Forjim: Media Harus Kritis, Termasuk Mengritisi Presiden

09 Januari 10:44 | Dilihat : 1331
 Forjim: Media Harus Kritis, Termasuk Mengritisi Presiden Nuim Hidayat [foto: INSISTS]

Jakarta (SI Online) - Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Forum Jurnalis MUslim (Forjim), Nuim Hidayat, mengatakan media haruslah bersikap kritis terhadap pemerintah. Sangat bahaya jika media menjadi alat pembenar semua kebijakan pemerintah. 

“Media itu jangan menjadi Pak Turut. Berbahaya media bila tidak kritis," ungkap Nuim dalam pernyataan tertulisnya yang diterima SI Online, Senin (09/01/2017). 
 
Terkait upaya pembredalan terhadap sejumlah media Islam online, Nuim menyebut tindakan pembredelan sebenarnya sudah ketinggalan zaman.
 
"Apakah mau ditutup Facebook, Whatsapp, Twitter yang disitu sebenarnya banyak menyebarkan hoax? Di masa keberlimpahan atau kebisingan informasi begini yang diperlukan bukan hanya pendidikan bagi wartawan, tapi juga pendidikan bagi masyarakat dalam menyikapi informasi," ungkap Nuim. 
 
Terkait dengan kampanye menolak berita bohong (hoax), Nuim mengajak agar masyarakat semakin cerdas untuk menilai siapa penyebar hoax sesungguhnya. 
 
"Hoax itu kan sekarang seolah dimaknai sebagai berita yang tersebar yang tidak disukai oleh rezim dan pendukungnya. Sementara kalau hoax itu datang dari penguasa dan media-media atau pendukungnya tidak disebut sebagai hoax," ungkap alumni Pascasarjana Universitas Indonesia itu.
 
Nuim mengapresiasi ucapan presiden untuk menghentikan peredaran hoax. Tetapi, kata dia, menindaklanjuti dengan serampangan menyatakan puluhan situs Islam itu penyebar hoax adalah tindakan yang sembrono. 
 
"Kesalahan-kesalahan media-media pendukung presiden adalah membenarkan semua ucapan atau tingkah laku presiden. Fungsi media itu selain untuk memberikan informasi, juga mengritisi petistiwa, termasuk mengritisi ucapan presiden,” tambahnya.  
 
red: shodiq ramadhan
0 Komentar