Sengman, Bunda Putri, Lalu Presiden SBY

Putra Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hilmi Aminuddin, Ridwan Hakim (tengah) usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Jakarta, Senin (25/2/2013). Foto: Tribunnews.com

Ridwan Hakim, putra Ketua Majelis Syuro PKS, membeberkan nama baru dalam korupsi sapi. Tapi KPK tak kan berani membongkarnya
 
Masa jabatan Presiden SBY setahun lagi berakhir.  Tapi tampaknya ia terus-menerus dilanda masalah.  Kasus Bank Century yang merugikan negara Rp 6,7 trilyun, misalnya, telah menyeret namanya. Bisa ditebak suatu saat perkara korupsi yang melibatkan bekas Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wapres Boediono itu akan merepotkan SBY setelah turun dari kursi Presiden.

Kini muncul pula perkara korupsi sapi. Ketika kasus ini meletus akhir Januari tahun ini, yang babak-belur hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Presiden atau Ketua Umumnya Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap KPK, 30 Januari 2013. Luthfi menjadi pimpinan tertinggi partai politik yang dicokok KPK.

Tapi di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang digelar Kamis, 29 Agustus lalu, untuk mengadili Fathanah (teman Luthfi yang menjadi perantara untuk menghubungkan Luthfi dengan PT Indoguna Utama, perusahaan importir daging sapi) muncul kejutan yang mengagetkan. Yaitu terseret-seretnya Presiden SBY.

Suap dalam pengurusan tambahan kuota impor daging sapi PT Indoguna di Kementerian Pertanian itu memasuki babak baru. Nama yang sebelumnya tak pernah terdengar muncul ketika Jaksa Penuntut Umum memutar rekaman penyadapan pembicaraan terdakwa mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan orang dekatnya Ahmad Fathanah, serta saksi Ridwan Hakim, putra Ketua Majelis Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin. [Amran Nasution]

Setidaknya ada dua nama paling mencolok yaitu Sengman dan Bunda Putri. Dari rekaman penyadapan, Sengman diketahui membawa uang Rp 40 miliar dari PT Indoguna Utama untuk diserahkan kepada Hilmi Aminuddin. Ternyata dari kesaksian Ridwan Hakim uang itu tak pernah sampai ke ayahnya, Ustadz Hilmi.

Ridwan Hakim malah menyebutkan bahwa Sengman yang membawa uang Rp 40 milyar itu sebenarnya adalah utusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau begitu logikanya mana mungkin Sengman memberikan Rp 40 milyar itu ke Ustadz Hilmi, tapi tentulah kepada boss-nya.

Sementara nama yang satu lagi, Bunda Putri, dalam rekaman itu terkesan punya pengaruh besar di pemerintahan. Luthfi Hasan menyebut Bunda Putri bertugas, “Mengkondisikan orang-orang pengambil keputusan agar keputusannya sesuai apa yang dia mau”.  Oleh sebab itu mantan Presiden PKS itu mengatakan pekerjaan Bunda Putri lebih berat dari Menteri. Sosok Bunda Putri makin misterius karena Ridwan tak mau membuka identitasnya kepada hakim. Ia hanya menyebut Bunda Putri itu sebagai “Mentor bisnisnya yang punya perkebunan pinang di Kalimantan.”

KPK sendiri tak mau berkomentar banyak soal dua tokoh ‘’penting’’ itu meskipun merekalah yang memutar rekaman penyadapan yang menampilkan  nama keduanya. Memang begitulah KPK selama ini: tampil galak menghadapi pelaku korupsi yang tak punya beking politik. Tapi tampak grogi dan tebang pilih bila menyangkut orang atau tokoh yang memiliki beking politik kuat.  Apalagi kasus sekarang menyerempet nama Presiden SBY, nyali KPK pun tampak ciut.

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi. KPK akan fokus lebih dulu pada keterangan saksi yang digunakan untuk membuktikan dakwaan terhadap terdakwa Fathanah.

KPK tak mau berterus-terang apakah sudah mengantongi identitas Sengman dan Bunda Putri. Menurut Jaksa KPK Muhibuddin, KPK belum sempat memeriksa Bunda Putri karena berkas perkara dua terdakwa kasus daging impor, Luthfi Hasan dan Fathanah, harus segera dilimpahkan ke pengadilan. Namun Bunda Putri masih mungkin dipanggil karena KPK belum merampungkan pemeriksaan satu terdakwa lagi, Direktur Utama Indoguna Maria Elizabeth Liman.

Donatur SBY?


Rekaman penyadapan pembicaraan  tadi sebenarnya sedang memperbincangkan kiriman uang dari Dirut PT Indoguna Elizabeth Liman. Fathanah terdengar kaget ketika Ridwan mengatakan kiriman uang itu belum sampai ke Ustadz Hilmi di Lembang. “Rp 40 milyar ditenteng langsung kok sama Ibu (Elizabeth Liman. Red) untuk disampaikan ke Lembang. Masak nggak nyampe? Ya Allah, Ya Robbi, masak Sengman dan Hendra nggak nyampein?” kata Fathanah dalam percakapan telepon dengan Ridwan yang disadap KPK.

Itulah kali pertama nama Sengman muncul dalam kasus suap impor daging. Hakim kemudian menanyakan siapa Sengman yang dimaksud Ridwan. Putra keempat Hilmi Aminuddin itu mengatakan Sengman adalah utusan Presiden. Hakim bertanya lagi Presiden apa yang ia maksud. “Ya Presiden SBY,” kata Ridwan mantab.

Ketua DPR yang juga Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie mengatakan kenal Sengman di kota kelahirannya, Palembang. Ketika itu Marzuki masih jadi pengusaha belum terjun ke politik. “Sengman pengusaha hotel di Palembang. Tapi kami tak pernah bertemu lagi. Hotelnya juga sudah dijual,” kata Marzuki.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Rumah Makan Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan, Herlan Aspiudin, membenarkan kepada wartawan bahwa Sengman Tjahja adalah pengusaha hotel. Dia pemain lama di bisnis itu. Sengman adalah pemilik  Hotel Princess di kompleks Ilir Barat Permai Palembang.

Menurut Herlan, Sengman memang dekat dengan Presiden SBY. Sengman dan SBY telah akrab sejak SBY menjabat Panglima Daerah Militer II Sriwijaya tahun 1996-1997. Saat SBY jadi Pangdam, menurut Herlan, banyak pengusaha yang dekat dengan dia.

Hubungan Sengman-SBY terus berlanjut. Sengman  sempat menghadiri wisuda putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, di Nanyang Technological University, Singapura, pada 2006. Sebaliknya, SBY pun hadir di resepsi pernikahan putri Sengman, Karen Tjahja, di Hotel Mulia, Jakarta, pada 2008.

Mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli juga mengenal Sengman. “Sengman ini pengusaha yang pertama menyumbang untuk SBY ketika SBY masuk dunia politik. Jadi mereka dekat sekali,” katanya.

Namun Istana membantah ada utusan Presiden bernama Sengman. “Saya pastikan, kami tak pernah mendengar nama itu sebagai utusan Presiden,” kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha. Bantahan senada disampaikan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Ia mengatakan tak kenal Sengman. “Saya tahunya tukang seng. Istana tak ada hubungannya sama sekali dengan kasus impor sapi. Kami tak kenal mereka. Mereka tak ada hubungannya dengan Istana,” katanya.

Bunda Putri, Pak Lurah, Haji Susu

Suara Bunda Putri ini ikut tersadap dalam perbincangan antara Luthfi Hasan dan Ridwan Hakim, 30 Januari 2013, setelah Fathanah disergap KPK di Hotel Le Meridian. Lewat sambungan telepon kepada Luthfi yang berada di DPR, Ridwan mengatakan ia sedang berada di rumah Bunda Putri. Kepada Luthfi, Ridwan mengabarkan Bunda Putri marah besar (mungkin karena tertangkapnya Fathanah).

Di tengah percakapan itu, Ridwan kemudian memberikan telepon kepada Bunda Putri agar sang Bunda bisa berbicara langsung dengan Luthfi. Dari situlah terungkap pengaruh besar yang dimiliki Bunda Putri. Seorang menteri bahkan pernah datang ke rumahnya hingga pukul 1 malam.

“Bunda jam 10 ditunggu Dipo sebelum dia ke JCC,’’ kata Luthfi. ‘’Bun,  nanti kita ketemu Mas Boed jam 2.45.’ Terdengar jawaban, ‘’Nggak, Bunda di Grand Hyatt saja supaya nggak ke mana-mana. Kalau sudah begini males kita urusin TPA-nya. Nanti kalau Maret ada reshuffle ya sudah. Nanti saya ngomong sama Pak Lurah, benar apa yang kamu bilang tentang Haji Susu itu. Sudah, babat saja. Bunda gituin aja, aman,” kata Bunda Putri kepada Luthfi Hasan.

Dalam beberapa kalimat yang diucapkan Bunda Putri itu saja, bermunculan nama orang-orang yang identitasnya belum jelas – Dipo, Mas Boed, Pak Lurah, dan Haji Susu. Siapa mereka semua dan apa hubungannya dengan Istana? Tugas KPK membuat semuanya jelas. Tapi tampaknya KPK tak akan berani. Kita harus sabar menunggu setelah 2014.

 

Baca Juga

Komentar

13.09.201312:44
lumut
Demokrasi itu TIPU2 RAKYAT.Pemimpin hasil demokrasi ya spt itu2 juga.Makanya kita campakkan SAMPAH yg bernama DEMOKRASI ini.Kita sdh ditipu berkali2 masa'masih jg percaya.DEMOKRASI=BULLSHIT...
12.09.201307:08
KAHAR MUSTAFA
BERANI ITU HEBAT,AYO KPK APA YG DI TAKUTKAN SEBAGAI PEJUANG PEMBERATANTASAN KORUPSI, HANTU SAJA BISA DI TAHAN KATANYA.
Nama

Email


security image
Kode
Komentar

Berita Terbaru

Rabu, 22/10/2014 14:52:32 Ini Dia Peraih Halal Award 2014 Rabu, 22/10/2014 14:20:10 Salam Pluralisme Jokowi Rabu, 22/10/2014 14:10:32 Hati-Hati, Sinetron India Merusak Akidah Rabu, 22/10/2014 14:02:45 Ketua MPR Buka Pameran Halal LPPOM MUI di JI Expo Kemayoran Selasa, 21/10/2014 23:54:46 Jokowi Dikendalikan Sembilan Taipan?