Kondomisasi : Sebuah Ilusi Pemberantasan HIV/AIDS

Sejumlah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berunjuk rasa di Bundaran Majestik, di Medan, Sumut, Minggu (1/12). Mereka menyerukan kepada seluruh masyarakat bahwa seks bebas harus ditolak dan menjadi musuh bersama. (foto: Antara)

Atifa Rahmi
Mahasiswa Pendidikan Kimia, UPI

Dalam sebuah riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim dan riwayat ini sahih, Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah perzinahan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka”

Begitulah perkataan yang keluar dari lisan Rasulullah saw sekitar 14 abad silam. Dan kini, perkataan beliau dapat kita buktikan kebenarannya dengan mudah.

Saat ini, pergaulan bebas (zina) sudah merajalela di berbagai penjuru negeri. Zina sudah seperti wabah yang menjangkiti berbagai kalangan. Tidak hanya di kalangan orang dewasa saja, remaja bahkan anak- anak pun tak luput dari wabah ini. Tak hanya kalangan yang tak berpendidikan saja, kalangan berpendidikan pun tak mampu  menghindar dari godaan seks bebas ini. Tak jarang kita mendengar berita bahwa ada pejabat yang tersangkut kasus selingkuh atau bermain ‘mata’ dengan seorang perempuan yang bukan istrinya. Tentu juga masih segar dalam ingatan kita bagaimana siswa salah satu SMP di Jakarta melakukan seks bebas di ruangan kelas, bahkan perilaku yang menjijikkan itu didokumentasikan dan disebarkan ke dunia maya. Sungguh, sangat memprihatikan.

Dengan merebaknya seks bebas ini, berbagai penyakit kelamin pun muncul. Yang terbaru dan yang belum ditemukan obatnya adalah HIV/ AIDS. Dalam waktu 6 bulan saja , Januari hingga Juni  2013, Kementerian Kesehatan mendapati 1.996 penderita yang baru terinfeksi HIV/AIDS pada kelompok usia 15-24 tahun. Penyebabnya bermacam- macam. Namun,  seks bebas merupakan penyebab nomor wahid penularan virus HIV/ AIDS (Metrotvnews.com, 25/11/2013).

Menanggapi kenyataan ini, pemerintah kita mencanangkan program kondomisasi sebagai antisipasi terhadap penularan HIV/ AIDS (bbc.co.uk/indonesia, 25/6/2012). Melalui program ini, diharapkan dapat menekan kasus HIV /AIDS.

Jauh panggang dari api. Mungkin begitulah istilah yang dapat menggambarkan solusi yang diberikan pemerintah kita terhadap kenyataan yang ada. Kenyataannya, kondom tidaklah mampu mencegah penularan virus HIV/ AIDS. Berdasarkan sebuah hasil penelitian ilmiah yang diumumkan dalam konferensi AIDS se-dunia pada tahun 1995 di Chiangmai, Thailand, menyatakan bahwa pori-pori kondom tidak dapat mencegah penularan virus HIV/AIDS. Pasalnya, ukuran virus HIV  sebesar 1/250 mikron, jauh lebih kecil dari pori-pori kondom yang ukurannya hanya 1/60 mikron. Melihat kenyataan ini, tentu program kondomisasi tidaklah efektif untuk mengatasi masalah HIV/ AIDS. Lalu, solusi apa yang dapat menyelesaikan permasalahan ini?

Kembali ke hadits yang disampaikan oleh Rasulullah saw di atas, bahwa penyakit- penyakit ini muncul ketika perzinaan telah merajalela. Sehingga, untuk solusi real untuk mengatasi semua ini pun adalah hindari zina. Jangan pernah melakukan zina.  Islam telah menetapkan pernikahan sebagai sarana untuk menyalurkan gharizah na’u (naluri melestarikan jenis). Melalui mahligai rumah tangga, akan dilahirkan generasi – generasi yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

Namun, dalam kehidupan yang serba sekuler seperti saat ini, agama dipisahkan dari kehidupan. Alih- alih menghapuskan zina, pemerintah kita malah mencanangkan progam kondomisasi yang justru akan menumbuhsuburkan pratik perzinaan. Pasalnya, kondom tidak hanya diberikan kepada pasangan yang telah menikah, namun juga kepada mereka yang belum menikah bahkan kalangan remaja pun mendapat bagian. Tentu, penyebaran kondom secara gratis ini akan menjadi pemantik untuk seseorang melakukan zina. Seseorang yang  awalnya tidak mau berzina karena takut hamil atau tertular PMS, setelah maraknya kampanye seks aman dengan penggunaan kondom yang disertai dengan pembagian kondom secara gratis, ia akan terdorong untuk melakukan zina. Toh, seksnya kan sudah aman. Dari sini, dapat ditarik benang merah bahwa penerapan sekulerisme dapat menumbuhsuburkan perzinaan.

Oleh karena itu, untuk menghapuskan perzinaan yang menjadi donor utama penderita PMS, maka hapuskanlah sekulerisme. Hadirkan kembali Islam ke tengah- tengah kehidupan kita, biarkan Islam dan seperangkat aturannya mengatur kehidupan kita. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita melaksanakan semua aturan Islam, baik di ranah ibadah, akhlak maupun muamalah. Marilah kita menjadi hamba yang seperti difirmankan Allah swt berikut:

....dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (TQS. Al- Baqarah: 285)
 

 

Baca Juga

Komentar

02.12.201320:16
lumut
Menteri kesehatan dan pemerintah SAMA GOBLOGnya.
Nama

Email


security image
Kode
Komentar