Pemimpin Salafi Akui di Bawah Mursi Mesir Lebih Baik, Tapi Masih Jauh dari yang Diimpikan
Kairo (SI ONLINE) - Pemimpin terkemuka kelompok Salafi Mesir, Muhammad Al Zawahiri mengakui, Mesir di bawah pemerintahan tokoh Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, memang menjadi lebih baik dibanding rezim sebelumnya.
"Seperti sekarang ruang untuk berkhotbah dan mengekspresikan pendapat jauh lebih besar dari pada rezim sebelumnya," kata Al Zawahiri, seperti dilaporkan Al-Ahram, Senin (4/3/2013). Meski demikian, kata Al Zawahiri, kondisi saat ini masih jauh dari yang diimpikan.
Pernyataan Al Zawahiri datang berkenaan dengan rencana pemilihan parlemen Mesir pasca-revolusi, dijadwalkan mulai pada 22 April, dengan masa pendaftaran pencalonan akan dimulai pada Sabtu.
Majelis Rakyat pertama negara pasca-revolusi (legislatif rendah parlemen) dibubarkan tahun lalu oleh Dewan Tinggi Mesir berdasarkan putusan pengadilan yang kontroversial.
Sebelumnya Al Zawahiri mengatakan bahwa pemilu demokratis melanggar hukum Islam karena mereka menempatkan “kedaulatan di tangan rakyat dan bukan di tangan Tuhan.”
Al Zawahiri menekankan penolakannya terhadap sistem sekuler serta mekanismenya. Dia melanjutkan meminta pelaksanaan "Syariah sejati (hukum Islam) yang didasarkan pada agama yang sejati."
Dia menambahkan bahwa ia tidak akan menyerah pada realitas politik saat ini atau meninggalkan prinsip-prinsip agama. Bahkan ia berencana untuk mempromosikan di kalangan masyarakat apa yang selama ini dipahaminya.
"Berdasarkan pengalaman masa lalu, dan seperti yang terlihat di beberapa negara, pemilu tidak mengarah pada pemberlakuan syariat Islam," tegasnya.
Pada 1999, Muhammad Al Zawahiri dijatuhi hukuman mati in absentia untuk beberapa serangan di Mesir, termasuk pembunuhan pada 1997 atas 62 wisatawan asing di kota Mesir bagian atas, Luxor.
Setelah diekstradisi dari UEA pada tahun yang sama, dia dibebaskan pada Maret 2011 sebagai bagian dari amnesti diberikan kepada tahanan politik oleh dewan militer yang berkuasa pada saat itu. Ia kembali ditangkap pihak berwenang beberapa hari kemudian.
September lalu, dalam sebuah wawancara dengan berita penyiar CNN Amerika, Al-Zawahiri mengusulkan gencatan senjata (hudna) antara Barat dan Islam saat ini, menyatakan ia berada dalam "posisi yang unik untuk membantu mengakhiri kekerasan.
red: shodiq ramadhan
Komentar
kLO tidak sesuai impian ikut masuk dong ke sistem, ubah!Ga usah saklek pake istilah kufru bawwah,dsb.








