Tes Keperawanan dan Pergaulan Bebas

Siswi SMA (ilustrasi)

Diasuh oleh:
Dr. Erma Pawitasari, M.Ed
Doktor Pendidikan Islam PKU DDII bekerjasama dengan BAZNAS
Pertanyaan malalui e-mail: redaksi@suara-islam.com

Assalaamu'alaikum. Bu, bagaimana pandangan Ibu mengenai rencana tes keperawanan? Sejauh mana efektivitasnya untuk mencegah seks bebas di kalangan siswa? Apakah tes keperawanan tersebut benar-benar diperlukan? Apakah tidak meluluh-lantahkan nilai-nilai kemanusian seorang siswa?

Avy Sapta Ainul Hakim
Mahasiswi Unpad Fisip Angkatan 08 – Bandung



Wa’alaikumsalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Avy yang solihah... pertama-tama Ibu harus meluruskan bahwa berita tentang tes keperawanan tersebut merupakan kesalahan wartawan. Gosip ini bermula karena ada siswi yang kedapatan bermesraan di tempat umum. Muncul tuduhan bahwa dia dilacurkan oleh germo. Orang tua siswi tersebut tidak menerima tuduhan tersebut dan minta dilakukan tes keperawanan untuk menghindari fitnah dan membersihkan nama baik si anak dan keluarga. Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih (Sumatera Selatan) mendukung langkah orang tua tersebut namun wartawan menyebarkannya sebagai rencana pengadaan tes keperawanan.

Pelajaran yang harus kita ambil dari kasus ini adalah kewajiban untuk jeli dalam menerima suatu berita. Media bukan nabi yang pasti membawa berita sahih. Tak jarang, media justru menjadi alat untuk menyebarkan fitnah dan kerusakan, sebagaimana media memfitnah Islam untuk menimbulkan rasa malu dan benci kepada Islam. Islam mengajarkan agar kita bertabayyun (menyelidiki) suatu berita sebelum mempercayainya. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
(QS. al-Hujurat [49]:6)

ISLAM MELARANG PERGAULAN BEBAS


Pandangan sebagian masyarakat tentang keperawanan perlu diluruskan. Akibat pandangan ini, para gadis mudah dibujuk untuk bergaul bebas “selama tidak kehilangan keperawanan.” Mereka tidak lagi memperhatikan larangan berkhalwat (berdua-duaan), mendekati zina bahkan membuka sebagian aurat di depan pacarnya. Apa yang terjadi di Kota Prabumulih merupakan salah satu contoh nyata. Orang tua si anak merasa tersinggung dengan isu ketidakperawanan anaknya namun mereka tidak keberatan anaknya tertangkap sedang berpacaran.

Pandangan tentang keperawanan juga menyebabkan para laki-laki merasa dapat berbuat sesuka hatinya karena mereka tidak merasa perlu untuk menjaga keperjakaannya. Padahal, Islam telah melarang pergaulan bebas baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Allah SWT berfirman:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."


Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (QS. an-Nur [24]:30-31)

Apabila dicermati dengan seksama, Allah secara spesifik memerintahkan kepada laki-laki untuk memelihara diri dari pergaulan bebas dengan menekankan bahwa “Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Hal ini disebabkan kita tidak dapat melakukan tes keperjakaan kepada laki-laki, namun Allah mengetahui perbuatan mereka.

Sedangkan dalam memerintahkan kaum perempuan, Allah menambahkan dengan “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” sebab para gadis lebih mudah dirayu oleh pacarnya untuk sedikit demi sedikit membuka auratnya “selama tidak menyerahkan keperawanan.” Padahal, pintu zina dibuka melalui yang sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, setapak demi setapak. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra [17]:32)

Jadi, persoalan sebenarnya bukan pada keperawanan namun pada pergaulan bebas, baik laki-laki maupun perempuan. Hukuman dari Allah pun diberikan secara sama, baik laki-laki maupun perempuan. “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. an-Nur [24]:2)

Menggunakan keperawanan sebagai tolak ukur moralitas juga bukanlah hal yang valid. Seseorang yang tidak perawan karena mengalami perkosaan atau kecelakaan tetaplah suci dalam pandangan Islam. Demikian pula seorang janda. Allah SWT tidak menempatkan posisi seorang perawan di atas seorang janda atau seorang korban perkosaan. Allah SWT berfirman:

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. at-Tahrim [66]:5)

Demikian seulas jawaban saya. Semoga bermanfaat.
 

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar