Melafalkan Niat dalam Ibadah (Bagian 2)

Keempat; Rasulullah Merekomendasikan Pelafalan Niat Haji yang Disertai Istitsna' kepada  Dhuba'ah

Rasulullah pernah merekomendasikan pelafalan niat yang disertai Isytiroth (memberi syarat) kepada Dhuba'ah binti Az-Zubair yang ingin berhaji namun dalam kondisi sakit. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (16/ 32)
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ لَهَا لَعَلَّكِ أَرَدْتِ الْحَجَّ قَالَتْ وَاللَّهِ لَا أَجِدُنِي إِلَّا وَجِعَةً فَقَالَ لَهَا حُجِّي وَاشْتَرِطِي وَقُولِي اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي وَكَانَتْ تَحْتَ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ

Dari Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemui Dhuba'ah binti Az Zubair, maka beliau bersabda: "Sepertinya kamu ingin menunaikan ibadah haji." Ia pun berkata, "Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku kecuali sakit." Beliau pun bersabda: "Tunaikanlah haji, dan berilah syarat. ucapkan: 'ALLAHUMMA MAHILLII HAITSU HABASTANII (Ya Allah, tempatku adalah di tempat Engkau menahanku).'" Saat itu, ia adalah isteri daripada Miqdad bin Al Aswad. (H.R. Bukhari)

Ubaidullah Al-Mubarokfury menjelaskan hadis ini dalam kitabnya Mirqot Al-Mafatih Syarh Misykat Al-Mashobih sebagai berikut;

مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (9/ 445)
وذكر فيه ابن قدامة احتمالين : أحدهما هذا ، قال : ويدل عليه ظاهر قوله - صلى الله عليه وسلم - في حديث ابن عباس (( قولي : محلي من الأرض حيث تحبسني )) قلت : وكذا في حديث عائشة في الصحيحين (( وقولي : اللهم محلي حيث حبستني )) والثاني أنه تكفي فيه النية

Ibnu Qudamah menyebut dua kemungkinan makna. Pertama; adalah makna ini (yakni melafalkan Isytiroth saat berniat haji). Beliau berkata: yang menunjukkannya adalah dhohirnya sabda Nabi pada hadis Ibnu Abbas; Ucapkanlah; tempatku di bumi adalah di mana Engkau menahanku. Saya berkata; demikian pula dalam hadis Aisyah dalam shahihain: katakanlah Ya Allah, tempatku adalah di mana engkau menahanku. Kedua; Cukup niat saja –tanpa pelafalan- (Mirqot Al-Mafatih Syarh Misykat Al-Mashobih, vol.9, hlm 445)

Pemaknaan Ibnu Qudamah yang dinukil Ubaidullah Al-Mubarokfury terhadap hadis Dhuba'ah ini menunjukkan bahwa rekomendasi ucapan Rasulullah kepadanya adalah terkait niat. Hanya saja, dalam pembahasan fikih ada dua kemungkinan makna yang bisa digali: Isytiroth haji itu harus diucapkan ataukah cukup niat dalam hati saja. Dua kemungkinan makna ini semuanya mungkin dalam ijtihad, meski dhohir hadis menunjukkan harus dilafalkan. Yang jelas, makna apapun yang mungkin digali dari hadis tersebut, semuanya tidak terlepas dari makna niat haji yang hendak dilakukan oleh Dhuba'ah. Artinya, rekomendasi pelafalan yang dilakukan Rasulullah bukan sekedar pelafalan tanpa makna, tetapi pelafalan niat haji oleh Dhuba'ah yang disertai dengan Isytiroth. Karena itu hadis ini juag bisa menjadi dalil bolehnya melafalkan niat.

Hadis  Dhuba'ah ini tidak bisa difahami hanya sebagai nadzar atau yang semakna dengan nadzar, karena haji Dhuba'ah jelas bukan nadzar tetapi rencana melakukan haji yang memang diwajibkan kepada mukallaf muslim secara  ibtida-an (orsinil secak awal tanpa sebab yang lain). Hanya saja kondisi Dhuba'ah adalah sakit sehingga saat melafalkan niat haji, Rasulullah  menyarankan disertai dengan isytiroth untuk meringankannya.

Tidak bisa juga memahami bahwa hadis Dhuba'ah ini hanyalah dalil bolehnya isytiroth semata. Tidak bisa dikatakan demikian, karena  meskipun benar bahwa  hadis tersebut adalah dalil bolehnya isytiroth, namun pada saat yang sama nabi memerintahkan mengucapkan isytiroth niat tersebut, sehingga hadis tersebut  juga menjadi dalil mubahnya pelafalan niat.

