Saat Anshar Menginginkan Ghanimah
Rasulullah memberi teladan dalam berpolitik secara baik,dengan akhlak yang mulia dan meletakkan segala permasalahan secara proporsional.
Setelah Perang Hunain, Rasulullah saw membagikan ghanimah (rampasan perang) kepada kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya, dan tidak sedikit pun beliau memberi kepada kaum Anshar, sehingga timbul kasak-kusuk pembicaraan di kalangan mereka. Hingga salah seorang dari kaum Anshar ada yang berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemukan kaumnya.’
Maksud sahabat Anshar itu adalah setelah peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathul Makkah) dan kemenangan di Hunain, ia mengira Rasulullah akan kembali ke kotanya. Tidak kembali ke Madinah.
Mendengar ucapan sahabat Anshar tersebu lantas Rasulullah mengumpulkan mereka dan bersabda, “Wahai segenap kaum Anshar, apa yang kalian bicarakan sehingga sampai ke pendengaranku, kekurangan apakah yang kalian rasakan pada diri kalian? Aku telah datang kepada kalian, ketika kalian dalam kesesatan, maka Allah memberi hidayah kepada kalian? Bukankah kalian dahulu fakir, kemudian Allah menjadikan kalian kaya? Bukankah dahulu kalian saling bermusuhan, kemudian Allah menyatukan hatimu?,”
Kaum Anshar berkata, ‘Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah memberi kami karunia yang tak terhingga’. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Tidakkah kalian balas, wahai kaum Anshar?,” Maka mereka berkata, ‘Dengan apa kami membalas, sedang Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling memiliki keutamaan dan karunia.’
Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, jika kalian mau, niscaya kalian akan berkata dan akan jujur dalam perkataan kalian. Kamu telah datang kepada kami dalam keadaan dusta tapi kami telah membenarkan, kamu datang dalam keadaan tak seorang pun yang menolong, maka kamilah yang memberikan pertolongan, kamu datang dalam keadaan terusir lalu kamilah yang memberikan perlindungan dan, kamu datang dalam keadaan teraniaya maka kamilah yang memberikan kasih sayang. Apakah kalian, wahai orang-orang Anshar, mendapatkan sesuatu yang aku himpun dari suatu kaum agar masuk Islam dan aku biarkan kalian kepada Islam kalian sendiri? Apakah kalian tidak rela orang-orang pergi dengan domba dan unta, lalu kalian pulang bersama Rasulullah dalam pengembaraan kalian? Demi Yang Melindungi jiwa Muhammad, jika bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang kaum Anshar? Jika orang-orang menelusuri sebuah jalan, dan kaum Anshar menelusuri jalan lain, niscaya aku akan menelusuri jalan kaum Anshar.’
Maka menangislah mereka sehingga janggut mereka basah. Mereka berkata, ‘Kami rela dengan keputusan dan pembagian Rasulullah.’”
Kata-kata jujur dan tulus yang keluar dari hati Rasulullah saw dan diterjemahkan oleh lisannya telah menundukkan hati kaum Anshar serta meninggikan jiwa mereka ke tingkatan para malaikat, membunuh fitnah yang bercokol dalam buaiannya, menggerakkan jiwa untuk mengetahui yang hak dan bijaksana. Kata-kata itu menunjukkan, bagaimana Rasulullah menyatukan orang-orang di bawah maslahat Islam yang luhur. Membela dan mengagungkan Islam, menyatukan pemeluknya di bawah naungan kedamaiannya, sehingga tercapai kesatuan kaum muslimin di bawah naungan tauhid dan panji Islam.
Jika Rasulullah tidak memiliki sifat luhur itu, jika Allah tidak mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemahiran berpolitik, tentunya beliau tidak akan mampu mendirikan negara Islam di Madinah, bahkan jazirah Arab tidak akan tertaklukkan dengan kecintaan dan kepatuhan. Karenanya, bagaimana Rasulullah saw tidak menjadi teladan yang baik dalam kemahiran berpolitik dan kemuliaan bertindak, sedang beliau telah menjalankan perintah Tuhannya dalam politik yang digariskan Allah.
Dari peristiwa di atas, kita ketahui Rasulullah telah memberikan teladan berpolitik yang baik untuk umat manusia, baik masyarakat lapisan bawah maupun atas, mukmin atau kafir, awam atau pandai. Allah Swt telah memberi beliau keberhasilan dalam segala hal, dengan akhlak yang mulia, berpolitik secara baik, bijak dan sesuai kecerdikan dan akhlak yang agung serta meletakkan segala permasalahan secara proporsional. Wallahu a’lam bishawwab.
[shodiq ramadhan]








