A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: main_kat_id

Filename: controllers/read.php

Line Number: 56

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: main_uri

Filename: controllers/read.php

Line Number: 56

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: main_kat

Filename: controllers/read.php

Line Number: 56

Menjadi Orang Tua yang Mencintai Anak dengan Sempurna

Menjadi Orang Tua yang Mencintai Anak dengan Sempurna

Butik Mumtaz yang terletak di Jalan Raya Penjernihan, Jakarta Pusat, pagi itu mendadak ramai. Di lantai dua gedung yang diisi dengan beragam jenis busana Muslim dan Muslimah itu sedang berlangsung acara Weekend Parenting. Sekitar pukul 09.15 wib, ketika Suara Islam Online datang acara sudah dimulai. Seorang trainer parenting, Rani Razak Noeman, sedang menyampaikan materinya di hadapan 35 orang peserta. 

Sebagian besar peserta memang ibu-ibu. Beberapa di antaranya malah hadir bersama suami mereka. Dari penampilannya rata-rata mereka dari kalangan menengah ke atas. Betapa tidak, karena "investasi" yang harus ditanam untuk mengikuti kegiatan setengah hari itu terbilang besar, empar ratus lima puluh ribu rupiah.

Meski terbilang mahal, rupanya ilmu dan pengetahuan yang didapat dari pelatihan itu memang sebanding. Pembicara pertama, Rani Razak Noeman adalah seorang ibu dari tiga anak yang telah 14 tahun menjadi trainer. Alumni teknik indistri ITB ini merupakan anggota tim Yayasan Kita dan Buah Hati yang sekaligus pendiri Komunitas Cinta Keluarga di Bandung.

Sedangkan narasumber kedua, seorang ayah, yang secara khusus mendalami soal keayahan (fathering), Irwan Rinaldi. Sosok muda kelahiran Bukittinggi, alumni Universitas Indonesia ini juga pendiri komunitas Sahabat Ayah.

Acara ini dihelat oleh Komunitas D_Lima, sebuah komunitas ibu-ibu yang didedikasikan bergerak di bidang parenting. Komunitas ini baru berdiri pada bulan Oktober lalu dan dipimpin oleh istri mantan Menpora Adhyaksa Dault, drg Mira Arismunandar.

Tak Ada Ortu Sempurna

Dengan gayanya yang khas ibu-ibu ketika menghadapi anak-anaknya, Rani berbagi pengalaman dan tips kepada para peserta seputar pengasuhan anak.

Menurut Rani, sembari mengutip hasil kesimpulannya seorang rekannya, ada tiga syarat untuk menjadi orang tua. Orang tua yang ingin mendidik anaknya dengan benar setidaknya perlu memiliki tiga sifat ini: raja tega, muka tembok, dan jago ngeles.

Jadi orang tua, kata Rani, tak perlu malu-malu melakukan ketiga hal di atas. Supaya ke depannya, orang tua tidak membayar "hutang" atas sifat dan sikap anaknya yang tidak diinginkan.

Rani mencontohkan, saat salah satu putranya ingin melanjutkan pendidikan di sekolah yang lebih jauh jaraknya dari rumah. Padahal selama ini ia telah menyekolahkan di sebuah sekolah yang cukup elit dan lumayan dekat, bisa antar jemput dengan kendaraan pribadi.

Rupanya, lanjut Rani, anaknya ingin bersekolah di sekolah negeri. Bukan sekolah 'borju' yang dimasuki selama ini. Tujuannya, ingin ramai-ramai naik angkutan umum. Sebagai orang tua, yang sebelumnya sangat protektif, tentu saja Rani sangat khawatir dengan keinginan itu.

"Tapi, dengan pertimbangan kemandirian dia di masa depan, Bismillah, saya lepas anak saya untuk naik angkot," kata Rani menceritakan.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana orang tua harus "tega" dalam memperlakukan anak-anaknya. Sebab jika tidak, di masa dewasnya mereka tidak akan bisa mandiri.

Bukan hanya memberikan contoh secara verbal, dalam pelatihannya Rani berulang kali melakukan simulasi. Alatnya sederhana, kertas dan bolpoint.

Rani meminta kepada peserta untuk melipat secarik kertas menjadi empat bagian. Separuh untuk menuliskan sifat-sifat buruk anak. Kemudian yang separuh lagi peserta disuruh menuliskan semua sifat-sifat baik anak. Kemudian bagian kertas yang terdapat sifat-sifat baik anak peserta diminta agar menyimpannya di dalam saku. Sedangkan kertas yang berisi sifat-sifat buruk anak, kertasnya digulung.

"Silahkan ayah dan bunda berdiri. Lempar ke depan gulungan kertasnya. Kita 'lempar  jumroh'," katanya.

Peserta pun semuanya berdiri dan melemparkan kertas yang digenggamnya. Bahkan ada yang sampai mengenai sesama peserta di depan mereka.

"Mulai hari ini kita tidak akan memanggil anak kita dengan keburukannya. Kita sudah lemparkan semua sifat-sifat jelek anak kita," katanya menjelaskan.

Dalam mendidik anak, lanjut Rani, memang tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang mencintai anak dengan sempurna.

Usia Emas 0-15 Tahun

Tak kalah seru, adalah presentasi Irwan Rinaldi. Irwan tidak hanya menyampaikan sisi fathering saja, tetapi juga mengungkap sejumlah konsep pendidikan anak (tarbiyatul aulad) secara Islami. Meski tidak disampaikan dalam materi khusus dengan topik pendidikan anak secara Islami, tetapi Irwan mampu mengetengahkan konsep mendidik anak secara Islami dengan baik.

Menurut Irwan, Indonesia sekarang kekuarangan ayah secara psikologis bukan secara fisik. Artinya, secara fisik ayah memang ada dan melakukan fungsinya tetapi secara psikologis kehadiran ayah tidak dirasakan secara maksimal oleh anak-anak. "Istilahnya lapar ayah (fathers hunger)" katanya.

Dalam Al Qur'an, lanjut Irwan, peran sentral ayah dalam mendidik anak telah termaktub dalam Surat Lukman yang berisi pesan-pesan Lukman kepada putranya.

"Persoalan utama pembentukan karakter anak adalah tazkiyatun nafs kemudian baru tu'alimul kitab", jelasnya.

Jadi, kata Irwan, sebenarnya persoalan utama (akar masalah) dalam fathering adalah persoalan paradigma. Bukan persolan lain yang merupakan persolan dahan. Dengan paradigma yang benar maka persoalan dapat diselesaikan.

Pertanyaannya, mengapa ayah perlu ikut mengasuh dan mendidik anak terutama saat usia dini?.

"Anak adalah tambang. Anggaplah anak adalah tambang yang kaya dengan permata-permata yang tak ternilai harganya. Hanya pengasuhan dan pendidikanlah yang dapat mengeluarkan harta kekayaan tambang yang luar biasa tersebut," kata Irwan menjelaskan.

Padahal, kata Irwan, masa depan anak tergantung dari apa yang didapat selama usia dini. Sementara masa terbaik  adalah di rentang usia 0-15 tahun. Karenanya di usia anak 0-15 tahun peran ayah dalam mendidik anak sangat krusial. Di usia inilah peran ayah harusnya sangat dominan dan sentral.

"Sebab dengan ayah anak bisa lebih eksploratif," kata Irwan yang juga alumni jurusan filsafat STF Driyakara itu.

Kehadiran sosok ayah dalam usia anak 0-15 tahun adalah keharusan. Sebab bagaimana sifat anak di masa dewasa akan ditentukan bagiaman ketika mereka berusia 0-15 tahun dididik. "Karakter anak ketika dewasa tergantung bagaimana orang tua mendidiknya di usia 0-15 tahun," pungkasnya.


red: shodiq ramadhan

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar

Berita Terbaru

Rabu, 26/11/2014 19:43:08 Habib Rizieq Bongkar Sejarah Kebiadaban Poh An Tui Rabu, 26/11/2014 18:51:11 Amanah untuk Sang Wali Negeri Rabu, 26/11/2014 18:35:53 Adnan Buyung : Bubarkan Saja KPK! Rabu, 26/11/2014 18:24:00 Fadli Sebut Menkopolhukam Amatir Rabu, 26/11/2014 17:57:52 2015, Jamaah Haji Perdana Diprioritaskan