Bashar Al-Assad dan Kelompok Perlawanan Sepakati Gencatan Senjata

Jumat, 30 Desember 2016 - 22:40 WIB | Dilihat : 1329
 Bashar Al-Assad dan Kelompok Perlawanan Sepakati Gencatan Senjata Ilustrasi: Tentara rezim Bashar Al Assad. [foto: almanar.com.lb]


Damaskus (SI Online) - Berbagai pihak yang berkonflik di Suriah kemarin menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Rusia dan Turki. Militer Suriah menyatakan akan menghentikan seluruh operasi militer sejak kemarin malam. Kubu perlawanan yang diwakili Koalisi Nasional juga mendukung kesepakatan tersebut. 
 
”Jenderal Militer Suriah mengumumkan penghentian seluruh serangan di wilayah Suriah sejak pukul 00.00 tepat pada 30 Desember,” demikian pernyataan militer Suriah. Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kesepakatan gencatan senjata telah ditandatangani kelompok oposisi bersenjata dan rezim Suriah.
 
Kelompok Koalisi Nasional, entitas politik berbasis di Turki, juga membenarkan gencatan senjata tersebut. 
 
”Koalisi Nasional mendukung kesepakatan dan menyarankan semua pihak untuk mematuhinya,” kata juru bicara Koalisi Nasional Ahmed Ramadan kepada AFP. Dia mengatakan, kelompok bersenjata yang ikut dalam kesepakatan itu adalah Ahrar al-Sham dan Army of Islam.
 
Sebelumnya kantor berita Turki, Anadolu, melaporkan rencana gencatan senjata telah dikirim ke berbagai pihak yang bertikai di Suriah. Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan beberapa kelompok pejuang anti-Presiden Bashar al- Assad lainnya telah menerima draf kesepakatan tersebut.
 
”Kita menerapkan kesepakatan gencatan senjata sebelum Tahun Baru 2017,” kata Menteri Luar Negeri 
 
Turki Mevlut Cavusoglu dalam wawancara dengan stasiun televisi A Haber dilansir AFP. Kabar itu setelah sehari sebelumnya Turki-Rusia mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata.
 
Namun, banyak pihak yang berkonflik di Suriah belum memberikan konfirmasi mengenai gencatan senjata tersebut. Jika kesepakatan gencatan senjata sukses, menurut Cavusoglu, negosiasi politik antara Presiden Bashar al-Assad dan oposisi akan dilaksanakan di ibu kota Astana, Kazakstan.
 
Dia bersikeras perundingan Astana hanya dimediasi Turki dan Rusia, bukan sebagai perundingan tandingan yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang biasanya dilaksanakan di Jenewa dalam beberapa tahun terakhir. 
 
”Ini (negosiasi politik) bukan perundingan alternatif Jenewa. Ini hanya langkah tambahan,” kata Cavusoglu. ”Perundingan di Astana akan di bawah pengawasan kita,” ujarnya.
 
Dia menambahkan, kelompok yang ikut ambil bagian dalam perundingan itu masih didiskusikan. 
 
Cavusoglu juga menjelaskan Ankara dan Moskow masih melanjutkan upaya intensif untuk mengamankan gencatan senjata. Rusia akan bertindak sebagai ”penjamin” rezim Assad dan Turki akan menjalankan peran yang sama yakni penjamin dari kelompok gerilyawan anti-Assad.
 
Iran belum ada kabar apakah akan dijadikan penjamin atau tidak dalam perundingan tersebut. Kata Cavusoglu, Ankara ingin seluruh kelompok asing di Suriah - termasuk Hizbullah- harus  meninggalkan negara itu. 
 
”Seluruh kelompok asing harus meninggalkan Suriah. Hizbullah harus kembali ke Lebanon,” pintanya. 
 
Tuntutan agar kelompok Syiah Hizbullah meninggalkan Suriah sepertinya tidak akan diterima Iran sebagai pendukung utama Assad. Diketahui pasukan Hizbullah telah berperang bersama pasukan Pemerintah Suriah melawan pejuang anti-Assad. 
 
red: shodiq ramadhan
sumber: sindonews.com
0 Komentar