Membentuk Generasi Muda Anti Maksiat

Ummu Hafizh
Pembina Gerakan Umat Anti Maksiat

Waspadalah, Indonesia penuh maksiat. Umat Islam telah banyak meninggalkan perintah Alloh dan menjalankan larangan Alloh. Mulai dari riba, syirik, zina, korupsi, aliran sesat, sekulerisme, pluralisme, dan lain-lain.Akibatnya, generasi muda muslim banyak yang telah kehilangan jati dirinya. Kepribadian mereka semakin jauh dari Islam. Para remaja menduplikasi gaya hidup barat yang kapitalis, fun-food-fashion-film-football-free sex-free thinking. Mereka mengisi hidup dengan angan-angan kosongnya: muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga.

Generasi mudanya hanyut dalam gaya hidup barat. Kehancuran generasi muda sudah diambang pintu. Harus segera ada perubahan. Dimulai dari generasi muda. Dimulai dari rumah-rumah keluarga muslim. Para orangtua harus menyusun program membentuk pemuda anti maksiat sejak usia dini. Mencetak pemuda muslim dengan kepribadian Islami. Mereka menjadi duta-duta anti maksiat.

Proses Pembentukan Kepribadian

Kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan anak-anaknya. Hasil proses pendidikan adalah terbentuknya kepribadian anak. Kualitas kepribadian seseorang tergantung sistem nilai yang ditanamkan kepada anak, baik di rumah, masyarakat maupun sekolah. Jika sistem pendidikannya berkualitas akan menghasilkan manusia-manusia berkepribadian unggul. Bangsa yang memiliki rakyat berkualitas akan mengalami kemajuan di berbagai bidang.

Kepribadian anak terbentuk dari pola pikir dan sikap jiwanya.Pola pikir akan membentuk pemahaman tertentu berdasarkan sistem nilai (ideologi) tertentu. Pemahaman ini akan mempengaruhi seseorang dalam membuat solusi terhadap problem yang dihadapinya. 

Sikap jiwa akan membentuk kecenderungan seseorang untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan sistem nilai (ideologi) tertentu. Kecenderungan inilah yang akan mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.

Kepribadian seseorang akan menjadi kuat jika proses pembelajaran dan pembentukan karakter dilakukan terus menerus mulai dari usia dini. Lalu ada keselarasan proses pendidikan di rumah, sekolah dan masyarakat.  

Belajar dari Jepang

Besarnya kekuatan industri, majunya perekonomian dan canggihnya teknologi Jepang, ternyata buah dari perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada mata pelajaran khusus tentang moral. Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukkan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas.

Kurikulum pendidikan dasar nasional Jepang menitikberatkan pada penanaman moral sebagai proses pembelajaran dan pembentukan karakter. Nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan. Mata pelajaran di SD hanyalah penanaman nilai dan bahasa.  Sistem ini berlaku seragam di seluruh sekolah hingga pelosok negeri dengan biaya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Setiap anak diajarkan dan ditanamkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, kesederhanaan, jujur, menghargai sistem nilai bukan materi atau harta. Sistem nilai diajarkan melalui empat aspek, yaitu menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, menghargai lingkungan dan keindahan, serta menghargai kelompok dan komunitas.

Empat kali dalam seminggu, setiap anak piket melakukan pekerjaan rumah tangga: membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Makan siang dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Anak SD tidak boleh membawa handphone atau barang berharga.

Di rumah, anak juga membersihkan WC, orang tua mencontohkan kesederhanaan. Hasilnya anak menjadi lebih mandiri dan menghormati orang lain, bertanggungjawab melayani orang lain. Kelak jika menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan sebaliknya.

Di kendaraan umum, jalan raya, dan tempat umum lainnya, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Masyarakat Jepang tangguh saat gempa bumi, tetap memperhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Lemahnya Pembentukan Kepribadian

Murid SD dipaksa menghabiskan banyak waktu untuk menghafal materi dari berbagai mata pelajaran yang cukup padat. Anak-anak SD dijejali calistung, KKM, remedial, tes dan UAN. Sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter hanyalah sekolah mahal, jadi bukan sebagai sistem nasional. Masuk sekolah mahal pun bertujuan memenuhi gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang. Anak anak mengalami kebingungan karena nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah berbeda dalam kehidupan nyata di rumah atau masyarakat.

