Menimbun Barang Kebutuhan Masyarakat

Diasuh oleh:
KH A Cholil Ridwan, Lc
Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain-Jakarta Timur


Assalamualaikum. Pak kiyai, sering di masyarakat terjadi praktik penimbunan barang-barang kebutuhan masyarakat, baik dalam bentuk bahan bakar mesin maupun bahan makanan. Tujuan penimbun adalah untuk meraih keuntungan yang besar saat harga barang tersbut naik. Apakah hal ini diperbolehkan?. Terima kasih.

Farida, Jakarta

Waalaikumsalam warahmatullah

Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam melakukan jual beli dan melakukan persaingan sehat di pasar. Tetapi Islam sangat menentang sifat egois dan ambisi pribadi yang mendorong sebagian orang memperkaya diri sendiri dari hasil menimbun dan mengeksploitasi bahan baku yang menjadi kebutuhan rakyat.

Terkait pertanyaan di atas, ini termasuk dalam pembahasan menimbun barang (ihtikar). Sementara yang dimaksud sebagai penimbun adalah orang yang sengaja menumpuk atau menyimpan barang dagangan karena menunggu saat harga barang-barang tersebut naik  sehingga dia bisa menjualnya dengan harga tinggi, yang mengakibatkan warga setempat kesulitan untuk membelinya.

Praktik penimbunan barang ini, baik kebutuhan makanan maupun kebutuhan pokok masyarakat lainnya, telah dilarang oleh Nabi saw dengan menggunakan ungkapan yang sangat keras, “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sesungguhnya Allah berlepas diri darinya,” (HR Ahmad, al-Hakim, Ibnu Abi Syaibah dan al-Bazzar).

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda, “Tidak menimbun kecuali orang yang berdosa,” (HR. Muslim)

Larangan di dalam hadits tersebut menunjukkan adanya tuntutan untuk meninggalkan, sementara celaan bagi penimbun dengan sebutan “khaati’un”, padahal “khaati’un” adalah orang yang berdosa dan berbuat maksiat, adalah indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan untuk meninggalkan perbuatan tersebut bermakna tegas (jazm).

Perkataan khaati’un (orang yang berdosa) ini bukanlah perkataan yang ringan. Perkataan ini dikemukakan Al-Quran untuk menggambarkan orang-orang yang sombong dan angkuh semacam Fir’aun, Haman dan tentara mereka. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tebtaranya adalah oramng-orang yang berdosa.” (Al-Qashash: 8)

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Atsram dari Abi Umamah, Rasulullah saw juga bersabda: “Rasulullah saw telah melarang penimbunan makanan.”

Diantara hadits penting tentang tindakan menimbun dan mempermainkan harga ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar, seorang sahabat Rasulullah saw. Ketika dia sedang sakit keras, dia didatangi oleh Ubaidillah bin Ziyad (seorang gubernur di era Bani Umayyah) yang menjenguknya, lalu Ubaidillah bertanya kepadanya,”Hai Ma’qil, apakah engkau mengetahui aku pernah menumpahkan darah haram?”, Ma’qil menjawab, “Tidak.” Ubaidillah bertanya lagi,”Apakah engkau pernah mengetahui aku turut campur dalam masalah harga dagangan kaum muslimin?”, Ma’qil menjawab, ”Tidak.” Kemudian Ma’qil berkata, “Dudukkanlah aku.” Kemudian orang-orang mendudukkannya, lalu dia berkata, “Dengarlah wahai Ubaidillah hingga kuberitahukan kepadamu apa yang saya dengar dari Rasulullah saw bukan hanya sekali dua kali. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa turut campur dalam masalah harga-harga dagangan kaum Muslimin supaya menaikkannya sehingga mereka keberatan, maka pasti Allah akan mendudukkannya pada api yang sangat besar pada hari kiamat nanti.”
Ubaidillah bertanya,”Engkau mendengarnya dari Rasulullah saw?” Ma’qil menjawab,”Bukan hanya sekali dua kali.”

Menurut Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Al-Halal wal Haram, dari nash-nash hadits dan makna yang terkandung di dalamnya, para ulama ber-istinbath bahwa diharamkannya menimbun adalah dengan dua syarat:

Pertama, dilakukan di suatu negara (wilayah) sehingga penimbunan tersebut dapat menimbulkan kesulitan dan penderitaan bagi penduduknya pada waktu itu.

Kedua, penimbunan itu dilakukan dengan tujuan untuk menaikan harga barang-barang di tengah masyarakat, agar dirinya mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Wallahu a’lam.

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar