Mengenang Jasa-Jasa Tarmizi Taher

Tanda sms mengusik berbunyi :“Pak Tarmizi Taher, dipanggil Ke Hadhirat Illahi, baru saja, menjelang Subuh tadi, Innalillahi wainna ilaihi raaji’un,”  demikian sms sdr. Tabrani Sobirin (mantan Sekjen Dewan Masjid era ketuanya dijabat Tarmizi Taher)  bersamaan kumandang adzan Subuh Selasa 12 Februari 2013.

Penulis tidak begitu terkejut dengan kabar wafatnya mantan  Sekjen dan Menteri agama RI ini. Seminggu sebelumnya penulis mengajak Tabrani untuk bezoek, namun  batal. Tarmizi Taher sudah sejak Desember 2011 menderita stroke , dan seminggu sebelum wafat,  dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. Tarmizi Taher putra asli Minangkabau lahir 7 Oktober 1936, wafat dalam usia 76 tahun lebih, meninggalkan, istri Nyonya Djoesma  dan  empat orang putra-putri :  Afghan (lahir 1965, Surabaya); Sakina (lahir Surabaya 1966); Halbana (lahir Tanjung Pinang 1968), dan Diergantoro, (lahir Jakarta 1974).

Penulis terhenyak di rumah duka Kompleks Perwira Angkatan Laut Republik Indonesia Pangkalan Jati Pondok Labu Jakarta Selatan, saat  menunggu kedatangan janazah dari RS Cipto dan berbincang-bincang dengan Prof.Dr.Jimly Asshidiqie SH, mengenang begitu banyak jasa Pak Tarmizi buat bangsa dan khususnya umat dan agama Islam. Penulis mengingat pula terakhir kali bertemu Tarmizi Taher saat menghadiri Rakernas Dewan Masjid Indonesia di Batam pada  akhir April 2011,yang juga dihadiri Jimly Asshidiqie. Pak Tarmizi yang selalu didampingi istri, saat itu sudah naik di kursi roda dan tampak ramah berseri-seri menghampiri setiap peserta Rakernas yang datang dari seluruh Indonesia. Begitu banyak jasa Tarmizi ! Penulis yang acapkali berbincang akrab dengan almarhum Tarmizi, mengerti benar mengapa almarhum mengukir begitu banyak jasa. Hal itu hanya menjadi konsekuensi atau refleksi dari prinsip hidupnya yang dipegang sangat kukuh, yakni , “Manfaatkan hidup (prestasi dan jabatanmu) untuk kemuliaan dan kehormatan agama Islam!”.

Prinsip dan gaya hidup ini kata almarhum meneruskan cita-cita ayahandanya Taher Marah Sutan, juga ibundanya Jawanis seorang mubalighat, yang kondang di zamannya di Ranah Minang. Ayah Tarmizi ini diakui Bung Hatta (dalam buku Memoar Hatta) sebagai inspirator dan gurunya dan acapkali mendukung  dana bagi Bung Hatta termasuk menghadiri Kongres Sumpah Pemuda  di Jakarta. Berulang-ulang Tarmizi bercerita, seorang pejabat yang Muslim tapi tidak pernah menunjukkan jatidiri Kemuslimannya dan berbuat untuk Islam, maka hanya ada kemungkinan orang yang bersangkutan, pengecut atau yang bersangkutan tidak menghayati agama yang dipeluknya.

Prinsip memanfaatkan jabatan  untuk Islam bukan berarti hendak menguasai pihak lain apalagi merugikan kata Tarmizi suatu saat. Ini yang saya lakukan ketika saya lihat prajurit ABRI, khususnya prajurit AL banyak yang kurang kuat kehidupan keagamaannya dari tingkat prajurit bahkan ke perwira tinggi. Padahal jika seorang prajurit dibekali pendalaman agama yang kuat niscaya motivasi berjuang akan bertambah hebat. Tarmizi merasa resah dengan kondisi lingkungannya di AL ini.Karena merasa concern dengan masalah ini, Tarmizi memberanikan diri menghadap Panglima ABRI saat itu Jendral Benny Moerdani, dan menyampaikan sebuah ide terobosan.  Ketika ide itu disampaikan dengan sangat berani (mengingat Benny seorang jendral beragama Nasrani), justru menarik perhatian Benny dan merespons agar direalisir ide tersebut. Inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal terbentuknya Pusbintal (Pusat Pembinaan Mental) ABRI, yang lalu dipercayakan untuk dipimpin Tarmizi Taher, dan Tarmizi pun dipercaya menjabat  Wakil Kepala Pusbintal  ABRI (1980-1982) dan Kepala Pusbintal ABRI (1982-1987).

Dengan jabatannya ini Tarmizi acapkali berinteraksi dengan umat Islam juga tokoh-tokoh Islam dan para ulama. Hal ini bagai mengembalikan jatidiri Tarmizi Taher yang memang berasal dari lingkungan keluarga alim-ulama di Sumatera Barat. Tarmizi pun  tetap memperdalam ilmu agama kendati telah berdinas di lingkungan TNI AL di Surabaya, juga sebagai dokter professional di lingkungan TNI AL.Kepada penulis Tarmizi menceritakan ketika masih dinas di Surabaya tiap pagi sesudah subuh ia mengaji kepada tokoh Al  Irsyaad di kota Surabaya yakni Umar Hubeys. Jam 7 pagi baru ia selesai mengaji dan bergegas masuk dinas di TNI AL. Ilmu Islam yang dipelajarinya terasah ketika ia “terpaksa” menggantikan ceramah agama di Masjid Jamik Mujahiddin Perak Surabaya, yang sedianya diisi oleh Buya Ghaffar Ismail (ayahanda penyair Taufiq Ismail), tapi Buya Ghaffar berhalangan hadir, dan Tarmizi didaulat menggantikannya. Alhamdulillah, saya berhasil tampil di masjid itu dan dipuji banyak jamaah yang membuat saya bertekad harus bisa tampil juga sebagai mubaligh yang handal, walau tentara, dan dokter, kenang Tarmizi bangga suatu hari. Dan tatkala ia menduduki jabatan sebagai Kepala Pusbintal ABRI, semakin intens Tarmizi menyelami posisi umat Islam di Indonesia yang jumlahnya mayoritas tapi selalu dalam posisi yang selalu dimarginalkan. Dari sini Tarmizi mengaku bertekad hendak memberdayakan nasib umat Islam melalui jabatan apapun yang ia duduki.

Melaju sebagai Pejabat Tinggi Depag

Karena peranannya sebagai Kepala Pusbintal ABRI (1982-1987) yang amat membantu hubungan umat Islam dengan lingkungan ABRI menjadi  akrab dan penuh pengertian, Tarmizi Taher pun diangkat sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) Departemen Agama (1987). Karier sebagai Sekjen Depag ini semakin melicinkan keinginan seorang Tarmizi untuk sebanyak mungkin memberdayakan umat Islam melalui jabatan yang ada dalam genggamannya. Hubungan yang kurang serasi di kalangan umat dengan pemerintah  selalu dijembatani dengan sikap Sekjen Depag yang cenderung turun ke bawah, dan menemui berbagai pimpinan ormas Islam, pondok pesantren. Hal ini yang membuat Tarmizi sangat popular di kalangan pimpinan Islam di seluruh Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto mengangkat Tarmizi Taher sebagai Menteri Agama (1993), jabatan ini bagai menjadi pesawat jet bagi Tarmizi untuk berbuat semaksimal mungkin untuk kepentingan dan keuntungan umat Islam. Itulah yang dilakukan Tarmizi pada 1997 tatkala Indonesia digilas oleh krisis moneter. Kepada penulis Tarmizi menceritakan hari-hari itu ia betul-betul dibuat pusing tujuh keliling dengan jatuhnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika yang semula kurs rupiah sekitar Rp 2.500/1$ US, jatuh bertahap sampai mencapai Rp 10.000/1$-US. Yang membuat pusing kata Tarmizi, calon jamaah haji yang sudah mendaftar dan membayar ONH sebesar Rp 6 juta, harus diberangkatkan. Padahal  angka ONH itu jika disesuaikan dengan kurs dolar terhadap rupiah, niscaya ONH yang dibayar calon jamaah haji itu, jauh dari cukup. Tarmizi mengaku memutar otak, dan segera bertolak ke AS menemui Gubernur Bank Central AS, Alan Greenspan yang kebetulan ia kenal. Green Span menasihati bahwa ekonomi Indonesia, tak bisa ditolong. Tarmizi menjadi nervous, gelisah dan langsung pulang ke Indonesia, dan menemui Gubernur Bank Indonesia Dr. Soedradjad Djiwandono. Kepada Gubernur BI Tarmizi bertanya, apakah ekonomi Indonesia bisa diselamatklan dari terpaan krisis moneter ? Dijawab Soedradjad  Indonesia akan kuat menghadapi krisis moneter ini karena fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Kalau begitu, kata Tarmizi rupiah bisa diselamatkan, dan sebaiknya ONH calon jemaah haji  segera disetorkan ke BI secepatnya ! Dijawab, gubernur BI, ya, sebaiknya disetorkan segera, dan Tarmizi pun memerintahkan malam hari itu juga dana ONH yang tersimpan di seluruh bank-bank segera disetorkan ke BI. Inilah yang kini bisa dicatat sebagai penyelamatan jamaah haji Indonesia yang sangat spektakuler oleh Menteri Agama Tarmizi yang juga amat bersejarah, namun tidak pernah dibicarakan dan dibahas orang sampai hari ini. Mengapa ?

Andaikata ONH tersebut tidak segera dibayarkan, niscaya jamaah haji akan dikenakan konsekuensi harus membayar ONH yang harus disesuaikan dengan dolar AS. Terbayang, setiap jamaah haji harus membayar  empatkali lipat yakni sekitar Rp 24 juta, yang pasti tidak bisa dipenuhi para calon jamaah haji. Dan bagi jamaah haji pada 1997-1998 menjadi kenangan tersendiri, mereka berangkat haji membayar Rp 6 juta-an, dan malah ketika berangkat ke Tanah Suci diberi uang saku oleh Depag sebesar Rp 7 juta-an. Artinya mereka pergi haji, bagai gratis, dan malah diberi uang saku Rp 1 juta . Subhanallah, hal ini menjadi jasa perjuangan Menteri agama Tarmizi Taher.

Jasa lain Tarmizi, menjelang pensiun dari menteri agama,Tarmizi menceritakan kepada penulis ia menghadap Pak Harto di kediaman Cendana, dan melaporkan ia memiliki dana sebesar Rp 750 Milyar, yang berasal dari tabungan penghematan berbagai kegiatan haji. Pak Harto kaget, dan menanyakan asal uang tersebut dan kepastian uang tersebut bukan uang berasal dari APBN. Tarmizi pun menceritakan bagaimana ia beberapa tahun berhasil meyakinkan Menteri Haji Arab Saudi Syeikh Abdullah Turky agar jamaah haji Indonesia diberi kemudahan membayar uang pondokan haji dan uang makan, yakni dibayarkan setelah musim haji berakahir. Tidak seperti yang berlaku selama ini yakni dibayarkan setahun sebelum musim haji tiba. Menteri Haji Saudi setuju. Kemudahan itu dimanfaatkan Menteri Tarmizi dengan menyimpan uang ONH ke bank Muamalah dan ditambah waktu itu menteri agama juga berhasil meyakinkan Presiden Soeharto agar pembayaran ticket jamaah haji ke Garuda  juga dibayarkan setelah jamaah haji selesai menunaikan ibadah haji. Hasilnya bagi hasil dari Bank Muamalah dan bank-bank milik pemerintah,  menjadi simpanan uang Rp 750 Milyar itu. “Jadi ini uang berkat tanda tangan Bapak Presiden waktu itu yang menyetujui uang ticket Garuda dibayar kemudian sesudah ibadah haji selesai dijalankan,” kata Tarmizi mengulang apa yang disampaikan ke presiden. Presiden Soeharto merasa senang dan memuji Tarmizi sebagai menteri yang kreatif . Ketika Tarmizi meminta arahan presiden penggunaan dana Rp 750 Milyar itu, presiden Soeharto menyerahkan sepenuhnya kepada inisiatif menteri agama Tarmizi. Dana inilah yangn kemudian dikenal sebagai Dana Abadi Umat (DAU). Atas inisiatif Tarmizi sejumlah Ormas Islam diberi bantuan tetap setiap tahun dalam jumlah yang sangat menolong kegiatan. Ada yang dapat jatah Rp 100 juta/tahun ada yang beberapa puluh juta/ tahun. Ormas Islam yang tercatat mendapat bantuan dari DAU antara lain MUI, PB-NU, PP Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan puluhan ormas onderbouw ormas-ormas Islam, seperti GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Fatayat NU, Nasyiatul  Aisyiah dan seterusnya.

Kini dana DAU yang murni milik umat Islam itu disandera sejak beberapa tahun silam karena dijadikan bukti penyelewengan oleh menteri agama di era Megawati, yakni Said Agil Munawar yang terjerat kasus korupsi. Padahal DAU mutlak milik umat  Islam dan sudah tepat seperti prakarsa Tarmizi Taher dikembalikan kepada hajat dan kepentingan umat Islam. Seharusnya dana DAU bisa dicairkan kembali dan setiap tahun bisa diberikan sebagai bantuan kepada sejumlah Ormas Islam. Inilah jasa dari pemikiran seorang Tarmizi Taher. Pak Tarmizi sudah dipanggil Ke Hadhirat Illahi, mudah-mudahan jasa dan keteladanan Pak Tarmizi, bisa diteruskan generasi Islam di masa mendatang, dan amal shalih Pak Tarmizi di terima Allah dan mendapat  balasan di Akherat, amin ya mujibassalini !

 

Komentar

17.04.201322:25
Ahmad
Subhanallah, sebuah kisah yg bisa diteladani. Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik buat beliau.
Nama

Email


security image
Kode
Komentar

Berita Terbaru

Sabtu, 18/05/2013 17:13:42 Alhamdulillah Kini Hadir RSIA Islam di Bogor Sabtu, 18/05/2013 14:50:50 KH Ma'ruf Amin : Waspadai Kebangkitan PKI Sabtu, 18/05/2013 14:39:01 Kelompok Oposisi Liberal Desak Presiden Mursi Mundur Sabtu, 18/05/2013 14:21:20 Hukum Safar bagi Wanita Sabtu, 18/05/2013 14:06:15 Awas Wabah Chikungunya Ancam Kesehatan Keluarga