Orangtua sangat berperan dalam proses pembentukan kepribadian anak. Kurikulum sekolah saat ini tidak memadai dalam jumlah jam pelajaran agama yang diperlukan dalam penanaman sistem nilai. Banyak anak-anak muslim yang semakin tidak mengenal agamanya.

Oleh karena itu, orangtua di rumah harus menyusun kurikulum sendiri untuk mengajarkan dan menanamkan sistem nilai Islam, sehingga anak-anaknya benar-benar menjadi muslim yang berkepribadian Islam sejati. 

Tips Membentuk Pemuda Anti Maksiat

Orangtua wajib menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya sejak usia dini. Orangtua harus menjadi teladan dalam melaksanakan sistem Islam dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua mengajarkan dan menanamkan ajaran Islam dalam Qur’an dan Sunnah sebagai way of life.

Orangtua wajib melahirkan pemuda anti maksiat dengan cara membentuk kepribadian Islam yang kuat dalam diri anak-anaknya. Kepribadian Islam terbentuk dari pola pikir yang Islami dan sikap jiwa yang Islami. Pola pikir Islami yang kuat dilandasi oleh aqidah Islam yang kuat.  Sikap jiwa Islami yang kuat juga dilandasi oleh keimanan yang kuat.

Tips memperkuat pola pikir Islami adalah dengan memperbanyak informasi ke-Islaman dan fakta-fakta aktual yang dihadapi umat Islam. Pemuda anti maksiat harus banyak membaca, berdiskusi tentang isu-isu aktual, mengikuti kajian-kajian ke-Islaman, dan lain-lain.

Tips memperkuat sikap jiwa Islami adalah dengan terus menerus mendekatkan diri kepada Alloh SWT.  Pemuda anti maksiat harus meningkatkan kesempurnaan perbuatan yang wajib: usahakan sholat fardhu di awal waktu, selalu berjamaah di masjid ( khususnya ikhwan di masjid).  Perbanyak perbuatan sunnah: tilawah qur’an (50 ayat sampai 1 juz per hari), qiyamul lail, shalat dhuha, shalat rawatib, shaum senin-kamis, shaum Daud, dan lain-lain.

Pemuda anti maksiat harus memiliki fisik yang kuat dan sehat : istirahat cukup, rajin berolahraga, makan makanan bergizi, minimalkan pengobatan kimiawi (utamakan obat herbal yang alami), menjaga kebersihan dalam segala hal, tidak mengkonsumsi miras dan narkoba, tidak melakukan pergaulan bebas, dll. 

Pemuda anti maksiat akan menjadi duta anti maksiat yang  akan mengajak generasi muda untuk mengisi hidup secara Islami (dakwah). Dakwah berarti mengajak sebanyak-banyaknya orang pada kebaikan (Islam). Aktivis dakwah mutlak memiliki fisik yang sehat dan kuat. Duta anti maksiat harus terus bergerak memberantas kemaksiatan. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang tidak mengatakan kebenaran yang harus dikatakan, bagaikan setan bisu”. 

Duta anti maksiat harus meng-up grade kemampuan dirinya agar bisa mengerahkan segenap potensi untuk berdakwah di jalan Allah. Misalnya, mengikuti pelatihan pengembangan ketrampilan khusus yang diselenggarakan oleh Gerakan Umat Anti Maksiat (GUMAM). Duta anti maksiat harus memperluas jalinan relasi dalam rangka memperkuat jalinan ukhuwah Islamiyah menuju persatuan umat. 

Duta anti maksiat harus meluruskan niat dan Ikhlas dalam beramal semata-mata karena Alloh SWT. Duta anti maksiat memiliki keberanian mengorban pikiran, tenaga, dana di jalan dakwah.

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar