Arti Sabda Nabi : Mudah-Mudahan Allah Menambah Semangatmu dan Jangan Kamu Ulangi

Diasuh oleh:
Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang-Jawa Timur

Pertanyaan Kirim Ke: redaksi@suara-islam.com

Saat shalat jama’ah Abu Bakar tertinggal dan mendapati  Rasulullah saw rukuk maka ia rukuk sambil maju lalu Beliau bersabda, “Mudah-mudahan Allah menambah semangatmu dan  jangan kamu ulangi”.  Ada 3 penjelas frasa “jangan kamu ulangi”,  yaitu; a) jangan kamu  ulangi telambat shalat, b) jangan masuk shof sedang kamu rukuk, c) jangan kamu masuk shof dengan terburu-buru, menurut ustad yang mana?

A.Susanto- Surabaya

Jawaban:


Maksud dari lafadz "jangan kamu ulangi" adalah jangan mengulangi lagi perbuatan tergesa-gesa untuk shalat (hingga nafas tersengal-sengal), melakukan rukuk sebelum sampai shof tempat dia melakukan shalat, dan berjalan menuju shof dalam keadaan rukuk.

Hadis yang ditanyakan oleh penanya diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya;

صحيح البخاري (3/ 250)
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ
أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ


Dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang Rukuk, maka dia pun ikut Rukuk sebelum sampai ke dalam barisan Shof. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali."
(H.R. Bukhari)

Riwayat ini ada yang mengkritik dengan alasan Al-Hasan Al-Bishri yang meriwayatkan Hadis ini dari Abu Bakroh menukil riwayat tersebut dengan cara 'An'anah (memakai lafadz 'An) sementara telah diketahui Al-Hasan termasuk perawi Mudallis. Namun kritikan ini bisa dijawab bahwa ada riwayat Shahih yang lain yang lugas menyebut bahwa Al-Hasan mendapat Hadis tersebut dari Abu Bakrah dengan Tahdits (transmisi langsung), bukan sekedar 'An'anah. Karena itu, riwayat Bukhari tetap bisa dipegang sebagai Hadis yang Shahih.

Riwayat Bukhari ini disebutkan An-Nasai dalam Sunannya dengan lafadz;

سنن النسائي (3/ 401)
عَنْ زِيَادٍ الْأَعْلَمِ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ حَدَّثَهُ
أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Dari Ziyad Al A'lam dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hasan bahwasanya Abu Bakrah menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah masuk ke dalam masjid sedangkan Nabi Shallallahu'alaihi wasallam sedang Rukuk, maka ia ikut Rukuk sebelum sampai ke barisan Shalat. Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah menambah semangatmu, namun jangan kamu ulangi lagi."
(H.R. An-Nasai)

Riwayat Abu Dawud lafadznya berbunyi;

سنن أبى داود (2/ 332)
عَنْ الْحَسَنِ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ
جَاءَ وَرَسُولُ اللَّهِ رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الَّذِي رَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Dari Al-Hasan bahwasanya Abu Bakrah datang, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan Rukuk, lalu dia Rukuk di luar Shof, kemudian berjalan menuju Shof. Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selesai Shalat, beliau bersabda: "Siapakah di antara kalian yang ruku di luar Shof kemudian berjalan masuk ke Shof?" Abu Bakrah menjawab; Saya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah menambahkan semangat untukmu melakukan kebaikan, dan jangan kamu mengulanginya lagi." (H.R. Abu Dawud)

Lafadz وَلَا تَعُدْ menurut penjelasan para Pensyarah Hadis dibaca dengan tiga cara; pertama; memfathahkan Ta' dan mendhommahkan 'ain (وَلَا تَعُدْ) dari kata عَادَ yang bermakna  "mengulangi", kedua: mendhommahkan Ta' dan mengkasrohkan 'Ain (وَلَا تُعِدْ) dari kata أَعَادَ yang bermakna melakukan (shalat) lagi, dan yang ketiga; Memfathahkan Ta', mensukunkan 'Ain dan mendhommahkan Dal (وَلَا تَعْدُ) dari kata عَدَا yang bermakna "berlari/tergesa-gesa". Jika dibaca dengan cara pertama, maka makna ucapan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah" jangan kamu mengulanginya lagi " jika dibaca dengan cara kedua, maka makna ucapan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  adalah " jangan kamu melakukan (shalat) lagi " dan jika dibaca dengan cara yang ketiga maka makna ucapan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah "jangan kamu berlari/tergesa-gesa." Hanya saja, cara yang pertama adalah cara yang benar, karena riwayat Shahih Bukhari membacanya dengan cara tersebut dan cara baca demikianlah yang ditemukan Ibnu hajar dalam semua jalur riwayat yang didapatkan beliau. Ibnu Hajar berkata;

فتح الباري - ابن حجر (2/ 269)
 Ù‚وله ولا تعد ضبطناه في جميع الروايات بفتح أوله وضم العين من العود

Ucapan Nabi ولا تعد kami teliti pada semua riwayat adalah dengan memfathahkan Ta' dan mendhommahkan 'Ain, dari kata Al-'Aud yang bermakna mengulangi (Fathu Al-Bari, vol 2 hlm 269)

Cara kedua dan ketiga tidak mendapatkan riwayat pendukung sehingga belum bisa dipertimbangkan dalam pembahasan istinbath Nash.

Adapun makna وَلَا تَعُدْ  maka maknanya adalah jangan mengulangi lagi perbuatan tergesa-gesa untuk Shalat (hingga nafas tersengal-sengal), melakukan Rukuk sebelum sampai Shof tempat dia melakukan Shalat, dan berjalan menuju Shof dalam keadaan Rukuk. Makna ini yang didukung oleh sejumlah riwayat lain yang semakna dengan sedikit tambahan lafadz yang berbeda yang memperjelas maknanya. Ibnu Hajar berkata;

فتح الباري - ابن حجر (2/ 268)
قوله ولا تعد أي إلى ما صنعت من السعي الشديد ثم الركوع دون الصف ثم من المشي إلى الصف وقد ورد ما يقتضى ذلك صريحا في طرق حديثه كما تقدم بعضها

Ucapan Nabi ولا تعد bermakna; jangan mengulangi perbuatanmu seperti berlari cepat, Rukuk sebelum masuk Shof, kemudian berjalan menuju Shof. Terdapat sejumlah riwayat dengan berbagai jalur yang maknanya mengharuskan kesimpulan ini, sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya (Fathu Al-Bari, vol 2 hlm 268). Wallahua'lam.

 

Baca Juga

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar