Gerakan Perubahan, Mau Dibawa Kemana?
Perubahan, akhir-akhir ini menjadi kata yang familiar di telinga kita. Terutama setelah salah satu partai baru di bursa pemilu 2014 menjadikan ‘Gerakan Perubahan’ sebagai slogannya.
Slogan perubahan memang selalu menjadi ‘jualan’ partai-partai politik untuk menarik simpati rakyat. Baik partai lama maupun partai baru, semua menawarkan janji-janji akan membawa indonesia menuju perubahan yang lebih baik.
Namun faktanya, dari pemilu ke pemilu janji tinggalah janji. Perubahan yang dijanjikan jauh panggang dari api. Gerakan perubahan pun penuh dengan perpecahan dan perebutan kepentingan. Ujungnya hanya menghasilkan pergantian rezim pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat. Bahkan kasus korupsi semakin merajalela, bobroknya sistem pengadilan, dikuasainya sumber daya alam oleh asing, krisis moral, kriminalitas, kemiskinan dan kebodohan malah semakin parah.
Perubahan yang diinginkan tentu perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya sebagian namun seluruhnya berubah. Artinya, perubahan bukan sekedar perubahan kulit luarnya saja tetapi juga dalamnya, bukan perubahan yang parsial saja sedangkan yang lain dibiarkan bobrok, bukan hanya perubahan orangnya saja tetapi landasan sistemnya.
Sistem yang berlaku saat ini adalah sistem demokrasi kapitalis. Sistem yang menjadikan manusia sebagai pembuat aturan kehidupan. Karena asasnya adalah sekularisme, yakni memisahkan agama dalam mengatur kehidupan. Ketika aturan diserahkan kepada akal manusia, maka yang terjadi adalah kerusakan, perselisihan dan ketidakadilan.
Sistem demokrasi kapitalis selalu berpihak kepada pemilik modal. Bukan kepada rakyat. Sehingga, siapapun partai yang berkuasa, siapapun pemimpinnya maka penguasanya tetaplah para pemilik modal. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akhirnya selalu berpihak pada kepentingan asing dan para pemilik modal.
Bahkan gerakan perubahan di Indonesia, telah membawa Indonesia sebagai kelinci percobaan. Indonesia sudah pernah dipimpin oleh presiden dari berbagai latar belakang. Mulai dari intelektual, militier, professor, ulama bahkan perempuan. Namun, hingga saat ini, perubahan ke arah lebih baik belum juga dirasakan oleh rakyat.
Maka, gerakan perubahan tidak cukup hanya merubah orang atau merubah secara pragmatis tambal sulam. Ibarat kendaraan, Indonesia ini dalam keadaan rusak parah. Maka, sehebat apapun supirnya, maka kendaraan tidak akan berjalan dengan maksimal. Yang harus diperbaiki adalah sistemnya, bahkan jika terlalu bobrok, haruslah diganti mesin utamanya.
Gerakan perubahan harus mengarah pada perubahan sistem. Sistem kapitalis dan komunis telah terbukti gagal dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Artinya, harus ada sistem alternatif untuk mengganti sistem tersebut.
Sistem alternatif itu adalah islam. Karena islam adalah agama yang memiliki syariat/aturan kehidupan untuk memecahakan semua persoalan manusia. Aturan yang berasal dari Allah swt yang menciptakan manusia dan alam semesta.
Sistem islam telah terbukti oleh sejarah, mampu melakukan perubahan yang luarbiasa yang dirasakan oleh seluruh umat manusia. Bukti nyata perubahan yang hakiki telah ditunjukan oleh Rasulullah saw saat merubah sistem jahiliyah menjadi sistem islam. Kesejahteraan dan keadilan menjadi cirinya. Hingga menghasilkan peradaban islam yang cemerlang, yang bertahan selama 13 abad.
Maka, sudah saatnya gerakan perubahan yang dilakukan partai-partai, khususnya partai islam, dibawa pada penerapan syariat islam dalam naungan negara. Sudah saatnya, kaum muslimin berupaya melakukan perubahan ini. Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubah dirinya. Yakinlah, perubahan yang dituju adalah Janji Allah SWT untuk umat Islam.
Idea Suciati
Ketua Kajian dan Pembangunan Karakter Bangsa
Mahasiswi Pasca Kebijakan Publik Unpad
Komplek Puri Indah B5 no 5 Jatinangor Sumedang








