Begini Kronologi Penangkapan Wartawan Panjimas

Sabtu, 24 Desember 2016 - 18:55 WIB | Dilihat : 2678
 Begini Kronologi Penangkapan Wartawan Panjimas ID Card Ranu Muda Adi Nugroho (36) sebagai wartawan Panjimas.com.

Jakarta (SI Online) - Ranu Muda Adi Nugroho (36 tahun), wartawan media online Panjimas.com, ditangkap polisi pada Kamis dini hari, 22 Desember 2016 lalu. Ranu ditangkap dirumahnya, di Ngasinan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Hanya dalam waktu sehari, Ranu sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kericuhan di kafe Social Kitchen, di Banjarsari, Surakarta yang terjadi pada Ahad dini hari, 18 Desember 2016. Padahal sebagai jurnalis yang meliput kegiatan Laskar Umat Islam (LUIS) pada saat itu, Ranu tidak terlibat dalam kericuhan. Ranu hanya kebetulan berangkat dan pulang dengan menumpang mobil yang dikendarai oleh pengurus LUIS. 
 
Berikut adalah kronologi penangkapan Ranu dan jejak rekamnya dalam memberitakan kafe Social Kitchen yang dikirimkan Pemimpin Redaksi Panjimas.com, Widyarto. Kafe ini dinilai warga telah melanggar sejumlah aturan, seperti pelanggaran jam operasional, penjualan miras dan mempertontonkan tarian telanjang.

Jumat 1 Agustus 2014
Ranu Muda Adi Nugroho resmi bergabung menjadi wartawan media online Panjimas.com sebagai Sebagai reporter wilayah Solo Raya, dengan dibekali perangkat jurnalistik: Kartu Pers (ID Card), Kamera, Seragam, dll. 

Senin 26 Oktober 2015
Ranu mulai menyoroti sepak terjang Kafe Social Kitchen Banjarsari yang meresahkan masyarakat Solo. Hasil liputannya diunggah di laman Panjimas.com berjudul “Datangi Polsek, LUIS Minta Papan Iklan Berbau Miras Diturunkan” 

(http://www.panjimas.com/news/2015/10/27/datangi-polsek-luis-minta-papan-iklan-berbau-miras-diturunkan).

Ahad 17 Juli 2016
Ranu hadir meliput audiensi ormas-ormas Islam Solo dengan pihak Social Kitchen yang dihadiri oleh Kapolsek Banjarsari Kompol Wawan dan Agus Siswantoro dari Satpol PP. Sementara pihak Social Kitchen diwakili oleh Junaidi Rahmat Drajat (Manajer) dan Kuswantoro (Kepala Personalia).

Dalam pertemuan itu, ormas-ormas Islam antara lain: Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Jamaah Ansharus Syariah (JAS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), dan Bregade Al Ishlah memprotes berbagai pelanggaran Kafe Social Kitchen, antara lain: sajian striptease (tarian wanita telanjang).

Tak bisa mengelak karena bukti-bukti foto dan testimoni warga sekitar, akhirnya pihak Social Kitchen mengakui dan meminta maaf atas pelanggaran tersebut. 

Hasil liputan Ranu tersebut diunggah di laman Panjimas.com berjudul “Gelar Tarian Seronok, Ormas Islam Solo Desak Social Kitchen Ditutup” 

(http://www.panjimas.com/news/2016/07/18/gelar-tarian-seronok-ormas-islam-solo-desak-social-kitchen-ditutup).

Rabu 27 Juli 2016
Kafe Social Kitchen membuat surat pernyataan resmi berjanji tidak akan menyuguhkan tarian striptis lagi, dan siap diberi sanksi bila melakukan pelanggaran hukum. 

Berita ini ditulis oleh Ranu di laman Panjimas.com “Tak Bisa Mengelak, Social Kitchen Buat Surat Pernyataan Resmi Siap Terima Sanksi” (http://www.panjimas.com/news/2016/08/02/tak-bisa-mengelak-social-kitchen-buat-surat-pernyataan-resmi-siap-terima-sanksi).

Kamis 11 Agustus 2016
Ormas-ormas Islam beraudiensi dengan Kepala Satpol Pamong Praja (PP) Sutarjo di komplek Balaikota jalan Jend. Sudirman 2, Pasar Kliwon, Solo. Mereka mendesak agar Satpol PP menindak tegas Social Kitchen yang masih nekat menyuguhkan wanita setengah telanjang. 

Pertemuan ini diunggah di laman Panjimas.com: “Masih Nekad Tampilkan Tarian Telanjang, LUIS Minta Social Kitchen Ditutup” 

(http://www.panjimas.com/news/2016/08/12/masih-nekad-tampilkan-tarian-telanjang-luis-minta-social-kitchen-ditutup).

Sabtu, 17 Desember 2016 
Pukul 20.00 WIB: Ranu mendapat undangan via WhatsApp dari Humas LUIS Endro Sudarsono untuk meliput ke Kafe Social Kitchen, karena ormas-ormas Islam akan mendatangi Kafe Social Kitchen untuk memberikan Surat Teguran atas berbagai pelanggaran terhadap kesepakatan dan aturan, antara lain: menggelar tarian telanjang, menjual miras dan melanggar jam buka operasional.

Ranu pun meluncur ke Masjid Muttaqin Cemani Grogol Sukoharjo untuk menemui Endro Sudarsono. Setelah mendapatkan  informasi yang lebih detil, Ranu pulang kembali ke rumah untuk mengambil alat kerja liputan.

Ahad, 18 Desember 2016
Pukul 01.00 WIB: Ranu membawa alat-alat liputan kembali lagi ke Masjid Muttaqin, untuk numpang mobil pengurus LUIS berangkat menuju Kafe Social Kitchen. Ranu satu mobil dengan para pengurus LUIS: Edi Lukito, Yusuf Suparno, Salman Al Farisi, Endro Sudarsono dan Joko Sutarto, pada Ahad, 18 Desember 2016 pukul 01:00 wib dini hari.

Pukul 01.30 WIB: Ranu tiba di Social Kitchen dan langsung melakukan tugas peliputan. Pada saat itu pula ia juga menghubungi wartawan media lain untuk ikut serta meliput, namun tidak ada respon. 

Di lokasi juga datang sekelompok orang mengendarai sepeda motor dengan menggunakan penutup wajah, sehingga identitas mereka tidak bisa dikenali. Mereka melakukan pengerusakan maupun penganiayaan di lokasi, dan berusaha dicegah oleh para Pengurus LUIS. 

Dalam insiden ini Ranu sama sekali tidak ikut melakukan aksi kekerasan apapun.  

Pukul 02.00 WIB: Setelah melakukan liputan/dokumentasi selama setengah jam, Ranu meninggalkan lokasi, kembali menumpang dalam mobil LUIS. Tak disangka, dalam mobil itu ikut menumpang anggota polisi dari Polresta Surakarta yang bernama Karsuli.

Pukul 02.30: Ranu bersama rombongan tiba di lokasi Masjid Muttaqin dan kembali pulang ke rumah untuk menulis reportase yang diunggah dalam dua berita:

Gerebek Social Kitchen, Ormas Islam Temukan Puluhan ABG Mabuk dan Maksiat (http://www.panjimas.com/news/2016/12/18/gerebek-social-kitchen-ormas-islam-temukan-puluhan-abg-mabuk-dan-maksiat).

Seolah Kebal Hukum, Social Kitchen Menjadi Tempat Favorit bagi Pecinta Miras dan Kemesuman (http://www.panjimas.com/news/2016/12/19/seolah-kebal-hukum-social-kitchen-menjadi-tempat-favorit-bagi-pecinta-miras-dan-kemesuman/).

Selasa 20 Desember 2016 (dini hari)
Sejumlah tokoh LUIS yang hadir dalam insiden di Kafe Social Kitchen ditangkap polisi dan dibawa ke Mapolda Jawa Tengah, antara lain: Edi Lukito, Yusuf Suparno, Salman Al Farisi, Endro Sudarsono dan Joko Sutarto. 

Baca: Keluarga Protes Cara Penangkapan Humas LUIS Yang Tak Santun Mirip Gaya Densus (http://www.panjimas.com/news/2016/12/20/keluarga-protes-cara-penangkapan-humas-luis-yang-tak-santun-mirip-gaya-densus/)

Kamis, 22 Desember 2016
Pukul 00.10 WIB, Ranu diciduk polisi di rumahnya, Ngasinan Rt 003, Rw 004 Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, disaksikan kedua anaknya yang masih balita yang menimbulkan trauma. Nuraini (istri Ranu) memberikan testimoni penangkapan sbb:

a. Keluarga tidak diberi Surat Penangkapan.

b. Ranu ditangkap hanya memakai kaos lengan pendek dan celana futsal. Sekedar ingin ganti baju dan ke toilet saja Ranu dilarang.

c. Mata Ranu dilakban dan tangannya diborgol saat diangkut ke Mapolda Jawa Tengah di Semarang.

d. Beberapa inventaris Panjimas.com yang disita polisi sebagai barang bukti antara lain: Presscard Panjimas, Kamera, Netbook Asus, Hardisk, Sepeda motor & helm, Tas, dompet, sepatu, baju, celana, topi dan beberapa keping CD.
 
Red: Shodiq Ramadhan
 
0 Komentar