Kriminalisasi Ulama Pasca Aksi 212

07 Februari 14:35 | Dilihat : 2482
Kriminalisasi Ulama Pasca Aksi 212 Tokoh-tokoh pimpinan GNPF yang menggelar Aksi 212. [foto: shodiq/si]

 

Peran ulama terhadap opini Islam dan gerakan masyarakat Indonesia makin menguat pasca Aksi 212. Tak pelak hal ini membuat berbagai pihak yang merasa kepentingannya terganggu, mulai melakukan segala bentuk upaya untuk menghentikan dan menjatuhkan wibawa ulama di mata masyarakat. Saat ini muncul berbagai pengkriminalisasian terhadap ulama di Indonesia yang merupakan tokoh di balik berbagai aksi yang menguatkan nilai keberislaman masyarakat.
 
Ulama Habib Rizieq Syihab yang terus-menerus diminta untuk memenuhi panggilan Polda Jabar atas kasus yang diada-adakan. Saat pemeriksaan, terjadi kasus penyerangan FPI yang mengawal kehadiran Habib Rizieq Syihab oleh GMBI yang diduga kuat dihadirkan oleh Kapolda Jabar. Lainnya, Wakil Sekjen MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnaen, tiba-tiba dihadang oleh sejumlah ormas yang mengacung-acungkan senjata tradisional di apron Bandara Sintang ketika ia hendak turun dari pesawat terbang. Padahal, kedatangan Tengku Zulkarnaen di Sintang, Kalimantan Barat dilakukan untuk memenuhi undangan resmi Bupati Sintang. 
 
Jika bukan kriminalisasi terhadap ulama, lalu bagaimana bisa sejumlah ormas yang melakukan tindakan anarkis itu dapat masuk kedalam apron bandara bahkan dengan membawa senjata? Hal ini hanya dapat terjadi bila terbentuk aliansi antara pemengang kekuasaan legal dengan intelijen dan akses kepada kelompok-kelompok anarkis sangat nyata. Bila sudah terbentuk kesepakatan, maka untuk mem-framing atau merusak image seorang ulama bukanlah hal yang tidak mungkin.
 
Inilah yang dikhawatirkan, bahwasanya kriminalisasi terhadap ulama tersebut merupakan aksi balas dendam akibat terganggunya kepentingan asing, aseng dan asong pasca penistaan agama yang dilakukan Ahok dan pasca Aksi 212 yang justru berjalan dengan damai sehingga mereka tidak punya alasan untuk memojokkan umat Islam, khususnya para ulamanya.
 
Inilah realita yang terjadi saat ini. Terlihat bagaimana para ulama dengan mudahnya dizalimi, hanya karena kepentingan segelintir orang. Sementara, Rasulullah saw. bersabda mengenai kemuliaan sosok ulama dikarenakan mereka merupakan pewaris para nabi, yaitu: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna (HR Abu Dawud).
 
Sebagai pewaris nabi, kemuliaan para ulama adalah karena mereka menempuh jalan sebagaimana Rasulullah Saw.; tak kenal lelah membacakan ayat-ayat-Nya dan menyebarluaskannya di tengah-tengah manusia. Para pewaris para nabi itu juga mengikuti jejak Rasulullah Saw berada di garda depan dalam membersihkan masyarakat dari berbagai kekufuran dan kemaksiatan serta tidak rela jika ada hukum Islam diabaikan, apalagi dilecehkan. Mereka akan memimpin umat berjuang menegakkan syariah dan Khilafah sebab hanya dengan diterapkan syariah dan ditegakkan Khilafah, masyarakat benar-benar bisa diproteksi dari ide sesat, kemungkaran dan perangai tercela. Ulama pewaris para nabi itu juga senantiasa mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah dan tidak akan sekali-sekali menjual ayat-ayat Allah SWT demi memperoleh harta dunia.
 
Kemuliaan ulama ini tentu tidak terlepas dari peran politik yang mereka lakukan. Tentu bukan politik praktis dengan mendukung atau tidak mendukung calon tertentu dalam kegiatan politik praktis seperti Pilkada, namun politik sebagai ri’âyah su’ûn al-ummah (melayani urusan masyarakat). Politik adalah aktivitas tertinggi dan mulia dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, Islam tidak memisahkan antara kehidupan politik dan spiritual. Justru, ketika umat jatuh dalam kubangan sekularisme (yang menjauhkan agama dari urusan sosial-politik-kenegaraan) seperti saat ini, maka peran para ulama turut terpinggirkan. Karena itu peran ulama sepanjang masa kehidupan kaum Muslim, khususnya dalam kehidupan politik, sangatlah penting.
 
Hari ini, umat Islam merindukan sosok ulama yang dengan ikhlas memperjuangkan rahmat Islam ditengah gelapnya kejahiliahan modern dan terkekang oleh sistem sekuler-liberal. Karena itulah, benar-benar dibutuhkan sosok ulama yang dapat membimbing dan mencerdaskan umat islam untuk kembali pada Islam secara kaaffah dan sekaligus ikut mendukung perjuangan umat dalam penegakkan syariah Islam. Sebab, hanya Islamlah yang dapat mengembalikan peran hakiki pemerintah dan menjamin rakyat sejahtera akan kehidupannya.
 
Miranthi Faizaqil Karima
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
1 Komentar