Pemikiran NU Ala Kiyai Makruf Amin, La Konservatifiyyan Wa La Libraliyyan

Ada yang unik dari seorang Kiyai Ma'ruf Amin, Ketua Harian MUI Pusat sekaligus anggota Dewan Mustasyar PBNU. Dalam pidatonya, ia acapkali menyampaikan istilah-istilah unik, yang sesungguhnya itu adalah bahasa Indonesia tetapi "diArab-arabkan". Dalam perenarapan syariat Islam misalnya, Kiyai Ma'ruf sering sekali mengatakan bahwa syariah  harus diterapkan, baik dengan cara formaliyan atau substansiyaliyan (formal atau substansi, red).

Saat launching buku "70 Tahun Dr KH Ma'ruf Amin; Pengabdian Tiada Henti kepada Agama, Bangsa dan Negara", di Auditorium Pegadaian, Kramat, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, secara khusus menyoroti tentang keunikan Kiyai Ma'ruf Amin ini.

Menyifati pemikiran Nahdhatul Ulama (NU) misalnya, Kiyai Ma'ruf menyebut bahwa pemikiran NU itu "la konservativiyyan wa la libraliyyan" (tidak konservatif, juga tidak liberal).

Berbicara soal pemikiran NU, seperti ditulis dalam buku biografi Kiyai Ma'ruf itu, pasca ditiupnya peluit tajdid oleh para kiai pada Munas NU Lampung, langsung mendapat respon luar biasa dari berbagai kalangan NU, terutama anak muda. NU dikatakan tidak lagi jumud, tekstual, dan kaku, tapi dinamis dan kontekstual. Sejak itu, gagasan dan pemikiran anak-anak muda NU yang mayoritas berbasis di perguruan tinggi itu merasa direstui.

Di tengah dinamika tersebut, Kiai Ma'ruf mulai mencatat terjadinya dinamika berlebihan, melampaui koridor bahkan kebablasan. Pendekatan kontekstual dipahami sebagai pemahaman Islam secara liberal. Bebas tanpa batas. Kiai Ma'ruf memandang ada pemikiran sebagian eksponen NU, terutama kalangan muda, yang terlalu jauh meninggalkan teks keagamaan. Pemikiran tersebut sering menuai resistensi para kiai sepuh.

Dalam Muktamar NU di Boyolali pada  2004, terjadi resistensi terhadap konsep hermeneutika yang dimasukkan kalangan muda dalam draft Bahtsul Masail tematik. Itu salah satu gambaran warna baru ketegangan dan kesenjangan pemikiran di internal NU. Maka dalam Munas Alim Ulama NU di Surabaya, 2006, Kiai Ma'ruf mengajukan rumusan tentang Fikrah Nahdhiyah, untuk menjernihkan pemikiran NU, yang diistilahkan sebagai tashfiyatul fikrah al-nahdliyah. Saat itu kiai Ma'ruf menjadi Rais Syuriyah PBNU yang membawahi lembaga Bahtsul Masail, sekaligus Ketua Tim Perumus hasil Munas NU Surabaya.

Sejumlah kalangan liberal di tubuh NU menilai tawaran Kiai Ma'ruf sebagai proses mundur menuju konservatisme pra-Munas Lampung 1992. Tapi Kiai Ma'ruf berargumen dengan istilah khas, "NU itu la konservativiyyan wa la libraliyyan, walakin tathowwuriyyan wa manhajiyyan." NU itu tidak konservatif, tidak pula liberal, tapi dinamis dan punya kerangka metode berfikir yang jelas.

Gagasan kiai Ma'ruf ditanggapi positif oleh sebagian besar peserta Munas NU di Surabaya, 2006. Karena itu tidak salah bila Kiai Ma'ruf mendapat julukan sebagai arsitek manhaj fikrah al-nahdliyah, metode berfikir ala NU.

Fikrah Nahdhiyah adalah kerangka berfikir yang didasarkan pada ajaran ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) yang dijadikan landasan berfikir NU (khiththah nadliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka islah al-ummah, perbaikan umat. Pada titik ini, Kiai Ma'ruf menempatkan Aswaja sebagai manhaj al-fikr (metode berfikir). Cara membaca teks. Lengkapnya, dalam ungkapan Kiai Ma'ruf, manhaj fi fahmi al-nushush wa tafsiriha wa istrikhraji al-mabadi' wa al-ahkami 'anha (metode memahami nash, menafsirkannya, kemudian mengeluarkan prinsip-prinsip dan hukum-hukum dari nash).

Sebagai manhaj, menurut kiai Ma'ruf, NU punya tiga koridor utama. Pertama, dalam bidang aqidah/teologi, NU mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Kedua, dalam bidang fikih/hukum Islam, NU bermadzab secara qauli dan manhaji kepada salah satu madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali). Ketiga, dalam bidang tasawuf, NU mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al Ghazali.

Kiai Ma'ruf melihat konsepsi tersebut yang termuat dalam Qanun Asasi NU sejalan dengan konsepsi Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu al-Zain. Hal itu dimaklumi, karena KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU adalah murid Syekh Nawawi.

Aswaja NU, yang terpandu dalam Qanun Asasi dan sejalan dengan pandangan Syaikh Nawawi, bagi Kiai Ma'ruf, adalah Aswaja yang selektif. Tidak semua Aswaja diikuti. Syaikh Nawawi menyatakan, "Orang yang belum memiliki kompetensi sebagai mujtahid mutlak, wajib taklid pada salah satu dari empat madzhab dalam bidang rincian fikih (furu')". Yakni, Hanafi, Maliki, Syafi, dan Hambali.

Pada bagian lain, Syaikh Nawawi menyatakan, "Tidak boleh taklid pada madzhab lainnya." Madzhab lain itu oleh Syaikh Nawawi dicontohkan seperti Sufyan at-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, dan Abdurrahman bin Umar al-Auza'i. Tidak boleh juga mengikut madzhab salah satu dari sahabat besar. Madzhab yang dilarang diikuti tersebut bukan karena mereka di luar Aswaja, tetapi karena rumusan madzhab mereka belum termodifikasi dan belum terstruktur. Dengan demikian, madzhab yang diikuti itu harus memiliki struktur pemikiran jelas.

Tiga koridor di atas dalam aplikasinya mempunyai ciri-ciri yang dapat dijadikan karakteristik fikrah nahdhiyah, yang dalam keputusan Munas Surabaya tersebut disebut khashais fikrah nadhiyah (kekhasan pemikiran NU), adalah sebagai berikut:

Pertama, Fikrah Tawassuthiyyah (pola pikir moderat). NU senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan i'tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. NU tidak tahrith (melampaui batas) atau ifrath.

Kedua, Fikrah Tasamuhiyah (pola pikir toleran). NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.

Ketiga, menuju arah lebih baik (al islah ila ma huwa al-ashlah).

Keempat, Fikrah Tathowwuriyah (pola pikir dinamis). NU senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.

Kelima, Fikrah Manhajiyah (pola pikir metodologis). NU senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh pendiri NU.

Pemikiran moderat (tawasuthiyah) ala NU, dalam tafsiran Kiai Ma'ruf, adalah tidak tekstualis dan tidak liberalis. Cara berpikir liberalis terlalu dipandang longgar dan tekstualis terlalu ketat.

Sedangkan pemikiran dinamis (taththawuriyyah), dalam syarah Kiai Ma'ruf adalah, laisa al-jumud 'alal manqulat aw 'alal 'ibarat, tidak terpaku kaku pada pendapat (qaul) dan ungkapan ('ibarat) dalam kitab-kitab kuning.

Adapun pikiran bermetodologi (manhaji), intinya NU memilih metode tertentu dari madzhab terseleksi, baik di bidang fikih, teologi maupun tasawuf. Dalam bidang akidah misalnya Asy'ariyah dan Maturidiyah dipilih karena moderat diantara Mu'tazilah dan Jabariyah.

Jadi, kata Kiai Ma'ruf, inti fikrah nahdhiyah adalah dinamika dan penjernihan, at-Tathwir wa al-Tashfiyah. Pikiran yang terlalu konservatif dan tekstualis didinamisasi, dan pikiran yang terlalu liberal dan kebablasan, dijernihkan.

red: shodiq ramadhan
sumber: "70 Tahun Dr KH Ma'ruf Amin; Pengabdian Tiada Henti kepada Agama, Bangsa dan Negara".

 

Baca Juga

Komentar

03.04.201313:35
hamba Allah SWT
setuju dengan KH. Ma'ruf Amin.. "NU itu tidak konservatif, tidak pula liberal, tapi dinamis dan punya kerangka metode berfikir yang jelas"
Nama

Email


security image
Kode
Komentar

Berita Terbaru

Selasa, 16/09/2014 06:51:59 FPI Jakarta Tolak Ahok sebagai Gubernur DKI Senin, 15/09/2014 18:44:52 ICW: 48 Anggota Dewan Terpilih Terjerat Korupsi Senin, 15/09/2014 17:57:46 Kutu Loncat itu Bernama Ahok Senin, 15/09/2014 17:29:33 Kiyai Maimun Zubair Sesalkan Perpecahan di Tubuh PPP Senin, 15/09/2014 16:59:09 Alhamdulillah, Anak-anak di Gaza sudah Mulai Sekolah