Dinilai Melakukan Penistaan Berkali-kali, Ahok Diminta Saksi untuk Ditahan

Ilustrasi aksi menuntut ketegasan hukum terhadap penista agama
Jakarta (SI Online) - Dalam sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (3/1/2017), Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan sejumlah saksinya.
 
Saksi pertama adalah Sekretaris DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Novel Chaidir Hasan. Ia mengajukan permohonan kepada majelis hakim agar Ahok ditahan. Sebab, menurut Novel, Ahok terbukti melakukan penodaan agama sejak 2012 silam terkait surat Al Maidah ayat 51.
 
"Sejak Ahok masih menjadi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pada pilkada 2012, dia juga sudah mulai menyerang agama Islam. Contohnya bahwa ayat suci no, ayat konstitusi yes, atau ayat-ayat konstitusi di atas ayat-ayat suci," ujarnya. 
 
Novel menambahkan, dalam buku yang ditulis Ahok berjudul Merubah Indonesia, pada halaman 40, dia juga sudah menyerang Surat Al-Maidah. 
 
Selain itu, kata Novel, dugaan penistaan agama oleh Ahok juga dilakukan di Pulau Pramuka pada 27 September, di acara Partai Nasdem 21 September, dan ketika 30 Maret. Ketiga momen itu berisikan singgungan Ahok terhadap surat Al Maidah juga.
 
Novel melanjutkan, Ahok juga pernah menyerang perempuan yang berjilbab dan hadis Nabi. "Untuk memenuhi rasa keadilan itu, saya minta kepada hakim yang tadinya menantang saya untuk jabarkan kebusukan-kebusukan Ahok, yang Ahok menyerang orang berjilbab. Kemudian hadis Nabi yang kaki surga di bawah Alexis, bukan di telapak kaki ibu. Itu saya akan jabarkan satu per satu," ujar Novel.
 
Namun, Novel pada akhirnya tidak merinci berbagai bentuk lain dari penistaan yang diduga Ahok lakukan di hadapan majelis hakim. Sebab, hakim menyatakan tidak perlu.
 
red: adhila/dbs

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar