Wafatnya Abu Panton Musibah Besar bagi Aceh, Waspadalah!

Tgk. Zulfahmi Aron
Pendiri/ Direktur Majalah Santri Dayah (Media Dakwah Santri Dayah)
Wakil Ketua Ikatan Penulis Santri Dayah Provinsi Aceh (IPSA)
Guru Besar Dayah Darussalam Labuhah Haji Kabupaten Aceh Selatan
Ketua Umum Lembaga Pengkajian Penelitian Penulisan dan Penginformasian Sejarah Ulama Islam Aceh


Innalillahi wainnailaihi Raaji’un.
Tgk H.Ibrahim Bardan atau Abu Panton, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum (RSU) Herna Medan, Sumatera Utara, Senin (29/4) sekitar pukul 18.30 Wib.

Abu Panton adalah seorang ulama besar Aceh kelahiran 08 Juli 1945 di desa Matang Jeulikat kemudian beliau menetap di Dusun Damai, Desa Rawang Iteik, Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara untuk memimpin dayah Malikussaleh setelah sebelumnya beliau menimba ilmu pengetahuan di sekolah rakyat (1953-1956) kemudian melanjutkan pendidikan didayah yang berada di Kecamatan Syamtalira Aron (1960-1962) dan dayah Matang geuto Idi Cut (1962-1964) kemudian terakhir belajar didayah Mudi Mesra Samalangan pada ulama tua Aceh Abon Abdul Azis Samalanga (1965-1975).

Abu Panton yang bernama Asli Abu Ibrahim bin Bardan Panton Labu, Aceh utara adalah anak dari Teungku Bardan dan Ummi Culot kemudian beliau menikahi Ummi Hj Zainabon beliau tidak dikarunia keturunan.

Abu Panton dalam amatan saya selaku generasi muda dayah Aceh dan pemerhati serta peduli terhadap dayah Aceh secara umum, beliau adalah sosok ulama tua Aceh, ulama kharismatik Aceh, beliau semasa hidup telah banyak berjasa bagi Aceh khususnya. Kiprah yang telah diperbuat Abu Panton sangat terasa dan kita sangat kehilangan beliau. Karena beliau adalah harapan para ulama, santri, dayah- dayah Aceh juga masyarakat dan pemerintah.

Abu Panton dalam hidupnya menurut yang saya ketahui adalah seorang ulama ‘alim besar baik dalam bidang syari’at dan dalam bidang ‘aqidah, persolan hukum syari’at yang terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama- ulama Aceh masalah tersebut dapat diberikan solusi oleh sosok abu Panton, beliau adalah ketua umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) sampai sa’at beliau wafat, selain itu beliau juga majelis syuyukh Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh dari tahun 2002 sampai beliau wafat. Salah satu trobosan besar beliau terbesar bagi dayah Aceh dan santri adalah beliau menggagas lahirnnya Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh (BPPD Aceh) atau yang lebih dikenal badan dayah, trobosan ini lahir berkat kerja keras Abu Panton terhadap pemerintah Aceh melalui Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang dipimpinnya.

Abu Panton dalam bidang ‘aqidah (usuluddin) beliau  juga sosok ulama yang mati- matian menolak paham sesat seperti salek buta yang kerap berkembang dan subur dipantai selatan Aceh, lewat diskusi, musyawarah ulama, pengajian, seminar dan lain- lain abu Panton secara tegas dan terbuka membeberkan letak kesalahan dan kekeliruan ajaran salek buta, Abu membuka halaman demi halaman kitab menolak dan membantah alasan yang diutarakan para pelakon aliran sesat baik aliran sesat salek buta dan lain- lainnya. Abu Panton mampu menjawab dalil demi dalil untuk mematahkan alasan para pembawa aliran sesat.

Abu panton juga ulama yang memberikan semangat belajar mengajar bagi kalangan dayah dan universitas, ide- ide yang dikemukan Abu Panton dapat membangkitkan semangat belajar kita, Abu berbicara satu masalah demi masalah dan hal tersebut berbeda- beda dengan tanpa membosankan dan kita sangat senang mendengarkannya. Demikian yang saya lihat ketika saya duduk berkali- kali sama Abu bertanya permasalahan- permasalahan agama dan perkembangan Aceh kala Abu masih sehat.

Meninggalnya Abu panton selaku ulama besar Aceh adalah kehilangannya ilmu dan penjawab pelbagai persoalan agama khususnya. Setelah sebelumnya Abuya Prof DR. Muhibbudin Waly juga telah mendahului beliau. Abu Tumin, Abu Mustafa puteh dan ulama- ulama lainnya adalah harapan umat, bangsa ini dalam menjawab berbagai fenomena perkembangan dan masalah yang terjadi ditengah- tengah masyarakat dan pemerintah. Pemersatu dan pembimbing kejalan yang baik.

Saya sangat berharap kiranya kedepan ada yang dapat menggatikan Abu Panton serta ulama- ulama Aceh lainnya  yang dapat mempertahankan nilai- nilai ‘aqidah ahlisunnah waljama’ah, menjawab hukum- hukum islam, mempersatukan ulama dan umat, memberikan pandangan dan arahan baik pada pemerintah. dalam catatan saya dari akhir tahun 2011 sampai Abu Panton wafat sebanyak 17 ulama besar Aceh termasuk Abu Panton meninggal dunia, diantara mereka adalah ulama- ulama besar aceh yang sangat penting dan punya kedalaman ilmu serta pengaruh yang sangat luas.

Kita berdo’a pada Allah kiranya Allah lahirkan penggati mereka sehingga Aceh tidak berdiri paham sesat, tertegaknya syari’at Islam, lahirnya kebijakan baik pemerintah dan rakyatnya ta’at serta makmur. Itulah do’a dan harapan kita. Kiranya Allah mengabulkan permintaan kita. Mari kita pertahankan nilai- nilai ‘aqidah ahlisunnah wal jama’ah, kita basmi aliran sesat, selalu belajar dan berguru pada ulama yang masih hidup, kita tegakkan syari’at Islam dan mengkritisi serta meberikan kebijakan pada pemerintah yang salah dan menyimpang dengan aturan agama Islam. Dan juga menjaga kedamaian Aceh yang dulunya Abu panton hidup mati memperjuangkannya. Demikain yang saya lihat kala Abu masih ada.

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar

Berita Terbaru

Selasa, 22/07/2014 13:53:25 KH Muzairon Wafat, Jamaah Tabligh Indonesia Berduka, Selasa, 22/07/2014 13:36:42 Kenapa Penafsir "Ora Mudeng" Justru Disiar-siarkan Selasa, 22/07/2014 13:26:02 Pondok Ramadhan YDSF, Membina Usaha Kecil Mandiri Selasa, 22/07/2014 13:18:51 Serangan Fajar ala Santri Tahfidz Quran Selasa, 22/07/2014 11:56:29 Operasi Militer Israel Atas Gaza