Memperbaharui Komitmen Beragama

Minggu, 11 Agustus 2013 - 08:33 WIB | Dilihat : 6954
Memperbaharui Komitmen Beragama

Alhamdulillah kita telah memasuki bulan Syawal dan telah berhari raya. Kita telah saling memaafkan dan saling mendoakan: Taqabbalallahu minna waminkum minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin! Semoga diri kita putih bersih tanpa noda. Semoga kita termasuk sukses mencapai target shaum kita yakni menjadi orang yang bertaqwa. 

Persoalan selanjutnya, bagaimana mempertahankan predikat taqwa itu? Bagaimana agar jangan keimanan dan ketaqwaan kita merosot menuju titik nol?  Disinilah kita perlu memperbaharui komitmen beragama Islam kita.

Makna Komitmen Beragama

Kata komitmen dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang komit diartikan sebagai orang yang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
 
Sedangkan agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw, mengandung tuntunan hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta (Al Khaliq), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Al Khaliq tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai aqidah dan ibadah. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai akhlak, pakaian, makanan, dan minuman.

Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai perkawinan, pewarisan, jual beli, sewa menyewa, kontrak kerja, dan muamalah lainnya serta berbagai peraturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pengadilan, dan pelaksanaan sanksi hukum untuk menegakkan aturan Islam itu di masyarakat.
   
Ketika seorang muslim mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikat dirinya dengan pandangan hidup Islam, bahwa tiada Dzat yang dia akui sebagai satu-satunya Dzat yang layak disembah kecuali Allah Swt (لا معبود الا الله); bahwa tiadalah tugas hidup di dunia ini melainkan beribadah kepada-Nya (QS. Ad Dzariyat 56), baik dalam arti sempit maupun luas; bahwa tiada cara beribadah kepada-Nya yang diterima kecuali yang datang dari Muhammad Rasulullah Saw, bahwa seluruh aktivitas hidupnya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah Swt, dan bahwa di akhirat kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kesaksian dan komitmennya itu yang dia wujudkan dalam  keyakinan, perkataan, dan perbuatannya selama hidup.   

Komitmen Beragama Para Sahabat Nabi Saw.
Para sahabat Rasulullah saw. di kota Makkah saat mereka menyatakan penerimaan dan kesaksian mereka kepada Rasulullah saw. yang menawarkan aqidah tauhid dalam suasana dominasi kemusyrikan dan kejahiliyahan, memiliki komitmen untuk hidup baru sesuai dengan pengarahan Allah Yang Esa. Apapun resikonya. 

Ibnu Mas’ud r.a. adalah orang yang pertama kali membacakan Al Quran secara terbuka di tempat berkumpulnya orang Quraisy di dekat Ka’bah. Tentu saja orang-orang Quraisy langsung memukulinya sampai babak belur. Ketika kembali kepada para sahabatnya, dia justru mengatakan: "Mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang Quraisy, berikanlah lagi ayat-ayat Al Quran, pasti akan kubacakan di hadapan mereka."
 
Setelah Islam kuat secara politik maupun militer di Madinah, kaum muslim semakin komit dengan ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berjamaah (bermasyarakat dan bernegara). Orang-orang Anshar yang pada saat Baiat Aqabah ke-II menyatakan komitmen mereka (dalam bentuk baiat) kepada Rasulullah Saw, untuk melindungi beliau Saw. sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka, benar-benar memenuhi komitmen mereka. Mereka selalu berjuang dan berjihad bersama Rasulullah Saw, tanpa pamrih.
 
Dengan komitmen para sahabat kepada perjuangan Islam, Allah SWT menolong Rasulullah Saw, dan kaum muslimin dalam memenangkan berbagai peperangan melawan kaum Quraisy, kaum Yahudi, dan musuh-musuh lainnya.  Sehingga Allah SWT mengokohkan wilayah kekuasaan negara Islam itu dari negera kota Madinah pada tahun pertama hingga meluas ke seluruh wilayah jazirah Arab pada tahun ke-10, tahun wafatnya Rasulullah saw.

Memperbaharui Komitmen Beragama?

Kita semua bisa merasakan, tatkala Ramadhan begitu getol kita beribadah. Begitu semangat kita ingin menjadi muslim yang diridloi Allah.  Begitu rajin kita mempersiapkan makan sahur, melaksanakan shalat tarawih dan membaca Al Quran. Tapi seketika lebaran, segala aktivitas mulia di atas pupus sudah. Disinilah perlunya memperbaharui komitmen beragama Islam kita dengan cara sebagai berikut.

Pertama, kita bersihkan dan murnikan kembali kebenaran keimanan kita kepada Islam. Di malam hari kita bermunajat kepada Allah, kita renungkan kembali pernyataan kita:
 
اَللَّهُمّ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَائُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَ السَّاعَةُ حَقٌّ اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ

“Ya Allah, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi benar, dan Nabi Muhammad saw. adalah benar, serta kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku berserah diri, hanya kepada Engkaulah aku beriman,hanya kepada Engkaulah aku bertawakkal, hanya kepada Engkaulah aku kembali, hanya karena Engkaulah aku berdebat, dan hanya kepada Engkaulah aku meminta keputusan hukum,…”.

Benarkah yang kita nyatakan di atas? Apa kenyataan dari pernyataan kita di atas? 

Kedua, kita perlu meneladani komitmen beragama para sahabat yang merupakan contoh generasi yang memiliki komitmen Islam yang sangat tinggi.  Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan metode kehidupan Islam yang suci. Mereka membangun peradaban mereka dengan asas aqidah Islamiyah, aqidah Lailahaillallah Muhammadurrasulullah. Mereka menjadikan tolok ukur aktivitas kehidupan mereka adalah halal haram. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan ridlo Allah sebagai tujuan hidup dan makna kebahagian bagi mereka adalah melakukan amal yang mengantarkan pada mendapatkan ridlo-Nya itu (lihat QS. At Taubah 100).

Ketiga
, selanjutnya marilah kita mulai mewujudkan langkah menumbuhkan komitmen itu satu persatu dalam diri kita dengan melaksanakan, mencatat, dan mengontrol komitmen kita itu satu-persatu dalam perkara-perkara yang bisa kita lakukan terlebih dulu sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, kita mulai dengan mendisiplinkan sholat berjamaah, merutinkan sholat tahajjud, merutinkan shaum Senin Kamis dan sunnah lainnya, dan merutinkan membaca Al Quran setiap habis sholat Subuh dan habis sholat Maghrib. Setelah itu insyaallah perkara-perkara lain bisa kita lakukan dengan lebih mudah.
 
Khatimah
Akhirnya marilah kita perbaharui komitmen beragama Islam kita dengan merenungkan kata-kata bijak:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ وَلَكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Bukanlah berlebaran itu bagi orang yang bajunya baru, tapi berlebaran itu bagi orang yang ketaatannya bertambah”.  Semoga kita termasuk di dalamnya. Allahumma Amin!
 

0 Komentar