Setelah Bongkar Masjid, Ahok : Sholat Bisa di Masjid yang Lain

Selasa, 17 September 2013 - 21:12 WIB | Dilihat : 24372
Setelah Bongkar Masjid, Ahok : Sholat Bisa di Masjid yang Lain Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok

Jakarta (SI Online) - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membenarkan jika Masjid Baitul Arif yang terletak di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur, dibongkar untuk keperluan pembangunan rumah susun (Rusun). Namun ia menjamin akan memberikan ganti untuk tempat beribadah.

"Saya udah cek, jadi mereka bisa pakai shalat di tempat yang lain. Tadi saya juga minta ditahan supaya jangan dibongkar dulu, tapi kalau gak dibongkar gak bisa bangun Rusun. Nanti di bawah Rusun kan bisa buat orang sembahyang," katanya di Balaikota Jakarta, Selasa (17/9/2013).

Pria yang akrab disapa Ahok itu menegaskan, meski masjid itu harus dibongkar tapi bukan berarti fungsinya dihilangkan. Ia pun meminta agar bisa membedakan antara pembongkaran rumah ibadah untuk dibangun yang lebih baik, dengan melarang orang beribadah.

"Beda loh, jangan dipelintir loh. Orang mau shalat masih bisa di masjid yang lain, jadi nanti bisa dibikin masjid lagi. Di Rusun juga bisa dibuat masjid, di Rusun Marunda dan Daan mogot seperti itu, ada bagian yang dibuat untuk masjid," jelasnya.

Jadi, kata Ahok, jangan dipelintir seolah-olah bongkar masjid. Masjid di daerah terlarang juga musti dibongkar tidak boleh ngotot. Sekarang juga banyak oknum-oknum kalau mau dudukin tanah negara suka bikin masjid, jadi kalau dibongkar isunya bongkar masjid.

"Bukan itu, orang beragama gak pernah langgar peraturan," tandasnya.

Sebelumnya, warga menyesalkan tindakan pembongkaran tersebut tanpa musyawarah. Salah seorang jamaah masjid tersebut, Taufan Maulamin, menyesalkan tindakan tersebut. Ia pun membuat surat terbuka atas keprihatinannya kepada Gubernur DKI.

“Walikota Jakarta Timur telah melakukan pembongkaran Masjid Baitul Arif tanpa musyawarah dengan tokoh, alim Ulama dan jamaah Masjid Baitul Arif, RW 1 Kelurahan Kampung Melayu. Sudah 15 hari shalat 5 Waktu dan 2 kali Jumat tidak dapat dilakukan,” tulis Taufan.

Meski lokasi dan tanah masjid adalah milik Pemda DKI, kata Taufan, namun seyogianya Pemda tidak melupakan masjid adalah baitullah yang sangat dimuliakan oleh semua Muslim. Karenanya, mestinya hal itu dilakukan dengan santun dan beradab.

Dia juga mengingatkan akan wilayah Jatinegara. “Jatinegara merupakan kawasan Muslim yang sangat taat dan sangat fanatik sejak zaman penjajahan, banyak tokoh, alim ulama dan masyarakat Muslim merasa tersinggung dan menyayangkan tindakan tersebut,” kata Taufan.


red: syaiful

0 Komentar