Imam As-Syafi'i meriwayatkan bahwa Aisyah merekomendasikan pelafalan niat sekaligus isytiroth dalam kondisi diduga akan terjadi hal-hal yang menghalangi pelaksanaan haji. Dalam Musnad As-Syafi'i dinyatakan;

مسند الشافعي ترتيب السندي (ص: 1048)
( أخبرنا ) : سُفْيانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عن هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عن أبيه قال :
 - قالتْ لي عائشةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها : هَلْ تَثْتَثْنِي إذَا حَجَجْتَ ؟ قال : فقُلْتُ لها مَاذَا أقُولُ ؟ فقالتْ قُلْ اللَّهُمَّ الحَجَّ أرَدْتُ ولهُ عَمَدْتُ فَإنْ يَسَّرْتَهُ فَهُو الحَجُّ وإنْ حَبَسَني حَابِسٌ فَهِيَ عُمْرَةٌ

Sufyan bin 'Uyainah memberitahu kami dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya beliau berkata. Aisyah Ra. berkata; Apakah engkau mengucapkan perkecualian jika berhaji? Urwah bertanya; Apa yang aku katakan?Auisyah menjawab; Katakan Ya Allah, aku ingin berhaji, dan untuknya aku menyengaja. Jika engkau memudahkanku maka itu adalah haji. Jika ada yang menghalangiku, maka itu adalah umroh (H.R. As-Syafi'i)

Aisyah adalah perawi hadis Dhuba'ah. Tentu shahabat yang meriwayatkan hadis lebih faham maksud hadis yang diriwayatkannya. Dalam riwayat As-Syafi'y ternyata aisyah merekomendasikan pelafalan niat sekaligus isytiroth, bukan hanya merekomendasikan pelafalan isytiroth. Oleh karena itu, hadis Dhuba'ah menunjukkan mubahnya pelafalan niat, bukan sekedar mubahnya pelafalan isytiroth.

Al-Hajjawy dalam Zadu Al-Mustanqo' juga memahami hadis Dhuba'ah sebagai pelafalan niat. Beliau berkata;

زاد المستقنع (ص: 87)
 ويستحب قوله2: اللهم إني أريد نسك كذا فيسره لي وإن حبسني حابس فمحلي حيث حبستني.

Dianjurkan untuk mengucapkan; ya Allah  sesungguhnya aku ingin  melakukan nusuk ini.. maka mudahkanlah  untukku. Jika ada yang menghalangiku maka tempatku adalah di mana engkau menahanku (Zadu Al-Mustanqo', hlm 87)

Kelima; Rasulullah Melafalkan Niat Ketika Hendak Berkurban

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah melafalkan niatnya ketika hendak menyembelih kurbannya. Hadisnya adalah sebagai berikut;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأَتَى بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِيِِِِ (مسند أحمد (23/ 172)

Dari Jabir bin Abdullah berkata; saya menyaksikan penyembelihan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di sebuah tempat shalat. Tatkala beliau selesai khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya dan membawa kambing lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyembelih dengan tangan beliau dan berkata; BISMILLAH WA ALLOHU AKBAR, ini adalah dariku dan dari orang yang belum berkurban dari kalangan umatku.
(H.R. Ahmad)

'Alauddin Al-Kasany dalam kitabnya Bada-i' As-Shona-i' ketika berbicara niat dalam berkurban mengatakan bahwa pelafalan adalah bukti/dalil yang menunjukkan/mengekspresikan niat yang ada dalam hati. Beliau berkata;

بدائع الصنائع (10/ 281)
وَيَكْفِيهِ أَنْ يَنْوِيَ بِقَلْبِهِ وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَقُولَ بِلِسَانِهِ مَا نَوَى بِقَلْبِهِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ عَمَلُ الْقَلْبِ ، وَالذِّكْرُ بِاللِّسَانِ دَلِيلٌ عَلَيْهَا (في موضوع الأضحية)

cukup baginya berniat dengan hatinya dan tidak disyaratkan melafalkan dengan lisan apa yang diniatkan oleh hatinya sebagaimana dalam shalat. Niat adalah amal hati, dan penyebutan dengan lisan menjadi penunjuk niat tersebut (Bada-i' As-Shona-i', vol.10, hlm 281)

Penyebutan pelafalan niat oleh Al-Kasany pada saat berkurban dengan cara penyebutan yang positif menunjukkan bahwa beliau termasuk yang tidak mempermasalahkan pelafalan niat dalm berkurban, sekaligus menunjukkan bahwa hadis nabi di atas  memang bermakna pelafalan niat oleh nabi.

Abdul Hayyi Yusuf dalam situs http://ar.Islamway.com/fatwa/32111 juga membolehkan pelafalan niat saat berkurban. Beliau berkata;

فلا مانع من أن يقول المضحي عند ذبح أضحيته: "اللهم هذه عن فلان وآل فلان"؛ اقتداء بالنبي الأكرم صلى الله عليه وسلم، وإلا فالنية في الأصل محلها القلب، والله أعلم.

Tidak masalah orang yang berkurban saat menyembelih kurbannya  mengucapkan : Ya Allah, ini adalah kurban untuk fulan dan keluarga fulan (Fatwa Abdul Hayyi Yusuf)

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni malah memandangnya termasuk hal yang baik karena dicontohkan Rasulullah. Beliau berkata;

المغني (21/ 497)
وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الذَّبْحِ عَمَّنْ لِأَنَّ النِّيَّةَ تُجْزِئُ لَا أَعْلَمُ خِلَافًا فِي أَنَّ النِّيَّةَ تُجْزِئُ ، وَإِنْ ذَكَرَ مَنْ يُضَحِّي عَنْهُ فَحَسَنٌ ؛ لِمَا رَوَيْنَا مِنْ الْحَدِيثِ

Tidak menjadi keharusan bagi orang yang berkurban pada saat menyembelih mengucapkan; Ini kurban untuk...dst karena niat saja sudah sah/cukup. Saya tidak mengetahui ada perselisihan bahwa niat saja sudah sah. Jika orang yang berkurban menyebut (dalam niatnya) kurbannya untuk siapa, maka hal tersebut  adalah baik berdasarkan hadis yang telah kami riwayatkan (Al-Mughni, vol. 21, hlm 497)

Markazul Fatwa dibawah supervisi Abdullah Al-Faqih juga memberikan fatwa senada. Redaksi fatwanya adalah sebagai berikut;

فتاوى الشبكة الإسلامية (6/ 2746)
أما بخصوص التلفظ بالنية أثناء الذبح فإن قصدت به قول المضحي أو نائبه: اللهم هذا منك ولك، أو اللهم تقبل مني أو من فلان، فهذا لا حرج فيه؛ بل عده ابن قدامة من الأمور الحسنة عند كثير من العلماء. والله أعلم.
المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Terkait pelafalan niat saat menyembelih, jika yang dimaksud adalah ucapan orang yang berkurban/wakilnya: "ya Allah ini dariMu dan untukMu" atau "Ya Allah terimalah dariku" atau "dari fulan", maka ini tidak ada keberatan. Bahkan Ibnu Qudamah memandangnya termasuk perkara-perkara yang baik bagi mayoritas ulama. Wallahua'lam. Mufti: Markazul Fatwa dibawah supervisi Abdullah Al-Faqih (Fatawa As-Syabakah Al-Islamiyyah, vol.6, hlm 2746)

Semua komentar, penjelasan dan fatwa ulama di atas menunjukkan bahwa mereka secara eksplisit atau implisit mengakui bahwa hadis berkurban Rasulullah adalah pelafalan niat berkurban, sehingga dari situ biasa ditarik kesimpulan yang lebih umum yakni melafalkan niat dalam ibadah hukumnya mubah sebagaimana pelafalan niat dalam haji dan umroh.

Ucapan nabi yang berbunyi;

هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِيِِِِ

ini adalah dariku dan dari orang yang belum berkurban dari kalangan umatku

ucapan ini tidak bisa difahami sebagai doa, karena doa adalah permintaan hamba kepada Robbnya, sementara lafadz yang diucapkan Nabi bukanlah permintaan. Lafadz tersebut adalah ekspresi maksud dari melakukan ibadah berkurban, sehingga lebih tepat disebut sebagai pelafalan niat, bukan doa. Lafadz yang lebih layak difahami sebagai doa adalah lafadz semisal "Allahumma taqobbal minni.." (ya Allah terimalah dariku) dan yang semakna dengannya.

Keenam; Rasulullah Melafalkan Niat Puasa Sunnah Saat Tidak Ada Makanan

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah melafalkan niat puasa sunnah ketika tidak ada makanan:

صحيح مسلم (6/ 26)
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuiku dan bertanya, "Apakah kamu mempunyai makanan?" kami menjawab, "Tidak." Beliau bersabda: "Kalau begitu, saya akan berpuasa."
(H.R. Muslim)

An-Nawawy berkata ketika mensyarahi hadis ini;

شرح النووي على مسلم (8/ 35)
وفيه دليل لمذهب الجمهور أن صوم النافلة يجوز بنية في النهار قبل زوال الشمس

Dalam hadis ini terdapat dalil bagi madzhab Jumhur, yakni bahwa puasa nafilah boleh niatnya di siang hari sebelum matahari tergelincir (Syarah An-Nawawy 'Ala Muslim, vol.8, hlm 35)

An-Nawawy dengan tegas menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dalil bagi jumhur ulama yang membolehkan niat puasa sunnah di siang hari. Maknanya Jumhur termasuk An-Nawawy memahami bahwa ucapan Rasulullah yang berbunyi;

فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

"Kalau begitu, saya akan berpuasa."

Ucapan ini adalah  niat berpuasa setelah tidak mendapati makanan yang bisa dimakan. Jadi, Rasulullah melafalkan niatnya, sehingga hadis ini bisa menajdi dalil kemubahan pelafalan niat, karena Rasulullah telah melafalkan niat puasa.

Pemaknaan yang sama dengan an-Nawawy diberikan oleh 'Athiyyah Muhammad Salim. Beliau berkata;

شرح بلوغ المرام للشيخ عطية محمد سالم (145/ 2، بترقيم الشاملة آليا)
وإذا ثبتت لفظة (إذاً) فهي تدل على إنشاء النية نهاراً

Jika lafadz Idzan sudah diakui memang ada, maka hal tersebut menunjukkan pemunculan niat dilakukan di siang hari (Syarah Bulughu Al-Marom Lisy-Syaikh 'Athiyyah Muhammad Salim, vol.2, hlm 145)

Demikian pula Ubaidullah Al-Mubarokfury dalam Mirqot Al-Mafatih Syarah Misykat Al-Mashobih. Beliau berkata;

مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (6/ 406)
فإني إذن أصوم يدل على جواز نية النفل في النهار وبه قال الأكثرون

Lafadz "kalau begitu aku berpuasa" menunjukkan bolehnya berniat puasa nafilah pada siang hari. Ini adalah pendapat mayoritas (Mirqot Al-Mafatih Syarah Misykat Al-Mashobih, vol.6, hlm 406)

Termasuk Ibnu 'Utsaimin. Yang menarik, Ibnu 'Utsaimin termasuk ulama yang mengharamkan pelafalan niat, namun ketika mensyarah hadis ini beliau tidak mengingkari bahwa Rasulullah berniat puasa saat mengucapkan tersebut. Artinya bisa difahami bahwa Ibnu 'Utsaimin juga mengakui bahwa hadis tersebut adalah pelafalan niat puasa oleh Rasulullah. Beliau berkata;

الشرح المختصر على بلوغ المرام (6/ 5) محمد بن صالح بن عثيمين
يعني في الحال فنوى الصيام في الحال

Yakni saat itu juga. Jadi, beliau (Rasulullah) berniat puasa saat itu juga (Asy-Syarh Al-Mukhtashor 'Ala Bulugh Al-Marom, vol.5 hlm 6)

Ucapan Rasulullah "Kalau begitu, saya akan berpuasa" tidak bisa disebut Ikhbar (pemberian informasi), karena pemberian informasi hanya bisa dilakukan jika sesuatu sudah terjadi. Sebelum ucapan Rasulullah tersebut Rasulullah belum berpuasa, sehingga mustahil Rasulullah  memberitahu sesuatu yang belum terjadi dan belum ada. Jadi ucapan Rasulullah lebih tepat dan sesuai konteks hadis jika difahami pelafalan niat, bukan yang lain.

Memberi takwil bahwa Rasulullah sudah berniat puasa sejak malam adalah takalluf (memaksa-maksa) yang berlebihan. Hal itu dikarenakan klaim ini sama sekali tidak didukung oleh nash apapun, dan bertentangan dengan redaksi riwayat yang menunjukkan Rasulullah  mencari makanan di pagi hari. Ketika Rasulullah mencari makanan maka hal itu adalah bukti yang jelas bahwa beliau tidak sedang berpuasa. Lagi pula niat harus jazim (pasti) dan tidak boleh ragu-ragu. Niat membatalkan maka bermakna batal seterusnya tanpa bisa dikoreksi. Seandainya Rasulullah memang sudah berniat puasa di malam hari, dengan upaya mencari makanan itu berarti beliau telah membatalkan puasanya. Niat membatalkan puasa tidak bisa digagalkan dengan niat baru. Lagipula seandainya beliau sudah berniat puasa di malam hari seharusnya beliau mengatakan: "kalau begitu saya meneruskan puasa", bukan "kalau begitu saya akan berpuasa".


Bersambung ke bagian 3.

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar