Sistem Ekonomi Islam Harus Diwujudkan

Sabtu, 24 Desember 2016 - 18:00 WIB | Dilihat : 824
 Sistem Ekonomi Islam Harus Diwujudkan Diskusi ICMIJabar di Hotel Narapati Kota Bandung, Kamis (22/12/2016).



Bandung (SI Online) - Jargon Indonesia sebegai negeri yang kaya bukanlah isapan jempol belaka. Kekayaan sumber daya alam (SDA) dan komoditas yang beragam melimpah sepanjang pulau dan lautannya. Namun kenyataannya kesejahteraan dan kemakmuran seperti masih menjadi impian. Salah satu sebabnya adalah semangat bangsa Indonesia dalam mengedepankan ekonomi kerakyatan untuk mengganti tirani ekonomi kapitalis belum terwujud.
 
Demikian sepenggal pemaparan Wakil Ketua Umum Kadin Jabar, Januar P. Ruswita yang disampaikan dalam acara seminar “Peran ICMI dalam Ketahanan Bangsa” yang diselenggarakan ICMI Orwil Jabar di Hotel Narapati Kota Bandung, Kamis (22/12/2016).
 
Lebih lanjut Januar menambahkan penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 255 juta jiwa dimana mayoritasnya adalah kaum muslimin mempunyai potensi sekaligus peluang untuk mengedepankan sistem ekonomi keumatan yang berbasis pada bisnis syariah dan mengembangkan industri produk halal.
 
“Umat Islam harus sadar bahwa sistem ekonomi tidak sekedar mengetasi kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial dan juga kesejahteraan tetapi juga harus terikat dengan akidah, moral hingga syariah,” jelasnya.
 
Junuar juga menyebutkan beberapa tantangan yang masih dihadapi umat Islam Indonesia ini yakni sistem ekonomi Islam belum “membumi” dibanding ekonomi keumatan ditengah hegemoni kapitalis seperti pada industri perbankan dan jasa keuangan yang masih dominan dengan sistem konvensional. Demikian juga dengan SDM khsusunya bidang ekonomi yang belum memadai ditambahkan diperbolehkannya SDM asing masuk.
 
“Nasabah perbankan konvensional mayoritas masih kaum muslim sementara untuk SDM sebenarnya Umat Islam masih bisa bersaing bahkan lebih unggul. Namun karena kuantitasnya sedikit maka belum mampu mewarnai sistem perekonomian secara menyeluruh,” imbuh Januar yang juga Ketua ICMI Kota Bandung ini.
 
Meski demikian Januar mengajak umat Islam tidak perlu pesimis dan sebaliknya harus terus optimis untuk mewujudkan ekonomi keumatan tersebut. Menurutnya peluang itu masih terbuka lebar dan luas untuk menguasai ekonomi nasional, regional bahkan global. Bertambahnya jumlah muslim dunia dari tahun ke tahun menjadi peluang nyata sebagai pangsa pasarnya.
 
“Menjadikan spririt 212 kemarin sebagai momentum kebangkitan, persaudaraan dan kemajuan bersama untuk mewujudkan ekonomi keumatan yang mempunyai cakupan lebih luas dan komprehensip dibanding ekonomi kapitalis. Semangat umat Islam untuk mengembangkan bisnis syariah seperti perbankan, asuransi, hotel hingga mini dan supermarket layak untuk didukung bersama,”ujarnya.
 
Namun ia juga mengingatkan umat Islam untuk membangun dan mengembangkan industri hulu yang mampu menghasilkan produk-produk halal untuk kemandirian sehingga warung dan supermarket tersebut juga diisi oleh produk dari kaum muslimin sendiri. Sebab, sambungnya, sebagaimana diketahui saat ini jaringan produksi dan distribusi masih dikuasai dan dimiliki mereka.
 
rep: suwandi
red: shodiq ramadhan
0 Komentar