dinar (uang emas)

Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Hai oang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagaian besar orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan bathil, dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka. ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At Taubah 34-35)

Emas (dinar) dan perak (dirham) di masa Al Qur’an diturunkan (hingga runtuhnya khilafah Islamiyyah tahun 1924) adalah mata uang ang digunakan oleh umat manusia, termasuk kaum muslimin, dalam aktivitas perekonomian mereka. Dalam pandangan Islam, uang emas dan perak sebagai standar nilai tukar barang dan jasa, berfungsi memperlancar arus barang dan jasa tersebut dalam dinamika ekonomi masyarakat. Juga karena dalam Islam, harta itu tidak boleh hanya berputar (terakumulasi) di kalangan orang kaya saja. (QS. Al Hasyr 7). Maka dapat dipahami bahwa Islam mengharamkan penyimpan uang dalam arti penarikan uang dari perdaran di masyarakat. Sebab itu, berarti menghambat bahkan menghentikan arus jasa dan barang. Dan tentunya jika itu terjadi berarti dinamika ekonomi terhenti.

Oleh karena itu, siapa saja yang menyimpan uang dalam ayat di atas diancam oleh Allah dengan azab yang pedih di neraka jahannam. Bahkan Allah menerangkan bentuk siksanya secara jelas/panjang mengingat bahayanya tindakan kriminal tersebut bagi dinamika ekonomi -yakni dengan membakar dahi, lambung, punggung mereka seolah lempengan-lempengan emas yang disimpannya tadi dijadikan oleh Allah Swt, sebagai seterika (mikwah) yang panasnya entah berapa ribu derajat- mengingat dalam hadits disebut panas api neraka 70 kali api dunia, lalu dipakai untuk menyeterika badan mereka. Na’udzubillahi min dzalik!

Siapa yang Dimaksud?

Menurut Imam Az Zamakhsyarii, orang-orang yang menyimpan emas (walladzina yaknizuunad dzahaba wal fidlata) dalam ayat tersebut adalah dua kemungkinan. Pertama, Para pendeta Yahudi dan Nasrani sesuai dengan teks permulaan ayat yang menyebut para ahbaar (ulama Yahudi) dan ruhbaan (ulama Nasharani) yang punya dua kebiasaan tercela, yaitu suka mengambil uang suap alias sogok (suka memakan harta manusia dengan cara bathil) dan bakhil (tak mau menginfaqan harta di jalan Allah). Jadi firman Allah Swt yang menyebut orang-orang (para pendeta) yang suka menyimpan uang (emas dan perak) mempersatukan atau mempertemukan kedua sifat buruk tersebut. Kedua, Kaum muslimin yang menyimpan atau menimbun uang tanpa menginfaqannya di jalan Allah (Tafsir Al Kasysyaf, Juz II hal 257)

Selain itu dapat kita pahami bahwa sekalipun ayat itu diturunkan tentang ahli kitab, namun kita kaum muslimin juga termasuk sasaran keumuman (mukhatabuun) sebagaimana di pangkal ayat Allah Swt berfirman : “ya ayyuhaladziina amanuu (wahai orang-orang yang beriman).”

Terhadap orang-orang mukmin yang menyimpan uangnya tanpa keperluan itu Rasulullah Saw bersabda :
Siapa saja yang meninggalkan (mati dalam keadaan menyimpan) yang kuning (uang emas) dan yang putih (uang perak), maka dia diseterika dengannya (di neraka kelak).” (HR. Bukhari), dan dalam riwayat Thabrani dengan lafazh yang lebih jelas, yaitu : “Tidaklah seseorang hamba mati dalam keadaan meninggalkan emas dan perak melainkan diseterika dengannya.

Dan dalam ayat di atas seterika panas dari emas di neraka itu diseterikakan kebagian-bagian tubuh tertentu, yaitu dahi, lambung, punggung. Menurut Al Qurtubi, diseterikanya wajah untuk menelanjangi keburukan pelaku serta menunjukkan seramnya yang tersiksa. Sedangkan diseterikanya punggung dan lambung menunjukan betapa pedih dan menyakitkan siksaan dari tindakan menyimpan emas dan perak itu. Oleh karena itulah, siksaan tubuh itu dikhususkan kepada tiga bagian itu.” (Tafsir Al Qurtubi, Juz 8 hal 129)

Apa Itu Kanzul Mal?

Kanzul mal adalah tindakan menyimpan uang tanpa keperluan untuk membelanjakannya lagi. Imam Thabrani meriwayatkan dari Abi Umamah bahwa seorang ahlus shuffah (yang tinggal di Masjid Nabawi) meninggal, lalu ditemukan di dalam selimut (sarungnya) sekeping uang dinar, lalu Rasulullah Saw menyebutnya “kayyah” (sepotong api neraka). Lalu ada orang lain yang meninggal dan ditemukan ditempat tidurnya dua keping dinar. Beliaupun mengomentari “kayyataan” (dua keping api neraka).

Ahlu shuffaf adalah orang-orang yang mewakafkan diri untuk senantiasa tinggal di masjid dan setia mengikuti Rasulullah Saw, serta rizki mereka ditanggung sepenuhnya oleh kaum muslimin, sehingga mereka tidak ada keperluan untuk menyimpan uang barang sedinar pun. Mereka tak perlu berbelanja. Sehinga sekalipun hanya sedinar atau dua dinar, yang ditemukan dalam selimut atau sarung mereka, hal itu adalah dilarang.

Oleh karena itu kegiatan menabung untuk mengumpulkan uang dengan tujuan untuk dibelanjakan di masa yang akan datang bukan termasuk kanzul mal. Larangan kanzul mal dalam ayat di atas bersifat mutlak. Maksudnya apapun bentuk emas dan peraknya (kecuali perhiasan wanita). Wallahua'lam

 

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar