Amanah Mendidik Anak Wanita

Sabtu, 02 November 2013 - 22:10 WIB | Dilihat : 15739
Amanah Mendidik Anak Wanita Ilustrasi siswi sekolah

Mendidik anak bukanlah suatu perkara yang mudah terutama dalam mendidik anak wanita. Namun hal itu terpulang kepada persepsi masing-masing karena ada juga yang menganggap sebaliknya. Mendidik anak wanita itu sulit adalah karena ia laksana seorang bidadari yang perlu dilindungi kehormatannya hingga amanat itu ia diserahkan kepada suaminya. Lebih-lebih pada kaum wanita mudah timbul fitnah terhadap diri dan keluarga.

Allah memperingatkan para orangtua agar menjaga anak-anak mereka. Sebab dari merekalah kita bisa ikut terseret ke neraka janannam. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Karena sulitnya mendidik anak wanita, pahalanya juga luar biasa.  Nabi Muhammad saw.  menerangkan bahwa kesabaran mendidik anak wanita akan menjadi tabir penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa memiliki tiga anak wanita kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak wanita tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.”  (HR. Ahmad)

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa betapa sulit mendidik anak-anak wanita agar mereka mampu menjaga kehormatan.  Survey BKKBN tahun 2010 menunjukkan bahwa 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks diluar nikah. Kondisi ini tak hanya terjadi di Jabodetabek, tren mengerikan juga terjadi di berbagai kota: Surabaya (54 %), Bandung (47 %), dan Medan (52 %).  Data survey tersebut, kalau memang benar, tentu sangat memprihatinkan.  Betapa mengerikan keadaan para remaja kita.
Oleh karena itu, perlu diperhatikan pola asuh dan cara mendidik anak-anak kita sejak dini, terutama anak wanita.  Bagaimana mendidik anak wanita menurut Islam?

Fondasi Agama yang Kuat

Imam Al Ghazali mengatakan, pendidikan utama bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Pendidikan agama adalah fondasi utama bagi pendidikan keluarga. Seperti: aqidah, mengenalkan hukum halal-haram, memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Saw, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca al-Qur’an.  “Hendaklah anak kecil diajari al-Qur’an, hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam,” ujar Al-Ghazali. Baru setelah itu diajarkan pada mereka pengetahuan umum.

Yang terjadi justru sebaliknya, banyak orangtua merasa sedih anaknya tak bisa matematika, bahasa Inggris atau IPA, namun mereka tenang-tenang saja ketika anaknya tak bisa membaca Al Quran, tak mengerti adab dan hukum Islam.
 

Mentutup Aurat dengan Sempurna

Biasakan sejak dini anak wanita memakai pakaian  wanita.  Jangan biarkan anak wanita memakai pakaian laki-laki, meskipun di dalam rumah.  Hal ini menjadi salah satu faktor untuk menumbuhkan sifat kewanitaannya.  Ketika bepergian keluar rumah, ajarkan anak menutup aurat.  Anak wanita dibiasakan sejak dini memakai kerudung (QS. 24: 31) dan jilbab (QS. 33: 59).  Jadi anak sudah memahami bedanya pakaian di dalam rumah dengan pakaian ketika keluar rumah sejak dini.  Meskipun pelaksanaannya tidak ketat, karena anak belum diwajibkan menutup aurat.

Jika dibiasakan dari kecil, maka anak wanita akan terbiasa menutup aurat dengan sempurna  setelah dewasa.  Anak wanita menjadi terbiasa dengan busana muslimahnya, meskipun  disekitarnya banyak yang tidak berbusana muslimah.  Jika tidak dibiasakan  sejak dini, maka akan sulit dan berat untuk mengajarkan anak wanita berbusana muslimah.  Karena teman-temannya dan kebanyakan wanita di masyarakat lebih banyak yang tidak berbusana muslimah.

Senang Melakukan Pekerjaan Rumah

Latih anak  wanita melakukan pekerjaan rumah, mulai dari hal yang paling sederhana.  Mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan rumah, merapikan barang-barang, memasak, menyetrika, mencuci piring, mencuci baju.  Meskipun di rumah ada pembantu, beri pemahaman kepada anak bahwa pembantu tugasnya membantu kita dalam menyelesaikan  pekerjaan rumah.  Kita tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Latihan melakukan pekerjaan rumah harus dibiasakan dari kecil.  Sehingga anak terbiasa dan semakin terasah sensitivitasnya dengan keadaan rumahnya.  Kelak semakin dewasa, dia akan menjadi anak yang rajin tanpa disuruh.

