Fenomena Om Telolet Om: Teguran untuk Orangtua

Fenomena om telolet om, anak-anak meminta bus untuk membunyikan klakson yang berbunyi telolet
 
Adalah keliru bila ada yang mengaitkan fenomena Om Telolet Om dengan ajaran/keyakinan Yahudi atau apa pun itu sebagai penyimpangan aqidah Islam. Mohon maaf, ini terlalu lebay. Terlalu memaksakan. Betul, bisa jadi bila dibahas dalam perspektif Hindu dan Yahudi akan sangat bertentangan dengan Islam. Tapi pembahasan Om Telolet Om sejauh ini bukan berasal dari sentimen agama, melainkan dari perkembangan sosial-kemasyarakatan.
 
Om Telolet Om hanya fenomena sosial di masyarakat, terutama di dunia anak, yang diakibatkan oleh hilangnya lapangan-lapangan permainan tradisional sebagai dampak dari pembangunan, dan perkembangan dunia informasi-telekomunikasi-transportasi yang tidak bisa dibendung.
 
Lihat saja latar belakang kisah unik ini hingga menjadi viral seperti sekarang. Anak-anak pecandu bunyi klakson bis dan truk itu yang awalnya berasal dari pinggiran kota, pada mulanya hanya sekadar bermain di pinggir jalan tol untuk melihat truk-truk dan bis besar yang mereka kagumi, yang kadang sesekali membunyikan klakson yang seolah berbunyi "telolet telolet". Lama kelamaan menjadi kesenangan baru untuk mereka, bahkan ada yang menuliskannya di kertas/karton "Om Telolet Om" dan membentangkannya di jalan ketika mereka mengerjakan hobi baru mereka itu. Om, adalah panggilan kepada paman, orang dewasa laki-laki yang sudah menjadi sapaan umum di masyarakat, meskipun berasal dari bahasa Belanda penjajah Indonesia dulu.
 
Dalam perkembangannya, hp android yang begitu mudah dimiliki saat ini melengkapi hobi tersebut. Anak-anak SD sekarang rata-rata sudah punya hp android. Walaupun hanya buatan Cina dengan harga Rp 100-200 ribu itu cukup mendukung hobi mereka. Maka mulai direkamlah aksi truk dan bis-bis besar berklakson unik itu yang kemudian diunggah ke media sosial. 
 
Dari kegiatan yang mereka lakukan itu, setidaknya bisa disimpulkan bahwa pertama, hobi sebagian anak-anak itu adalah mengoleksi gambar bis-bis dan truk-truk besar yang berbentuk unik, canggih, dan mewah, tak bedanya dengan sedan atau kendaraan lux lainnya. Kedua, truk dan bis tersebut ternyata juga memiliki klakson yang unik (konon di luar klakson standar, jadi punya dua klakson), yang akhirnya membuat mereka jadi hobi mengabadikan suaranya itu. Agar gambar bis-truk dan klakson telolet itu bisa diabadikan bersamaan maka merekamnya dengan kamera android adalah cara yang praktis buat mereka.
 
Harus difahami, bahwa memang ada kecenderungan anak yang senang dengan sesuatu, yang bisa jadi aneh menurut orang dewasa. Seperti kegemaran pada otomotif, salah satunya pada bis dan truk besar beserta klaksonnya. Jangankan anak-anak, saya punya mahasiswa yang kini sudah sarjana juga demikian. Sampai-sampai foto profil WA-nya adalah gambar bis impiannya. Ya semoga terwujud suatu saat nanti impiannya menjadi pengusaha bis transportasi. 
 
Bukan termasuk penyimpangan. Hanya saja perlu dianalisis dampak negatif berikut solusi agar hobi tersebut tetap aman dan edukatif.
 
Sisi positifnya adalah mereka dapat menikmati masa kanak-kanak yang sarat dengan bermain; mengenal dunia otomotif secara langsung; merangsang kreativitas; serta membangun semangat kesabaran, perjuangan, dan jiwa kompetitif-sportif.
 
Lalu, apa dampak negatifnya?
 
1. Keselamatan jiwa terancam.
Anak-anak yang hobi mengoleksi rekaman audio dan video Telolet, karena keasyikan seringkali lupa bahwa mereka ada di jalan raya atau terminal, yang mobilitas kendaraannya cukup tinggi sehingga rawan kecelakaan.
 
2. Lupa belajar, sekolah, dan mengaji.
Biasanya mereka melakukan hobi itu sepulang sekolah, sampai menjelang malam. Bahkan bila libur sekolah mereka bisa melakukannya dari pagi hari. Akhirnya mereka bukan hanya lupa belajar, lupa makan-mandi, malas sekolah, tapi sampai meninggalkan kewajiban mengaji. Ini bahaya dunia-akhirat tentunya.
 
3. Kecanduan.
Tak jarang karena kegemaran mengejar bis-truk yang bertelolet itu mereka sampai hujan-hujanan basah kuyup, tapi mereka seolah tak peduli. Ada pula yang menyengaja datang ke terminal jauh-jauh tanpa tujuan selain dari untuk mengabadikan Telolet.
 
Dilihat dari dampak positif dan negatifnya, sebenarnya bisa dikatakan imbang. Artinya, bisa baik atau menjadi buruk tergantung orangnya. Solusinya, orangtua dan guru wajib segera turun tangan mendampingi dan memfasilitasi hobi unik mereka. Buatkan jadwal secara resmi kunjungan ke terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, dalam bentuk studi lapangan (field research) yang didampingi langsung oleh orangtua, guru, dan petugas terkait. Berikan mereka literatur, sumber-sumber bacaan dan video tentang pembelajaran transportasi dan otomotif. Atau ajak langsung mereka menaiki alat-alat transportasi publik secara berkala, lalu arahkan mereka membuat karya dalam bentuk fotografi, videografi, dan tulisan pengalaman pribadinya. Dan, orangtua serta guru jangan lupa mengajari-memahamkan-mengasah empati mereka bahwa ada hal lain di luar sana yang saat ini tengah terjadi dan membutuhkan perhatian lebih serius serta prioritas dibanding hobi Telolet mereka, yaitu tragedi pembantaian anak-anak seusia mereka yang tak berdosa di antaranya di Palestina, Aleppo-Suriah, dan Rohingya-Myanmar.
 
Jadi, dudukkan perkara Telolet ini secara proporsional saja. Bahwa hal ini bisa jadi teguran untuk orangtua dan guru agar lebih peduli dan punya waktu bersama mereka. Polisi dan pihak terkait juga tak perlu berlebihan merespon fenomena ini. Bila memang perlu ditegur, tempuh prosedurnya. Karena bisa jadi "Om Telolet Om" berfungsi layaknya klakson sebagai pengingat, bermakna upaya penyadaran kepada masyarakat agar selalu mawas diri, dan tidak terpropaganda dari pengalihan isu kasus-kasus yang tengah terjadi saat ini.
 
Dari fenomena "Om Telolet Om" semoga kita tidak lupa untuk selalu meneriakkan "Om Penjarakan Ahok Om", "Om Tolong Palestina-Suriah-Rohingya Om", "Om Waspada PKI Om", "Om Jangan Biarkan Cina Jajah Indonesia Om", "Om Ayo Kembali Kepada Islam Om", dst.
 
 
Anto Apriyanto, M.E.I.
Ketua Harian Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (KONEKSI), 
Pemerhati Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi.
 

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar