Setelah Aceh dan Medan, Warga Palembang Daulat Habib Rizieq Jadi Imam Besar Umat Islam Indonesia

08 Januari 11:48 | Dilihat : 27720
Setelah Aceh dan Medan, Warga Palembang Daulat Habib Rizieq Jadi Imam Besar Umat Islam Indonesia Ketua Dewan Pembina GNPF MUI Habib Muhammad Rizieq Syihab hadir dalam Tabligh Akbar Spirit 212 di Palembang. (foto: sumeks)
Palembang (SI Online) - Hujan yang mengguyur pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Sabtu (7/1) malam tidak melunturkan semangat umat muslim untuk mengikuti "Tabligh Akbar Maulid Arbain Spirit 212" bersama Ketua Dewan Pembina Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Habib Muhammad Rizieq Syihab dan pimpinan GNPF MUI lainnya. 
 
Meski harus basah dan duduk di pelataran, bahkan ada yang duduk di atas perahu di sungai Musi, puluhan ribu umat Muslim tetap semangat menyaksikan Tabliqh Akbar. 
 
Dalam kesempatan itu, Habib Rizieq mendapat kehormatan. Gabungan ulama, pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) serta organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Sumsel, sepakat mendaulatnya sebagai Imam Besar Umat Muslim Indonesia. Sebelumnya, masyarakat Muslim di Aceh dan Medan juga memberikan gelar yang sama.
 
Deklarasi dibacakan oleh Ketua Forum Umat Islam (FUI), KH Umar Said itu didasari kebangkitan serta kesadaran umat Islam setelah aksi 212. Deklarasi pun langsung disambut takbir.
 
Sebelum Habib Rizieq, beberapa ulama nasional terlebih dahulu tampil di depan panggung. Mulai dari Sekjen FUI, KH Muhammad al Khaththath, Wakil Ketua GNPF MUI, KH Zaitun Rasmin serta KH Husni Tamrin. Mereka menggelorakan kembali semangat 212. “Ada beberapa karunia di dapat dari aksi bela Islam,” jelas Zaitun Rasmin.
 
Karunia dimaksud, bersatunya umat Islam sebagai generasi memperjuangkan surat Al Maidah. Lalu, spirit luar biasa ditunjukan jutaan umat tersebut. 
 
Sedangkan Habib Rizieq, dalam tausiahnya mengingatkan kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah di jalan Allah. Ia mengungkapkan, banyak kalangan yang berusaha menangkap, mengusir serta membunuh Nabi. Sembari duduk diatas panggung karena kondisi kesehatan, ia mengurai jika upaya tersebut dalam bahasa arab disebut makar. Yaitu bentuk tipu muslihat atau memperdaya agar dapat menghentikan dakwah Nabi Muhammad. 
 
Oleh sebab itu, para ulama yang meneruskan ajaran Alquran serta Nabi Muhammad, termasuk umat Islam, agar jangan takut difitnah atau dicaci maki. “Karena itu resiko dalam berdakwah,” tandasnya.
 
red: adhila
sumber: sumatera ekspres 
0 Komentar