Memelihara Diri dan Penampilan

Ajarkan anak wanita untuk rajin membersihkan dan memelihara diri, seperti memelihara rambutnya, kulit dan wajahnya, giginya, kuku kaki dan tangannya, telinganya, hidungnya, menghilangkan bau badan, dan lain-lain.  Ajarkan anak wanita berdandan untuk memelihara penampilannya.  Memilih warna baju yang cocok dengan kerudungnya, sepatunya, tasnya, dan lain-lain.

Ajarkan anak untuk tidak ber-tabarruj (24: 60), yaitu berdandan yang mencolok dan menarik lawan jenis untuk melihatnya, tidak berlenggak lenggok, dan lain-lain.

Didik Sikap Sopan Santun

Anak wanita diajarkan sopan santun, bagaimana cara duduk yang sopan, cara berjalan wanita, cara makan yang sopan, berjalan melewati orangtua, cara berbicara kepada yang lebih tua, dan lain-lain.  Ajarkan dengan keteladanan seorang ibu.

Didik dengan Kelembutan

Wanita lebih menonjol dengan watak yang lembut. Anak wanita harus diajarkan dengan sikap lemah lembut, agar tumbuh dalam dirinya sifat lemah lembut keibuan.  Kelembutan seorang wanita terlihat dari perbuatan, tutur kata, dan tingkah lakunya. Orangtua tidak boleh terlalu keras ketika mendidik anak wanitanya, jangan sampai muncul rasa tertekan sehingga anak suka melakukan tindakan protes.

 Anak wanita harus lebih sering bermain dengan anak wanita, supaya tumbuh lebih kental sifat kewanitaannya.  Jangan sampai anak wanita selalu dan lebih sering bermain dengan anak laki-laki.  Kelak, anak wanita itu akan menjadi tomboy karena terpengaruh perangai anak laki-laki.

Tumbuhkan Sifat Sabar

Anak wanita harus diajarkan kesabaran, karena kelak dia akan berjuang untuk melahirkan anak.  Kelak dia akan menjadi ibu yang harus mendidik anak-anaknya dengan kesabaran.

Alat permainan

Anak wanita diberi permainan anak wanita.  Seperti: mainan masak memasak, boneka, alat make up, dan  lain-lain.  Anak wanita jangan  diberikan permaianan anak laki-laki, seperti: robot, pistol, dan lain-lain.  Sehingga sejak dini anak wanita cenderung kepada sifat wanita, dan sejak dini anak belajar memahami bahwa dirinya adalah seorang wanita yang berbeda dengan anak laki-laki. 

Dari kecil biasakan anak dengan permainan boneka, sehingga anak tumbuh rasa menyayangi bonekanya seperti seorang ibu menyayangi anaknya. 

Pergaulan dengan Lawan Jenis

Jangan biarkan anak wanita kita bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya (ikhtilath).   Biasakan anak wanita sering berkumpul dengan sesama wanita.  Anak wanita diajarkan bisa memahami bahwa dia boleh berkumpul dengan laki-laki kalau terpaksa dan selama ada keperluan. 

Larang anak wanita jika berdua-duaan dengan anak laki-laki.  Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah syetan (HR At Tirmidzi). 

Jadi, orangtua jangan pernah mendorong anak wanitanya yang ABG untuk mencari pacar. Yang memperihatinkan, banyak orangtua tidak sedih ketika anak-anak wanita mereka pergi –bahkan sampai pulang malam—dengan teman-teman prianya.

Ajarkan anak wanita agar tidak menerima tamu laki-laki jika sedang sendirian di rumah.  Rasululloh Saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki masuk kedalam rumah seorang wanita yang sedang ditinggal suaminya, kecuali bersamanya seorang laki-laki atau dua orang laki-laki” (HR Muslim).

Ajarkan anak wanita tidak boleh memandang lawan jenis dengan syahwat (QS 24: 30, 31).  Beritahu mereka, jika melihat laki-laki yang menarik hatinya maka ia harus memalingkan wajahnya.  Oleh karena itu, jangan biarkan anak-anak kita menonton acara TV yang mendorong adanya pergaulan bebas antara wanita dan laki-laki.

Penentu Peradaban

Jika kita berhasil mendidik anak wanita sesuai dengan syariat Islam, maka kita berperan serta untuk menentukan peradaban umat manusia di masa mendatang.  Karena anak wanita kita, kelak dia akan menjadi seorang ibu yang akan melahirkan anak-anaknya dan mendidik anak-anaknya menjadi pemimpin-pemimpin umat masa depan. Itulah makna pepatah wanita tiang Negara. Mari kita kokohkan tiang itu agar Negara kita kokoh sentosa.  Allahu Akbar!

[Ummu Hafizh]
 

1 Komentar