Kesultanan Sulu Tidak Terlibat Kekerasan dengan Malaysia di Sabah
Jakarta (SI ONLINE) - Sulatniyah Sulu Darul Islam (SSDI) atau Kesultanan Sulu menyatakan tidak terlibat dalam baku kekerasan dengan tentara Malaysia di Sabah. Kesultanan Sulu menegaskan bahwa metode perjuangan mereka adalah anti perang dan anti kekerasan.
Sikap Kesultanan Sulu ini telah disampaikan kepada Pemerintah Malaysia melalui Menteri Pertahanan Malaysia Dato' Seri Dr Raden Ahmad Zahid Hamidi di Hotel Pan Pacivic, seperti dipantau Suara Islam Online dari Jakarta, Selasa (5/3/2013). Sultan Sulu Sultan Bantilan II diwakili oleh Menteri Luar Negeri SSDI Datu Habib Zakaria Abdullah, Mufti besar SSDI Datu Habib Muhammad Rizieq Syihab serta Menteri Belia dan Sukan SSDI Dzul Asree, yang juga wakil Tausug Global Media (TGM).
Dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa serangan bersenjata ke wilayah kedaulatan Malaysia seperti yang terjadi di Lahad Datu tidak dapat diterima, bukan saja oleh rakyat Malaysia tetapi juga oleh mayoritas rakyat Sulu.
"Tindakan secara bersenjata yang hanya dilakukan oleh beberapa orang dari Sulu yang mengaku sebagai Tausug itu adalah tindakan bersendirian dan terdesak tanpa membabitkan majoriti Tausug di kepulauan Sulu mahupun yang ada di Sabah dan Malaysia amnya," tulis Menteri Belia dan Sukan SSDI Dzul Asree seperti dimuat dalam blog SSDI, Tausug Global Media (TGM).
Kesultanan Sulu bersikap apapun permasalahn yang terjadi antara Malaysia dan Sulu akan diselesaikan melalui meja perundingan dengan cinta kasih dan penuh persaudaraan.
"Oleh itu, SSDI yang dipimpin oleh Sultan Bantilan II (PBMM Sultan Muhammad Bantilan Muizzuddin II bin Datu Wasik Aranan Puyo) sejak gerakannya yang bermula tahun 2006 di Jolo Sulu itu telah menjadikan slogan anti perang dan anti keganasan sebagai dasar perjuangannya tanpa senjata," kata Asree.
27 Tewas
Tentara Malaysia, Selasa (5/3/2013), akhirnya melancarkan serangan terhadap kelompok yang mengatasnamakan diri tentara Kesultanan Sulu di Sabah, Kalimantan. Sebelumnya bentrok kedua kubu telah menewaskan 27 orang.
Operasi itu dimaksudkan untuk mengambil alih wilayah Malaysia yang ditempati oleh sekitar 180 orang dari Kesultanan Sulu. Pemerintah mengirim tujuh batalyon tentara ke daerah itu, Senin, untuk memperkuat polisi.
red: shodiq ramadhan








